Senang melihat karyawan susah

“Bagaimana, Pak? Lebih mudah dan cepat kan dibanding metode sebelumnya?”

“Iya, Pak. Tapi nanti karyawan saya keenakan dong?” jawab manajer produksi.

Saya sempat kaget mendengar jawaban tersebut. Karena selama sepuluh tahun malang melintang di bagian riset dan pengembangan produk televisi dan kulkas, kami selalu dicekoki dengan konsep design for manufacturability – DFM. DFM bertujuan agar desain kita buat mudah diproduksi. Karyawan dan pekerja di bagian produksi tidak boleh susah dan kesulitan saat memproduksi barang yang kita desain. Haram hukumnya membuat pekerja bagian produksi susah.

Kenapa produksi harus dibuat gampang?

Satu, alasan produktivitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat maka produktivitasnya akan semakin tinggi. Produktivitas tinggi akan menurunkan biaya produk.

Kedua, alasan kualitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka peluang kesalahan dan kegagalan akan semakin kecil. Kasarnya dengan mata terpejam atau sebelah tangan pun bisa dilakukan.

Ketiga, alasan tenaga kerja. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka ketergantungan kepada tenaga kerja terampil semakin kecil. Anak SD pun bisa mengerjakannya.

Ketika industri masih sepi dari pemain, perusahaan tersebut memang masih bisa bertahan dan memegang pangsa pasar cukup besar. Tetapi ketika suatu saat nanti muncul pemain baru dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas lebih bagus dan proses yang mudah maka bersiap-siaplah untuk melihat pangsa pasar tergerus oleh pemain baru.

Proses splicing OPP film yang mudah

Agar plastik menempel kuat

Mengapa sebagian besar plastik sulit menempel atau licin? Karena sebagian besar plastik merupakan bahan dengan surface energy rendah (low surface energy material). Contoh lain dari bahan dengan surface enery rendah adalah Wajan Teflon. Sebagian besar plastik gaya tarik molekulernya sangat rendah sehingga ketika ditetesi air, air pun akan tetap menggumpal bukannya membasahi. Bahan-bahan dengan surface energy rendah tidak akan menempel dengan kuat ketika disatukan, diikat atau dilem dengan adhesive.

Tabel surface energy

Misalkan kita punya lem epoxy dimana surface energy-nya sekitar 40mJ/m2 lalu kita pakai untuk menempelkan Polystyrene dimana surface energynya 36mJ/m2 maka hasil penempelan tersebut tidak akan kuat karena surface energy lem di atas surface energy bahan. Dalam konteks daun talas atau wajan teflon tadi, lem epoxy tidak akan membasahi permukaan polystyrene. Atau dengan kata lain molekul-molekul di permukaan bahan polystyrene tidak mampu menarik molekul-molekul  epoxy karena surface energynya lebih rendah.

Agar bahan-bahan dengan surface energy rendah bisa ditempel dengan kuat harus diberikan perlakuan khusus kepada permukaan baik secara mekanik ataupun kimia. Metode perlakuan permukaan secara kimia lebih banyak dipakai karena cepat dan murah tidak membutuhkan perlakuan khusus, yaitu dengan memberikan adhesion promoter (primer) pada permukaan yang akan ditempel atau dilem. Contoh adhesion promoter untuk permukaan plastik yang banyak dipakai adalah 3M Primer 94.

Adhesion promoter (3M Primer 94)

Aplikasinya sangat mudah. Agar primer tidak banyak menguap sebaiknya dipindahkan ke cawan atau kaleng kecil dan kaleng besarnya ditutup. Aplikasi primer bisa memakai busa/foam atau kuas. Permukaan plastik yang akan ditempel cukup dioles tipis dan merata. Setelah primer mengering (2 – 5 menit) maka permukaan plastik siap ditempel dengan adhesive ataupun double tape.

Anamnesa dan kepo ala engineer

Tidak semua pelanggan memberi akses kepada para pemasoknya untuk melihat dan mengamati proses produksinya. Karena itu sering kali dalam usaha memberikan solusi kepada pelanggan hanya berdasarkan wawancara interogatif saja (kadang-kadang gaya wawancara engineer lapangan itu  melebihi interogasi ala polisi :P). Wawancara ini sangat penting untuk mendapatkan semua data yang dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan sebenarnya (exact needs) dari pelanggan sehingga solusi yang diberikan pun tepat sasaran.

Jika dipikir-pikir proses wawancara ini mirip dengan anamnesa yang dilakukan dokter kepada pasiennya. Menurut dr. Razi, anamnesa adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.

Nahh… sebagai technical service engineer, application engineer, field service engineer atau engineer apapun yang sering keluyuran dan jalan-jalan  ke pelanggan, kami juga melakukan hal serupa. Kami pasti cerewet dan kepo saat bertemu pelanggan.

Contoh ke-kepo-an kami saat bertemu pelanggan seperti ini (tentunya setelah melalui serangkaian basa yang tidak basi):

  1. Proses pre-treatment-nya terdiri dari apa saja, Pak?
  2. Masing-masing dilakukan di suhu berapa?
  3. Dip coating dilakukan di suhu berapa?
  4. Pengeringan memakai oven? Pada suhu berapa? Berapa lama?
  5. Kenapa proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment?

Dari proses anamnesa tersebut akhirnya saya dapatkan data pre-treatment terdiri dari proses pencelupan Basa (70C) – Asam (suhu ruang) – Basa (50C). Dip coating (kondisi basa) dilakukan pada suhu ruang. Pengeringan memakai oven pada suhu 100C selama 10 menit. Proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment karena memakai lini produksi kontinyu yang tidak bisa diinterupsi.

Artinya, produk masking yang  ditawarkan akan disiksa pada kondisi basa-asam-basa-basa lalu dipanggang pada suhu 100C.  Dengan kondisi ekstrim seperti itu maka tidak banyak masking tape yang bisa bertahan. Senangnya ketika bertemu aplikasi ekstrim adalah tidak banyak pemainnya 🙂

Dip coating

Kepo ala engineer ini sekarang diganti dengan bahasa yang lebih keren, voice of customerVoice of the Customer is a market research technique that produces a detailed set of customer wants and needs.

 

 

Perusahaan manufaktur tanpa bill of materials

Seorang teman bertanya, pernah masuk ke perusahaan X? Punya bill of materials-nya? Mana mungkin saya punya bill of material produk suatu perusahaan. Kalau pun perusahaan saya adalah salah satu pemasok, tidak mungkin bill of materials utuh yang dibagi,  pasti hanya sub-komponen saja. Dan kalaupun saya memiliki bill of materials sub-komponen tersebut tidak mungkin saya akan membocorkannya ker perusahaan lain.

Rupanya perusahaan teman saya ini sedang mengalami kerugian sekitar 200 milyar. Salah satu sebabnya ia tidak memiliki bill of materials terhadap produk-produknya. What?! Ini milenium kedua, masih ada perusahaan besar tidak memiliki bill of materials?!

Bill of Materials, biasa disingkat BoM, adalah daftar menyeluruh dan lengkap yang berisi semua komponen-komponen yang membentuk produk. Pada sebagian BoM juga terdapat informasi jumlah waktu, tenaga kerja dan jenis/lokasi mesin untuk memproduksinya.

Mengapa BoM ini sangat penting?

  1. Sebagai dasar penghitungan harga jual produk. Darimana kita tahu bahwa harga jual suatu produk memberikan keuntungan atau kerugian? Tentu saja setelah kita mengetahui biaya penyusun suatu produk yang terdiri dari bahan baku (BoM) ditambah dengan biaya-biaya lainnya.
  2. Sebagai dasar perencanaan kebutuhan bahan baku. Daria mana kita tahu bahwa komponen A harus dipesan dua kali lipat daripada komponen B? Tentu saja dari BoM. Di dalam BoM disebutkan bahwa produk kita tersusun dari 2A + B.
  3. Menghindari shortage atau kehabisan bahan baku. Misalkan saja pada saat proses produksi ternyata komponen B memiliki banyak reject sehingga stok komponen B digudang terpakai lebih banyak daripada biasanya untuk menggantikan komponen yang reject. Ketika kita memiliki BoM yang terintegrasi dengan perangkat lunak ERP (Enterprise Resource Planning) maka kita bisa mengatur reminder atau pengingat ketika stoksebuah komponen mencapai level tertentu.
  4. Sebagai acuan perbaikan produk. Kita bisa melakukan perbaikan produk jika kita memiliki data menyeluruh dan rinci tentang bahan-bahan penyusun produk kita. Misalkan produk kita yang tersusun dari 2A + B tadi bahan bakunya adalah plastik ABS. Setelah dilakukan analisa dan penelitian ternyata komponen B bisa diganti dengan plastik Polipropilen yang harganya lebih murah tetapi fungsinya tidak terganggu dengan penggantian material tadi.
  5. Menyatukan berbagai fungsi di dalam perusahaan. Jika sebuah perusahaan memiliki BoM maka akan lebih mudah baginya untuk mengkomunikasikan produk antar departemen terkait seperti produksi, riset & pengembangan, pembelian, kontrol mutu, dan sebagainya karena bahasa yang dipakai sama, bahasa BoM.

Bagi kita yang masih awam dengan konsep bill of materials ini bisa berkunjung ke situs berikut:

  1. Manufacturing Global
  2. Bill of Materials

Contoh Bill of materials untuk produk Drilling Jig

 

Tampilan 3D dari drilling jig dari beberapa sudut

Produk berteknologi tinggi dan industri dalam negeri

Ketika sebuah produk manufaktur dibuat, bias dipastikan sebagian besar bahan baku dan bahan penunjang proses produksinya memakai bahan-bahan yang tersedia di dekat fasilitas produksi. Dengan kata lain memakai bahan-bahan domestik karena lebih dekat dan biasanya lebih murah. Pada saat pengembangan produk, lebih mudah untuk bekerja sama dengan produsen bahan-bahan baku dan penunjang domestik daripada produsen dari negara lain (impor). Kecuali bahan-bahan tersebut tidak tersedia di daam negeri.

Efeknya adalah ketika produk manufaktur tersebut selesai dibuat, service manual dari produk tersebut biasanya mencantumkan bahan-bahan domestik yang telah dipakai dalam proses pengembangan maupun produksinya.

Bagaimana jika produk manufaktur tersebut adalah sebuah pesawat terbang yang terdiri dari ribuan komponen berteknologi tinggi yang proses perawatannya harus mengikuti service manual tanpa ada toleransi sedikitpun?

Maka ketika pesawat terbang tersebut telah terbang ke negara lain selama ia dipakai maka akan tetap memberikan pasar bagi industri di negara asalnya karena proses perawatannya “harus” memakai bahan-bahan dari negara asal. Mungkin saja bahan-bahan untuk perawatan pesawat tersebut memiliki padanan dari negara lain akan tetapi selama ia tidak direkomendasikan dalam service manual maka kecil kemungkinannya akan dipakai .

Cost reduction – ibarat memeras handuk kering

Squeezing dry towel alias memeras handuk kering untuk mendapatkan setetes air. Perumpamaan itu dipakai oleh salah satu manager saya saat mengibaratkan aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering.

Inti dari aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering adalah menghasilkan produk dengan kualitas yang sama atau lebih bagus tetapi dengan harga yang lebih murah. Aktivitas ini berusaha mendobrak paradigma lama, ada harga ada rupa, ono rego ono rupo. Konsumen akan menikmati barang yang lebih murah dengan kualitas sama, atau barang dengan harga yang sama tetapi memiliki fitur lebih banyak.

Selama ini aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering selalu berfokus kepada produk. Komponen terbesar dari produk yaitu material atau bahan baku menjadi bulan-bulanan bagi aktivitas ini. Bahan baku produk dikaji ulang, berbagai material pengganti disodorkan lalu diuji kelayakannya dan ketersediaannya dipastikan.

Setelah bahan baku produk dikupas tuntas kini proses produksi/pembuatan produk diamati dengan detail. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan atau mengembangkan perangkat lunak khusus yang berguna untuk menganalisa proses kerja dari operator produksi. Proses kerja dari operator kemudian dikategorikan menjadi:

1) bernilai tambah (Value Added),

2) dibutuhkan dalam proses bisnis (Business Value Added), dan

3) tidak memberikan nilai apapun (Non-Value Added).

Value-Added (VA) berarti proses kerja dari operator tersebut memang diperlukan dan memberikan nilai tambah bagi produk. Contoh dari proses ini adalah memasang komponen kemudian mengencangkannya.

Business Value Added  (BVA) proses tambahan yang tidak menghasilkan nilai tambah tetapi diperlukan dalam proses produksi, misalnya menginput data.

Non-Value Added (NVA) berarti proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah bagi produk seperti berjalan, mengambil komponen, memutar dll.

Setelah komponen NVA teridentifikasi  maka akan dilakukan rekayasa untuk menguranginya. Tergantung dari penyebabnya, rekasaya tersebut bisa dilakukan pada desain produk ataupun fasilitas produksi.

Overdesign – Beyond seven wastes

Konsep tujuh setan pemborosan telah menjadikan pabrik menjadi sarana produksi yang sangat efisien. Pertanyaannya, setelah tujuh setan pemborosan di lantai prosuksi berhasil dibasmi, siapa target berikutnya? Bagaimana jika ternyata pemborosan itu melekat pada produk itu sendiri?

Jika di lantai produksi kita mengenal konsep overproduction dan overprocessing maka pada tahap desain kita mengenal istilah overdesign. Idealnya setiap produk yang didesain mengandung hanya sejumlah material yang memang dibutuhkan. Setiap kelebihan material yang melekat pada produk akan terhitung sebagai pemborosan. Pemborosan ini akan memicu pemborosan selanjutnya di lantai produksi. Sebagai contoh overdesign akan mengakibatkan lebih banyak material yang diorder, lebih banyak proses dan peluang terjadinya defect lebih besar.

Misalkan kita memiliki sebuah rakitan yang terdiri dari beberapa komponen plastik yang harus dirakit dengan 5 sekrup padahal sebenarnya bisa dirakit dengan 4 sekrup. Dengan 5 sekrup artinya warehouse harus memiliki persediaan sekrup lebih banyak, proses perakitan lebih lama, mold lebih rumit dengan 5 buah lubang untuk sekrup

Dari sini kemudian muncul konsep DFx, Design For Something. DFA – Design For Assembly, desain produk dibuat untuk mempermudah dan mempercepat proses perakitan. DFM – Design For Manufacturing, desain produk dibuat untuk mempermudah proses manufaktur atau pembuatan komponen. Bahkan kini kita mengenal konsep DFSS – Design For Six Sigma.

Konsep DFA

Konsep DFA