Agar plastik menempel kuat

Mengapa sebagian besar plastik sulit menempel atau licin? Karena sebagian besar plastik merupakan bahan dengan surface energy rendah (low surface energy material). Contoh lain dari bahan dengan surface enery rendah adalah Wajan Teflon. Sebagian besar plastik gaya tarik molekulernya sangat rendah sehingga ketika ditetesi air, air pun akan tetap menggumpal bukannya membasahi. Bahan-bahan dengan surface energy rendah tidak akan menempel dengan kuat ketika disatukan, diikat atau dilem dengan adhesive.

Tabel surface energy

Misalkan kita punya lem epoxy dimana surface energy-nya sekitar 40mJ/m2 lalu kita pakai untuk menempelkan Polystyrene dimana surface energynya 36mJ/m2 maka hasil penempelan tersebut tidak akan kuat karena surface energy lem di atas surface energy bahan. Dalam konteks daun talas atau wajan teflon tadi, lem epoxy tidak akan membasahi permukaan polystyrene. Atau dengan kata lain molekul-molekul di permukaan bahan polystyrene tidak mampu menarik molekul-molekul  epoxy karena surface energynya lebih rendah.

Agar bahan-bahan dengan surface energy rendah bisa ditempel dengan kuat harus diberikan perlakuan khusus kepada permukaan baik secara mekanik ataupun kimia. Metode perlakuan permukaan secara kimia lebih banyak dipakai karena cepat dan murah tidak membutuhkan perlakuan khusus, yaitu dengan memberikan adhesion promoter (primer) pada permukaan yang akan ditempel atau dilem. Contoh adhesion promoter untuk permukaan plastik yang banyak dipakai adalah 3M Primer 94.

Adhesion promoter (3M Primer 94)

Aplikasinya sangat mudah. Agar primer tidak banyak menguap sebaiknya dipindahkan ke cawan atau kaleng kecil dan kaleng besarnya ditutup. Aplikasi primer bisa memakai busa/foam atau kuas. Permukaan plastik yang akan ditempel cukup dioles tipis dan merata. Setelah primer mengering (2 – 5 menit) maka permukaan plastik siap ditempel dengan adhesive ataupun double tape.

Anamnesa dan kepo ala engineer

Tidak semua pelanggan memberi akses kepada para pemasoknya untuk melihat dan mengamati proses produksinya. Karena itu sering kali dalam usaha memberikan solusi kepada pelanggan hanya berdasarkan wawancara interogatif saja (kadang-kadang gaya wawancara engineer lapangan itu  melebihi interogasi ala polisi :P). Wawancara ini sangat penting untuk mendapatkan semua data yang dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan sebenarnya (exact needs) dari pelanggan sehingga solusi yang diberikan pun tepat sasaran.

Jika dipikir-pikir proses wawancara ini mirip dengan anamnesa yang dilakukan dokter kepada pasiennya. Menurut dr. Razi, anamnesa adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.

Nahh… sebagai technical service engineer, application engineer, field service engineer atau engineer apapun yang sering keluyuran dan jalan-jalan  ke pelanggan, kami juga melakukan hal serupa. Kami pasti cerewet dan kepo saat bertemu pelanggan.

Contoh ke-kepo-an kami saat bertemu pelanggan seperti ini (tentunya setelah melalui serangkaian basa yang tidak basi):

  1. Proses pre-treatment-nya terdiri dari apa saja, Pak?
  2. Masing-masing dilakukan di suhu berapa?
  3. Dip coating dilakukan di suhu berapa?
  4. Pengeringan memakai oven? Pada suhu berapa? Berapa lama?
  5. Kenapa proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment?

Dari proses anamnesa tersebut akhirnya saya dapatkan data pre-treatment terdiri dari proses pencelupan Basa (70C) – Asam (suhu ruang) – Basa (50C). Dip coating (kondisi basa) dilakukan pada suhu ruang. Pengeringan memakai oven pada suhu 100C selama 10 menit. Proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment karena memakai lini produksi kontinyu yang tidak bisa diinterupsi.

Artinya, produk masking yang  ditawarkan akan disiksa pada kondisi basa-asam-basa-basa lalu dipanggang pada suhu 100C.  Dengan kondisi ekstrim seperti itu maka tidak banyak masking tape yang bisa bertahan. Senangnya ketika bertemu aplikasi ekstrim adalah tidak banyak pemainnya 🙂

Dip coating

Kepo ala engineer ini sekarang diganti dengan bahasa yang lebih keren, voice of customerVoice of the Customer is a market research technique that produces a detailed set of customer wants and needs.

 

 

Prioritas pemasangan Passive Fire Protection pada Gedung Perkantoran dan Hotel

Bisa dipastikan bahwa sebagian besar bangunan pabrik, gedung dan hotel di Indonesia termasuk dalam Kelas Konstruksi 1. Menurut SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21/SEOJK.05/2015, Kelas Konstruksi 1 didefinisikan, “Bangunan dikatakan berkonstruksi kelas 1 (satu) apabila dinding, lantai, dan semua komponen penunjang strukturalnya serta penutup atap terbuat seluruhnya dan sepenuhnya dari bahan yang tidak mudah terbakar. Jendela dan/atau pintu beserta kerangkanya, dinding partisi, dan penutup lantai boleh diabaikan.

Tarif premi asuransi kebakaran Hotel

Tarif premi asuransi kebakaran Hotel

Selain alasan keselamatan, membangun gedung yang memenuhi kategori Kelas Konstruksi Kelas 1 juga akan menghemat premi asuransi. Perbedaan premi asuransi kebakaran antara bangunan Konstruksi Kelas 1 dengan bangunan Konstruksi Kelas 2 cukup besar. Misalkan sebuah hotel berbintang 3 nilai propertinya 50 milyar rupiah, jika ia termasuk kategori Kelas Konstruksi 1 nilai preminya adalah 0.483% X 50 milyar =  120.750.00, jika ia masuk kategori Konstruksi Kelas 2 nilai preminya adalah 0.725% X 25 milyar = 181.250.000. Ada perbedaan premi sebesar 60.500.000 per tahun.

Idealnya sebuah bangunan yang termasuk dalam Kelas Konstruksi 1 ketika terjadi kebakaran tidak akan menimbulkan kerugian harta-benda dalam jumlah besar apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Selain terbuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terbakar,  Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah mewajibkan setiap bangunan selain rumah tinggal harus memiliki sistem perlindungan kebakaran aktif dan pasif. Pertanyaannya seberapa banyak bangunan yang memiliki sistem perlindungan kebakaran pasif?

Dari pengamatan beberapa kali ke gedung perkantoran, apartemen dan hotel, masih banyak yang belum memasang sistem perlindungan kebakaran pasif. Ada beberapa gedung sudah memasang sistem perlindungan kebakaran pasif tetapi kualitasnya sangat meragukan dan terlihat asal-asalan.

Di bagian mana seharusnya sistem perlindungan kebakaran pasif ini harus dipasang?

Sistem perlindungan kebakaran pasif atau passive fire protection ini harus dipasang pada setiap bukaan antar ruangan dan antar lantai. Bagian yang paling kritis dan diprioritaskan adalah mechanical & electrical shaft. Kenapa demikian? Karena M&E Shaft berupa kolom untuk mengakomodasi berbagai jalur mechanical seperti hydrant dan HVAC  dan electrical seperti power & communication lines yang membentang dari lantai dasar sampai puncak gedung. Tanpa adanya penyekatan antar lantai dengan sistem passive fire protection, M&E Shaft dan cabang-cabangnya bisa menjadi jalur penyebaran api, asap dan gas beracun saat terjadi kebakaran.

Penyebab timbulnya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran

Penyebab timbulnya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ( sumber: John R. Hall, Jr., Fire Analysis and Research Division, National Fire Protection Association, March 2011)

Menurut NFPA, penyebab utama terjadinya korban jiwa dalam setiap kebakaran bukan api tetapi karena menghirup asap dan gas beracun. Dalam banyak kasus kebakaran, korban jiwa juga terjadi pada ruangan dan lantai yang berbeda dengan lokasi terjadinya kebakaran, terutama pada lantai dan ruangan di atas lokasi kebakaran (Evaluaton of Fire Safety, p.178, D. Rashbash, et.al). Ini terjadi karena asap dan gas beracun dari lokasi kebakaran di suatu lantai menyebar ke lantai berikutnya mengikuti M&E Shaft.

Penyekatan bukaan antar lantai dan ruangan ini biasanya dikenal dengan istilah kompartemenisasi.

Contoh kompartemenisasi ruangan (http://akribiz.com/safety)

Contoh kompartemenisasi ruangan (sumber: http://akribiz.com/safety)

Teknologi baru yang menyelamatkan lingkungan (hutan)

Sore itu ada sales call dari potential customer di daerah Mustika Jaya, Bekasi. Siapa sangka dibalik pagar tinggi yang menutupi penampakan separo bangunan terdapat worshop dengan berbagai macam mesin perkakas presisi (CNC). Ia adalah perusahaan yang bergerak di bidang machinery dengan konsep made by order. Salah satu spesialisasinya adalah membuat mesin roll forming untuk berbagai macam profil baja ringan.

Menurut penuturan engineer-nya, akhir-akhir ini pesanan mesin roll forming seperti tiada habisnya. Bahkan ada salah satu perusahaan yang sudah memesan total 30 mesin sampai saat ini. Customernya tersebar di area Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar.

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Jika kita amati berbagai macam brosur, banner ataupun iklan rumah terbaru salah satu spesfikasinya adalah “rangka atap baja ringan”. Bisa dipastikan rumah-rumah yang dibangun saat ini semakin jarang yang memakai rangka kayu. Kini harga kayu semakin mahal, kualitasnya sulit dikontrol dan rawan terhadap serangan rayap maupun serangga penggerek.

Peralihan dari rangka kayu ke rangka baja ringan tentu sangat menggembirakan karena mengurangi laju penebangan hutan. Andai teknologi dan produk baja ringan ini sudah populer dan ekonomis sejak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu bisa kita bayangkan berapa juta batang pohon yang bisa diselamatkan?

Kalau kita concern dan prihatin dengan semaki berkurangnya luas hutan huan tropis kita tentu kita sudah memetakan sejak awal berbagai macam kemungkinan yang bisa mengurangi konsumsi kayu. Salah satunya adalah subtitusi kayu sebagai bahan bangunan ke bahan lain yang lebih tahan lama, murah dan mudah aplikasinya. Sayangnya pemetaan semacam itu jarang kita lakukan ataupun jika ada tidak terpublikasi dan terealisasi menjadi kebijakan ataupun aksi nyata.

Karena itu tidak heran jika negara-negara maju selalu meng-endorse dan memberi insentif bagi teknologi-teknologi baru yang bisa menjadi solusi bagi permasalah terkini seperti penghematan energi dan sumber daya alam. Mereka memiliki foresight atau future technology outlook yang selalu diupdate menyesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini dengan berbagai kemungkinan aplikasi di masa depan.

Usus buntu jangan sampai pecah

Apendiksitis atau infeksi pada usus buntu jika tidak segera ditangani pada akhirnya akan menyebabkan usus buntu pecah. Jika sampai pecah maka infeksinya akan menjalar ke peritonium. Peritonium yag terinfeksi disebut peritonitis Jika sampai terjadi peritonitis maka penangananya adalah operasi besar.

Pada kasus apendiksitis, operasi pemotongan atau pembuangan apendiks dilakukan dengan membuat irisan kecil pada dinding perut, laparoskopi. Tetapi jika sampai terjadi peritonitis maka operasi dilakukan dengan membuat irisan besar pada dinding perut, laparotomi.

Peritonitis

Peritonitis

Indeks daya saing industri manufaktur global

Menarik untuk mencermati hasil survei dari Deloitte pada tahun 2013 terhadap 550 CEO dari perusahaan manufaktur global yang tersebar di Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Pada saat dilakukan survei (2013) para CEO menempatkan Indonesia berada pada peringkat 17 dan Vietnam berada pada peringkat 18. Ketika disodorkan pertanyaan daya saing lima tahun ke depan maka Indonesia naik ke posisi 11 sementara Vietnam berada pada posisi 10 (Tabel 1 halaman 2).

Secara sederhana kita dapat mengartikan bahwa para CEO perusahaan manufaktur global melihat bahwa Vietnam lebih menjanjikan bagi industri manufaktur pada tahun 2018 dan seterusnya. Indonesia yang sebelumnya berada di atas Vietnam belum melakukan usaha yang cukup untuk menjaga keunggulan industri manufakturnya sehingga disalip Vietnam.

Faktor apa yang paling penting bagi daya saing industri manufaktur suatu negara? Para CEO melihat bahwa Talent-driven innovation sebagai faktor yang paling penting. Talent-driven innovation diartikan sebagai 1) kualitas dan ketersediaan ilmuwan, periset dan insinyur dan 2) kualitas dan ketersediaan tenaga kerja terlatih.

Talent driven-innovation diukur dari 1) science scores, 2) math scores, 3) jumlah paten per sejuta penduduk, 4) jumlah riset per sejuta penduduk dan 5) indeks inovasi.

Pekerjaan rumah kita adalah memperbaiki kelima faktor di ataskita agar daya saing kita tidak tergeser.

 

Cost reduction – ibarat memeras handuk kering

Squeezing dry towel alias memeras handuk kering untuk mendapatkan setetes air. Perumpamaan itu dipakai oleh salah satu manager saya saat mengibaratkan aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering.

Inti dari aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering adalah menghasilkan produk dengan kualitas yang sama atau lebih bagus tetapi dengan harga yang lebih murah. Aktivitas ini berusaha mendobrak paradigma lama, ada harga ada rupa, ono rego ono rupo. Konsumen akan menikmati barang yang lebih murah dengan kualitas sama, atau barang dengan harga yang sama tetapi memiliki fitur lebih banyak.

Selama ini aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering selalu berfokus kepada produk. Komponen terbesar dari produk yaitu material atau bahan baku menjadi bulan-bulanan bagi aktivitas ini. Bahan baku produk dikaji ulang, berbagai material pengganti disodorkan lalu diuji kelayakannya dan ketersediaannya dipastikan.

Setelah bahan baku produk dikupas tuntas kini proses produksi/pembuatan produk diamati dengan detail. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan atau mengembangkan perangkat lunak khusus yang berguna untuk menganalisa proses kerja dari operator produksi. Proses kerja dari operator kemudian dikategorikan menjadi:

1) bernilai tambah (Value Added),

2) dibutuhkan dalam proses bisnis (Business Value Added), dan

3) tidak memberikan nilai apapun (Non-Value Added).

Value-Added (VA) berarti proses kerja dari operator tersebut memang diperlukan dan memberikan nilai tambah bagi produk. Contoh dari proses ini adalah memasang komponen kemudian mengencangkannya.

Business Value Added  (BVA) proses tambahan yang tidak menghasilkan nilai tambah tetapi diperlukan dalam proses produksi, misalnya menginput data.

Non-Value Added (NVA) berarti proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah bagi produk seperti berjalan, mengambil komponen, memutar dll.

Setelah komponen NVA teridentifikasi  maka akan dilakukan rekayasa untuk menguranginya. Tergantung dari penyebabnya, rekasaya tersebut bisa dilakukan pada desain produk ataupun fasilitas produksi.