Group yang selalu benar

Siapakah group yang selalu benar? Group sebelah.

Kenapa bisa begitu? Karena orang-orang dengan gampangnya melakukan “copas dari group sebelah” tanpa pernah melakukan verifikasi kebenaran informasi atau isi tulisannya.

Bukankah ada smartphone yang bisa membantu? Pemakai smartphone belum tentu cukup cerdas untuk menggunakan smartphone-nya untuk menyaring informasi.

Bukankah google sudah menjadi default mesin pencari di sebagian besar smartphone? Sebagian besar orang terlalu malas untuk sekedar mengetik beberapa kata kunci dan menekan tombol Enter. Apalagi memilah-milah dan menganalisa hasil pencarian tersebut.

Pernahkah menemukan “copas dari group sebelah” lalu ditambahkan dengan “menurut analisa dan verifikasi yang saya lakukan, informasi ini bisa dipercaya“?

Pernahkan terpikir, ketika kita membagi informasi yang salah atau hoax, bisa beurujung fitnah atau celaka bagi orang yang mempercayai informasi tersebut?

Advertisements

Yang kita butuhkan adalah solusi. Bukan sekedar produk

Ini cerita tentang sebuah industri manufaktur yang sedang mencari solusi untuk merakit dua buah komponen menggunakan adhesive/lem. Yang dibutuhkan adalah adhesive yang cepat kering dan memiliki toughness dan peel strength yang bagus.

Kenapa industri tersebut harus beralih ke adhesive untuk merakit komponennya? Karena tuntutan tren dan teknologi yang membuat komponen-komponen yang harus dirakit menjadi semakin tipis dan luas bidang kontak untuk proses perakitan menjadi semakin sempit sehingga tidak bisa lagi dirakit dengan double tape.

Perusahaan saya menawarkan solusi menggunakan PUR (polyurethane reactive) adhesive yang memiliki karakteristik seperti yang diinginkan customer di atas.  Aplikasi PUR adhesive tersebut harus menggunakan dispensing machine dan kami menyarankan agar memakai produk dari partner kami yang sudah berpengalaman dalam liquid dispensing machine dan telah berkolaborasi dengan perusahaan kami dalam waktu yang lama.

Merasa bahwa harga yang ditawarkan partner kami terlalu mahal mereka berusaha mendapatkan mesin dari China. Bahkan tawaran demo dan trial gratis dari kami tidak mereka manfaatkan dengan alasan mereka sudah terbiasa dan berpengalaman dengan berbagai mesin otomasi. Begitu juga berbagai opsi mesin dari partner kami dengan harga yang lebih kompetitif mereka abaikan.

Karena secara prinsip adhesive tersebut bisa dipakai menggunakan mesin apa saja asal sesuai kami memberi kebebasan kepada mereka. Bahkan kami memberikan beberapa sample untuk dicoba pada mesin yang akan mereka beli.

Selang beberapa minggu tiba-tiba mereka kembali mengontak partner kami dan meminta penawaran. Beberapa hari kemudian bahkan mereka sudah mengeluarkan order pembelian mesin (PO).

Konon harga mesin dari China yang murah tersebut adalah harga mesin saja. Sementara untuk training mereka harus mengeluarkan biaya lagi. Tidak ada distributor atau perwakilan di Indonesia. Ketersediaan suku cadang juga mengkhawatirkan karena mereka bukan pemain global dan order suku cadang harus ditujukan ke China.

Dari kasus ini bisa kita simpulkan bahwa seringkali yang kita butuhkan bukan sekedar produk akan tetapi juga solusi dan layanan purna jual. Untuk apa memiliki sebuah produk jika untuk memakainya kita mengalami kesulitan karena harus belajar sendiri. Ataupun jika mereka memberikan fasilitas training karena tidak ada partner lokal maka akan ada kendala bahasa? Bagaimana jika tiba-tiba ada kerusakan dan membutuhkan sparepart? tentu akan lebih mudah jika ada support dari lokal untuk mengatasi hal itu dibanding support dari luar negeri yang lead time-nya juga lama.

Perbedaan teh Jawa dengan teh Sunda

Biasanya jika seseorang di Jatim dan Jateng menawarkan dan menghidangkan teh maka yang dimaksud adalah teh manis. Sedangkan di Jabar, jika seseorang menawarkan dan menghidangkan teh maka yang dimaksud adalah teh tawar. Bagi orang-orang yang merantau dari Jatim dan Jateng ke Jabar untuk pertama kali pasti akan mengalami hal ini saat makan di Warung Tegal maupun Warung Sunda. Maksud hati ingin mendapatkan teh manis, yang dihidangkan malah teh tawar 🙂

Penasaran dengan hal tersebut saya menduga-duga apakah ini disebabkan oleh (dulu) perbedaan kemudahan distribusi gula dan populasi pabrik gula di masing-masing daerah. Jadi premisnya adalah karena di Jateng dan Jatim gula lebih mudah didistribusikan dan pabriknya lebih banyak maka gula lebih mudah didapatkan sehingga dari jaman dahulu orang terbiasa menambahkan gula ke dalam teh seduh.

Setelah bertanya ke om Google dengan kata kunci “peta lokasi pabrik gula di indonesia” kemungkinan besar premis saya tadi ada benarnya. Dari situs http://pabrikgula-baru.blogspot.sg – milik orang yang berkecimpung di industri gula, ternyata pabrik gula di Indonesia memang terkonsentrasi di Jatim dan Jateng.

Peta lokasi pabrik gula di Pulau Jawa

Peta lokasi pabrik gula di Pulau Jawa

Berbekal peta di atas, kemungkinan di jaman dulu gula lebih sulit didapatkan atau harganya cukup mahal di Jabar sehingga orang lebih memilih untuk meminum teh tawar. Kebiasaan tersebut terbawa sampai saat ini.

Hadir sepenuh hati

Membuat appointment dengan customer tidak selalu mudah. Saat ini semua orang dituntut untuk bergerak cepat dan melakukan lebih banyak pekerjaan sehingga orang-orang menjadi lebih sibuk dan fokus pada pekerjaan masing-masing. Karena itu momen pertemuan dengan customer tidak boleh kita sia-siakan. Apalagi sampai kita anggap kurang penting dengan melakukan hal-hal yang menurut kita produktif/multitasking tetapi menimbulkan kesan di mata customer bahwa kita tidak fokus pada meeting, apalagi sampai menimbulkan kesan kita lebih mementingkan pekerjaan atau agenda kita sendiri.

Laptop atau tablet sebaiknya tidak kita sentuh kecuali kita sedang memberikan presentasi, memaparkan data atau membuat minute of meeting. Di luar hal itu sebaiknya laptop dan tablet kita pinggirkan. Membalas email bisa kita lakukan setelah kita selesai meeting dengan customer, walaupun aktivitas tersebut hanya beberapa menit saja. Apalagi sampai ada kasus mengerjakan materi presentasi internal saat meeting di meja customer maka ini fatal sekali.

Ringtone dan notifikasi sebaiknya kita off-kan/silent. Bunyi apapun yang berasal dari gadget dan perangkat elektronik bisa merusak mood dan suasana meeting. Jika ada panggilan masuk sebaiknya diabaikan. Kita telepon balik saat kita selesai meeting.

Ada salah satu sales senior yang bercerita ke saya. Setelah selesai meeting ia ditelepon oleh si customer, meeting berikutnya ia tidak mau bertemu dengan supervisornya/jangan lagi membawa supervisornya karena pada saat meeting ia lebih sibuk dengan laptopnya daripada menyimak paparan dan presentasi si customer.

Hadir Sepenuh Hati

Profesi bernama Application Engineer, Technical Service Engineer dan Technical Support Engineer

Sebagian dari kita pasti akrab dengan istilah Customer Journey Mapping. Ini adalah istilah yang menggambarkan lika-liku perjalanan customer saat memilih, membeli dan memakai sebuah produk. Secara garis besar, customer journey mapping dibagi dalam tiga tahap yaitu Pre-purchase, Purchase dan Post-purchase.

Customer journey mapping

Pada tahap Pre-purchase,  customer  menemukan kebutuhan akan sebuah solusi kemudian ia melakukan riset untuk mencari solusi tersebut. Setelah itu ia akan melakukan evaluasi dan seleksi terhadap beberapa solusi yang ia dapatkan.

Pada tahap Purchase, customer melakukan pembelian dan menerima pengiriman produk/solusi.

Pada tahap Post-purchase, customer mulai memakai produk/solusi, ia menerima dukungan dari si penyedia produk/solusi dari distributornya atau pihak ketiga yang ditunjuk. Jika ia puas maka ia akan melakukan reorder.

Dari pemahaman tentang customer journey mapping ini kemudian keluarlah profesi yang bernama Application Engineer (AE), Technical Service Engineer (TSE) dan Technical Support Engineer. Application Engineer bekerja pada tahap Pre-Purchase. Ia membantu customer memahami exact needs-nya, memberikan alternatif solusi dan membantu melakukan serangkaian pengujian atau trial untuk membuktikan efektivitas sebuah solusi. Sementara itu Technical Service Engineer dan Technical Support Engineer bekerja pada tahap Post-purchase. Ia memberikan dukungan pada customer berupa trouble-shooting, pelatihan pemakaian produk, perbaikan proses dan investigasi terhadap suatu masalah yang terkait dengan pemakaian produk.

Pada sebagian perusahaan, peran AE dan TSE ini disatukan dan biasa disebut Application Engineer saja dengan tambahan peran sebagai Technical Service Engineer.

Cara menguji daya rekat (kekuatan kupas/peel strength) double tape

Desain sambungan atau rakitan yang akan menahan beban tarik(tensile), geser (shear) dan tekan (compression) pasti lebih kuat dibanding beban belah (cleavage) atau kupas (peel). Contoh beban belah adalah gaya yang kita berikan ketika kita membelah bambu. Contoh beban kupas adalah saat kita mencoba mengupas sticker yang tertempel pada suatu permukaan. Gambar di bawah melukiskan konsep kelima beban atau gaya tersebut dimana beban tekan (compression) adalah kebalikan dari beban tarik (tensile).

Gambar beban tarik, geser, belah dan kupas (sumber: 3M Structural Adhesives Design Guide 2017)

Diantara kelima beban tersebut kekuatan terendah adalah saat sambungan atau rakitan terkena beban kupas karena yang menahan adalah berupa garis, sedangkan keempat lainnya berupa luasan sambungan atau rakitan. Dengan konsep tersebut maka pengujian daya rekat adhesive memakai peel strength berdasarkan standar ASTM D3330. Artinya, ketika sebuah double tape memiliki peel strength yang tinggi maka kekuatan tarik tekan dan geser-nya pasti lebih tinggi lagi.

Di bawah ini adalah contoh pengujian peel strength dari dua jenis double ke permukaan ABS hasil dari proses injection molding. Gambar paling kiri menunjukkan adhesion failure yang artinya double tape tidak menempel kuat ke permukaan ABS. Gambar di sebelah kanan menunjukkan cohesion failure yang artinya double tape sangat kuat menempel ke permukaan ABS sehingga ketika dikupas/di-peel sampai robek pada bagian backing/carrier dari double tape yang berupa foam.

Adhesion & cohesion failure pada pengujian kekuatan kupas (peel strength test) ASTM D3330.

Hasil dari uji kekuatan kupas (peel strength test) biasanya dinyatakan dalam satuan gaya dibagi lebar double tape, misalnya N/cm atau N/100cm. Agar hasil pengujian bisa direplikasi maka kondisi pengujian harus dicatat, misalnya uji kekuatan kupas dilakukan berapa menit setelah penempelan, dilakukan pada suhu dan kelembapan berapa. Paling penting adalah catatan mengenai selang waktu setelah penempelan karena adanya proses dwelling atau wet-out dimana adhesive akan semakin kuat menempel setelah selang waktu yang lama dari penempelan.

Hasil uji kekuatan kupas (peel strength test result)

Kunjungan dosen teknik mesin ke industri

Kemarin PT 3M Indonesia menerima kunjungan dari dosen-dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mereka ingin mengenal teknologi terbaru di bidang adhesives & tapes, automotives dan advance materials.

Dari 3M Indonesia kami menawarkan topik sebagai berikut: # Replacing mechanical fasteners by adhesives & tapes, #Noise vibration and harshness (NVH) solutions for automotives dan #Advance materials for lightweighting and processing.

Dari hasil presentasi dan diskusi kami mendapati banyak produk-produk/teknologi industri yang bisa dipakai untuk proyek penelitian. Ambil contoh proyek penelitian/kontes mobil hemat energi. Selama ini karena belum mengenal teknologi adhesive dan double tape mereka masih memakai traditional mechanical fasteners alias dilas, disekrup dan dibaut. Untuk tampilan eksterior dan juga beberapa komponen jelas solusi tersebut tidak efektif. Secara struktur lemah, secara estetika jelek dan menambah berat.

Padahal solusi dengan adhesive dan tape tersebut selama ini sudah diadopsi oleh beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Surabaya. Mereka pun berkomentar, “pantas saja mobil-mobil mereka sangat hemat”. Salah satunya karena mereka mengadopsi teknologi-teknologi terkini.

Kemudian ada lagi ide untuk memakai aditif ceramic glass atau glass bubbles untuk meningkatkan processability pengecoran logam aluminium. Pemakaian aditif tadi bertujuan agar aluminium cair lebih mudah mengisi celah-selah atau rongga cetak. Apakah efektif? Ini yang harus dicari jawabannya pada penelitian berikutnya.

Kesimpulannya, perguruan tinggi dan industri memang harus sering-sering berinteraksi. Kampus membutuhkan informasi teknologi terkini, industri membutuhkan mitra untuk meneliti beberapa aplikasi yang  seringkali terkendala terbatasnya sumber daya manusia. Sementara kampus bisa mengambil peluang ini untuk menjadikan penelitian aplikasi dari industri (minimal) sebagai topik skripsi/disertasi bagi mahasiswanya.

Kunjungan dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang ke PT 3M Indonesia