Splicing pada proses manufaktur

Setiap industri manufaktur yang memakai bahan baku lembaran berupa roll pasti membutuhkan proses splicing. Industri manufaktur yang memakai bahan baku lembaran dalam bentuk roll antara lain: industri kertas (kertas putih, coklat, tissue), flexible packaging (flexographic, rotogravure), kertas karton, gypsum berlapis kertas, makanan dengan kemasan fleksibel.

Proses splicing atau penyambungan dibutuhkan ketika sebuah roll yang sedang diproses akan habis sehingga roll baru harus disambungkan dengan roll yang sedang berjalan tersebut. Agar produktivitas tidak terganggu maka proses penyambungan harus dilakukan tanpa menurunkan kecepatan atau malah menghentikan proses (zero speed). Agar splicing pada kecepatan penuh bisa dilakukan maka dibutuhkan mekanisme auto-splicer dan double tape untuk menyambung kedua lembaran dari roll berbeda tersebut.

Karena double tape memiliki kekuatan adesi yang berbeda-beda maka harus diuji terlebih dahulu kekuatan adesinya terhadap jenis material yang sedang diproduksi. Material seperti kertas, polyester biasanya lebih mudah menempel ke double tape dibanding polietilen atau polipropilen. Beberapa jenis double tape sengaja dirancang agar mudah menempel ke material polietilen dan polipropilen.

Kegagalan proses splicing bisa disebabkan oleh kesalahan pemilihan double tape, lebar tape yang terlalu sedikit, pemasangan yang salah, kualitas double tape yang tidak konsisten, dan lain-lain. Kegagalan proses splicing pada industri manufaktur berkecepatan tinggi tidak ditoleransi sama sekali. Sebagai contoh, pabrik kertas dengan kecepatan produksi kertas 1000 meter/menit, kegagalan proses splicing akan mengakibatkan downtime selama 25 – 30 menit. Downtime selama itu akan mengakibatkan kerugian setara 1 jumbo roll sepanjang 25000 – 30000 meter

Splicing pada industri flexible packaging (sumber: 3m.com)

Pada industri flexible packaging dengan metode rotogravure berkecepatan 300 meter/menit kegagalan splicing akan mengakibatkan downtime sekitar 10 – 20 menit. Artinya selama selang waktu tersebut terjadi kegagalan memproduksi sebanyak 3000 – 6000 meter.

Pada industri kertas karton (corrugated paper board) kecepatannya tidak terlalu tinggi akan tetapi pada proses produksinya terdapat proses pemanasan dengan uap sampai suhu 120 derjad Celsius. Maka double tape yang dipakai pada proses splicing selain harus kuat menyambung lembaran kertas juga harus tahan suhu tinggi.

Splicing pada industri kertas karton (corrugated paper board)

Selain downtime, kegagalan splicing akan menambah waste dari proses produksi karena material yang terproses tidak sempurna harus dibuang. Panjang material yang harus dibuang bervariasi tergantung dari panjang stasiun pada proses produk si dan lokasi terjadinya kegagalan splicing.

Advertisements

Kekuatan lem epoxy (epoksi)

Jika pekerjaan anda berhubungan dengan proses assembly/perakitan di industri, saya sarakan anda untuk mengunduh (download) Solutions for Your Assembly Challenges – 3M Industrial Adhesives & Tapes – Design & Production Guide.

Ebook tersebut akan memberikan panduan untuk mendapatkan solusi terbaik dari beberapa jenis perakitan yang memakai adhesive, seperti panel to frame, stiffener to panel, small joint assemblies, large surface lamination, mounting and trim attachment, dll.

Jika kita mencari adhesive paling kuat baik itu untuk menahan beban komponen itu sendiri (dead load) ataupun beban dari luar (load bearing) maka kita akan mendapatkan beberapa jenis toughened epoxy adhesive. Jenis lem epoxy yang selama ini dikenal rapuh dan tidak tahan beban kejut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ketangguhannya terhadap beban kejut menjadi sangat baik.

3M™ Scotch-Weld™ Toughened Epoxies

Kita ambil contoh DP420NS yang memiliki overlap shear strength sampai 4500psi pada suhu 24°C. Jika kita konversi ke satuan metrik maka akan didapatkan angka 316kg/cm². Artinya, ketika kita memiliki dua komponen yang kita rakit dengan metode single lap joint memakai adhesive ini ia akan mampu menahan beban (geser) 316 kilogram per sentimeter.

single lap joint

Single lap joint

Maka anda tidak perlu heran ketika lem epoksi ini mampu menahan beban seberat 14.550lb pada sebuah sambungan hook yang tidak terlalu lebar seperti pada video ini, Epoxy Adhesive Strength Demonstration.

Lem epoksi menahan beban 6,5 ton

Lem epoksi (3M DP420NS) menahan beban 6,5 ton

Yang harus diperhatikan adalah overlap shear strength dari sebuah adhesive berbeda-beda tergantung dari jenis bahan yang di-bonding dan perlakuan permukaan yang diberikan kepada bahan tersebut. Tabel di bawah ini diambil dari technical data sheet 3M DP420NS yang bisa diakses dari situs web 3M.

3M DP420NS OLS Table

Kekuatan geser dari beberapa jenis logam yang dilem dengan epoxy

Lapar mata versus lapar perut

Kemarin, 9 September 2017, saya mengikuti Monash University Doctoral Program Information Day di Hotel Fairmont, Jakarta. Saat lunch break saya memutuskan sholat dahulu karena waktu lunch break hanya 30 menit. Dengan dua lajur antrian dan peserta yang banyak saya pikir akan memakan waktu lama sehingga lebih efektif jika saya sholat dahulu dan mengantri ketika sudah sepi.

Ketika selesai sholat ternyata hidangan makan siang sudah habis. Saya pun mencari-cari menu yang tersisisa. Akhirnya dapat lah beberapa jenis buah dan dessert. Masih beruntung setelah buah dan dessert disantap ada sup asparagus tersisa.

Yang menyedihkan ketika saya berkeliling mencari-cari makanan yang masih tersisa, banyak piring teronggok dengan sisa-sisa makanan yang tidak termakan. Bahkan beberapa diantaranya adalah potongan lauk-pauk yang nilainya lebih berharga dibanding butiran nasi. Padahal sebutir nasi pun tidak boleh kita sia-siakan.

Inilah kebiasaan buruk orang Indonesia. Suka menyia-nyiakan dan tidak menghabiskan makanan yang ia ambil. Matanya selalu lebih lapar dibanding perutnya. Artinya porsi makanan yang diambil selalu lebih banyak daripada daya tampung perutnya karena menuruti mata(nafsu)nya.

monash university doctoral program information day

Selama ini yang selalu saya lihat adalah di jamuan makan pada acara-acara perkawinan dimana tamunya sangat beragam. Nahh ini, yang makan adalah calon-calon doktor dan master, orang-orang terdidik. Ternyata mentalnya sama saja dengan orang-orang awam dan kebanyakan. Boros!

Beragam fungsi dari sebuah tape (selotip/lakban)

Di era pasar elektronik/e-commerce, orang-orang semakin sering berbelanja dari penjual-penjual yang sebagian besar berbeda lokasi sehingga barang-barang yang dibeli harus dikirim dengan kurir. Barang-barang tersebut tentu harus dibungkus dengan aman agar tidak rusak dan selamat dari tangan-tangan usil. Pembungkus yang seringkali dipakai (bagian terluar) adalah selotip atau lakban.

Kenapa disebut selotip? Karena dulu bahan utama dari lakban ini adalah cellophane. Cellophane tape kemudian disingkat menjadi cello-tape dan ketika diIndonesiakan menjadi selotip. Akan tetapi selotip atau lakban yang kita kenal sekarang tidak lagi memakai bahan cellophane karena terlalu mahal. Selotip atau lakban (terutama yang dipakai untuk proses pengemasam/pengepakan) saat ini terbuat dari bahan polipropilen (PP).

OPP dan BOPP

OPP atau Oriented Polypropylene merupakan pengembangan dari Polypropylene dimana serat atau arah rantai polimernya dibuat searah dengan gulungan (lateral) sehingga tidak mudah putus saat dipakai untuk pengemasan dan pengepakan. BOPP atau Biaxially-Oriented Polypropylene merupakan pengembangan lebih lanjut dari OPP dimana arah seratnya tidak hanya lateral tetapi juga axial sehingga didapat tape yang tidak mudah putus dan robek.

Masking Tape

Selain dari bahan OPP yang sering kita jumpai tape/single tape juga dibuat dari berbagai macam bahan lainnya tergantung kebutuhan. Sebagai contoh masking tape yang dipakai pada proses pengecatan bahannya terbuat dari kertas, baik itu crepe (berkerut) ataupun flat (rata). Ketika masking itu diperlukan pada proses pengecatan dengan pengeringan memakai oven bersuhu tinggi dimana kertas tidak bisa bertahan maka dibuatlah masking tape dengan bahan poliester (PET), glass cloth atau bahkan poliamida (PI).

Masking tape pada proses pengecatan (sumber: 3M Masking and Surface Protection)

Metal Foil Tape

Single tape dari bahan logam biasa dipakai untuk proses masking yang harus memiliki ketahanan terhadap bahan kimia. Logam aluminium banyak dipakai untuk fungsi ini. Salah satu pemakaiannya adalah masking untuk pesawat pada proses paint stripping (pengupasan cat di bodi pesawat). Paint stripping pada pesawat memakai bahan kimia yang disemprotkan. Agar kaca pesawat tidak rusak maka kaca-kaca tersebut ditutup dengan Aluminum Foil Tape.

Selain untuk masking, aluminum foil tape banyak dipakai untuk aplikasi heat shielding & conduction (pemantul dan penghantar panas), light reflection (pemantul cahaya) dan vibration & sound dampening (peredam getaran dan suara) dengan prinsip constraint layer damper.

Selain aluminium, jenis logam lain yang banyak dipakai untuk single tape adalah tembaga dan baja tahan karat. Tembaga (copper) biasa dipakai untuk shielding atau perisai agar gelombang elektromagnetik tidak bocor atau menyebar. Sedangkan baja tahan karat biasa dipakai untuk aplikasi perlindungan korosi.

Ragam jenis bahan untuk membuat tape bisa dilihat pada tabel di bawah sekaligus menunjukkan fungsinya.

Bahan pembuat tape/tape backing materials (sumber: 3M Masking and Surface Protection)

Pemborosan dari sebutir nasi

Menurut reference.com berat sebutir beras adalah 1/64 gram atau 0.015gram. Jika ada setengah milyar manusia yang meninggalkan sebutir nasi setiap kali makan, dan ia makan nasi tiga kali sehari maka akan ada 0.015 gram x 500.000.000 x 3 = 75.000.000 gram nasi terbuang setiap hari. 75.000.000 gram = 75.000 kilogram = 75 ton.

Jika harga 1 kilogram beras = 10.000 rupiah maka nilai pemborosan perhari adalah 75.000 x 10.000 = 750.000.000 rupiah. Hampir satu milyar rupiah !!!

Pada kenyataannya, banyak orang yang menyisakan makanannya lebih dari sebutir nasi. Puluhan bahkan mungkin ratusan butir nasi yang tidak ia makan dan terbuang menjadi sampah.

Tak sebutir nasi pun tersisa

Sungguh mulia Rasulullah saw yang empat belas abad silam mengajarkan kita agar tidak menyia-nyiakan harta (termasuk makanan) dan selalu menghabiskan makanan yang kita ambil.

Sebagian orang Jawa menganggap bahwa orang yang menghabiskan makanan di piringnya adalah orang yang rakus. Ini adalah anggapan yang teramat sangat keliru dan harus diberantas. Saya pun besar di lingkungan orang-orang yang berpandangan seperti itu. Akan tetapi setelah dewasa saya buang jauh-jauh pandangan keliru tersebut. Hasilnya? Bisa dilihat gambar piring di atas. Gelas di kanan yang masih tersisa sedikit teh adalah bekas orang lain. Gelas saya tak menyisakan teh sedikitpun.

Di bawah ini adalah contoh kebiasaan buruk orang Indonesia saat makan. Boros! Tidak tuntas! Bisa jadi saat bekerja pun pekerjaannya tidak tuntas.

boros makanan

Serba-serbi structural adhesives (lem epoxy, lem acrylic)

Lem atau adhesive menawarkan kemudahan proses bonding atau pengeleman ketika kita bekerja dengan bahan-bahan yang tipis dan berbeda jenis. Saat kita bekerja dengan bahan lembaran plastik kita bisa memakai las ultrasonik untuk menyatukan beberapa komponen akan tetapi ia hanya bisa menyatukan bahan sejenis. Jika di dalamnya terdapat bahan yang berbeda maka las ultrasonik tidak bia digunakan.

Lem atau adhesive mengisi kekurangan yang terdapat pada proses las ultrasonik. Selain tidak memerlukan investasi peralatan yang mahal, lem atau adhesive bisa menyatukan atau mengikat berbagai jenis bahan berbeda, apakah logam dengan kaca, logam dengan plastik, plastik dengan kayu ataupun sesama plastik dengan jenis berbeda (misal PVS dengan ABS, ABS dengan PC, dlsb).

Lem atau adhesive bisa digolongkan menjadi structural adhesive ketika Overlap Shear Strength-nya di atas 1000psi. Artinya 1 inci persegi (6,45 sentimeter persegi) mampu menahan beban 1000 pon (450 kilogram). Beberapa jenis structural adhesive bahkan bisa mencapai 3600psi.

Structural adhesive biasanya terdiri dari dua komponen, biasa disebut komponen A dan komponen B. Komponen A biasanya merupakan base/bahan dasar lem. Komponen biasanya merupakan hardener/bahan pengeras. Adhesive akan mulai bekerja ketika base dan hardener bercampur. Pencampuran bisa dilakukan secara manual, memakai static mixing nozzle atau mixing equipment untuk pekerjaan dalam volume besar.

Beberapa istilah yang terkait structural adhesive al:

Working Life: jangka waktu sebelum adhesive yang sudah bercampur menjadi keras (adhesive masih cukup encer) di dalam nozzle sehingga masih bisa di-dispense/dikeluarkan

Pot Life: jangka waktu saat viskositas adhesive yang sudah bercampur menjadi dobel, misal viskositas awal adalah 15.000 dan menjadi 30.000 dalam waktu 5 menit maka Pot Life adalah 5 menit.

Time to handling strength: jangka waktu yang diperlukan untuk melepas jig/clamping yang digunakan untuk memposisikan atau menjepit komponen setelah proses pengeleman atau definisi lain ketika overlap shear strength mencapai 50psi.

Curing Time: waktu yang diperlukan bagi adhesive untuk mencapai kekuatan maksimal

Rate of Strength Build

Rate of Strength Build. Curing Time Acrylic Adhesive biasanya lebih cepat daripada Epoxy Adhesive

Gagal interview karena bahasa Inggris – Pentingnya bahasa Inggris bagi freshgraduate

Freshgraduate minim bahasa Inggris

Screenshot di atas adalah aktual. Curhat dari seorang freshgraduate yang gagal interview karena interview memakai bahasa Inggris sedangkan ia menawar agar dilakukan dengan bahasa Indonesia.

Jika kasus tersebut terjadi di tahun 90-an atau awal tahun 2000-an masih bisa dimaklumi. Akan tetapi jika lulusan tahun S1 tahun 2017 lalu tidak percaya diri saat diinterview dengan bahasa Inggris tentu ada yang salah. Bahkan seandainya para lulusan S1 itu bekerja di perusahaan lokal pun kemampuan berbahasa Inggris tetap dibutuhkan.

Perusahaan-perusahaan lokal kini banyak berhubungan dengan pelanggan di luar negeri. Rantai pemasok banyak melibatkan supplier dari luar negeri. Mesin-mesin canggih kebanyakan masih disuplai dariluar negeri dimana manual dan panduannya memakai bahasa Inggris. Bahkan beberapa perusahaan lokal merekrut tenaga ahli dari luar negeri. Tanpa kemampuan berbahasa Inggris mustahil kita akan survive di lingkungan seperti itu.

Di era ponsel cerdas, belajar bahasa Inggris bukan hal mewah ada beribu ragam aplikasi yang menawarkan pelajaran bahasa Inggris dengan gratis tis..tis..!! Bahkan aplikasi tersebut di dalamnya memakai bahasa Indonesia saat menjelaskan konsep pelajarannya, misalnya Hello English. Begitu juga Youtube, laman web tempat berbagi video menyediakan fasilitas subtitle sehingga ketika kita mendengar dialog dalam bahasa Inggris kita bisa tahu cara penulisannya. Meskipun tidak 100% persen akurat tetapi sangat membantu bagi kita-kita yang belum canggih pendengaran bahasa Inggrisnya, termasuk saya.

Cara lain adalah dengan membaca majalah dan buku berbahasa Inggris. Ini adalah cara yang saya lakukan mulai dari awal kuliah sampai saat ini untuk menambah kosakata bahasa Inggris. Apakah waktu kuliah saya masuk golongan mahasiswa kaya sehingga bisa membeli buku-buku dan majalah-majalah berbahasa Inggris? Tidak. Saya mahasiswa pas-pasan yang menabung uang untuk membeli buku-buku dan majalah-majalah bekas berbahasa Inggris.

Dulu di kota Malang ada “Blok M” lapak-lapak penjual buku-buku dan majalah-majalah bekas yang berlokasi di Jalan Majapahit. Di tempat itulah saya biasa membeli majalah Readers Digest berbahasa Inggris. Sebenarnya itu adalah majalah masih baru yang tidak laku terjual kemudian dijadikan majalah bekas dengan cara dipotong pojoknya atau disobek sampulnya. Bodo amat! Yang penting isinya 🙂

Cara lain mendapatkan bahan bacaan berbahasa Inggris adalah dengan rajin mendatangi bookfair atau pekan buku. Biasanya di situ ada booth Periplus yang menjual buku-buku berbahasa Inggris dengan diskon besar-besaran bahkan banyak buku hanya seharga sebungkus Nasi Padang. Bayangkan pengetahuan dan ilmu yang berharga hanya dihargai sebungkus Nasi Padang.

Saya bukanlah termasuk kategori mahasiswa yang canggih dan bagus secara akademik. Saya merasa keberhasilan saya bekerja di perusahaan multinasional salah satunya karena kemampuan bahasa Inggris saya. Saya melalui wawancara dengan percaya diri karena yakin dengan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki. Apakah bahasa Inggris saya nyerocos cas cis cus? Tidak juga. Akan tetapi saya memiliki kosakata setidaknya untuk menjawab pertanyaan interviewer dan kosakata untuk mengemukakan gagasan atau pendapat saya.

Di perusahaan saat ini (dari Amerika Serikat), sebenarnya posisi yang saya lamar adalah Sales Engineer. Saya gagal mendapatkan posisi tersebut karena tidak memiliki sales background. But the interviewer told me that he liked my English and he offered me another position as technical service engineer. Karena si interviewer senang dengan bahasa Inggris saya (I made a good impression) dia menawarkan posisi lain di perusahaan. Alhamdulillah saya mendapatkannya.

Buku-buku murah berbahasa Inggris di Toko Buku Periplus