Polisi tidur alias roadbump|Masochist (senang menyiksa diri) ala orang Indonesia

Kemarin ketika berkunjung ke rumah teman kembali saya menemukan fenomena di mana warga keranjingan membuat polisi tidur alias roadbump di jalan di dalam komplek perumahan mereka. Meskipun demikian  ia tidak seekstrim salah satu blok di perumahan VMC di mana hampir tiap 10 meter ada polisi tidur.

Konon polisi tidur ini untuk membatasi laju mobil dan motor. Dengan adanya polisi tidur ini maka otomatis mobil dan motor akan mengurangi laju kendaraannya jika tidak mau terguncang-guncang atau bahkan terlempar.

Sayang pembuatan polisi tidur ini tidak ada standar baku. Yang sering terjadi adalah terlalu runcing, terlalu tinggi dan terlalu rapat. Kebanyakan polisi tidur ini tidak terlalu lebar dan hanya memiliki satu radius. Konstruksi semacam ini yang sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan berkendara apapun jenis kendaraannya.

Polisi tidur memang efektif mengurangi laju kendaraan tetapi ia juga sangat mengganggu, memperbesar konsumsi BBM karena setelah pengereman kendaraan butuh akselerasi plus menimbulkan polusi suara karena akselerasi membutuhkan bukaan throttle yang lebar. Bahkan anak-anak yang gemar bersepeda juga akan terganggu dengan adanya polisi tidur ini.

 

Senang melihat karyawan susah

“Bagaimana, Pak? Lebih mudah dan cepat kan dibanding metode sebelumnya?”

“Iya, Pak. Tapi nanti karyawan saya keenakan dong?” jawab manajer produksi.

Saya sempat kaget mendengar jawaban tersebut. Karena selama sepuluh tahun malang melintang di bagian riset dan pengembangan produk televisi dan kulkas, kami selalu dicekoki dengan konsep design for manufacturability – DFM. DFM bertujuan agar desain kita buat mudah diproduksi. Karyawan dan pekerja di bagian produksi tidak boleh susah dan kesulitan saat memproduksi barang yang kita desain. Haram hukumnya membuat pekerja bagian produksi susah.

Kenapa produksi harus dibuat gampang?

Satu, alasan produktivitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat maka produktivitasnya akan semakin tinggi. Produktivitas tinggi akan menurunkan biaya produk.

Kedua, alasan kualitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka peluang kesalahan dan kegagalan akan semakin kecil. Kasarnya dengan mata terpejam atau sebelah tangan pun bisa dilakukan.

Ketiga, alasan tenaga kerja. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka ketergantungan kepada tenaga kerja terampil semakin kecil. Anak SD pun bisa mengerjakannya.

Ketika industri masih sepi dari pemain, perusahaan tersebut memang masih bisa bertahan dan memegang pangsa pasar cukup besar. Tetapi ketika suatu saat nanti muncul pemain baru dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas lebih bagus dan proses yang mudah maka bersiap-siaplah untuk melihat pangsa pasar tergerus oleh pemain baru.

Proses splicing OPP film yang mudah

Ketika bos membandingkan India dan Indonesia

Ketika bersama bos mengunjungi beberapa customer di sekitar Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto ia mengungkapkan kekagumannya bahwa jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus dibanding India. Mulus, tidak ada yang berlubang dan marka jalan sangat jelas. Saat berkunjung ke Tjiwi Kimia kebetulan marka jalan baru dicat, hahaha.

Yang membuatnya lebih kagum adalah saat ia juga melihat jalan-jalan kecil di kampung pun sama bagusnya. Sehari sebelumnya saat dari Pandaan ke Krian kami diajak sopir travel melewati jalan-jalan perkampungan di daerah Ngoro, Tulangan dan Wonoayu.

Indeks korupsi Indonesia vs India

Lalu ia berkata, India dan Indonesia sama-sama berhadapan dengan masalah korupsi. Bahkan ketika (seandainya) sudah dikorup pun jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus. Terlebih lagi curah hujan di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding curah hujan di India (Mumbai).

Curah hujan Surabaya vs Mumbai

Beruntung bos belum mengunjungi customer di sepanjang Jalan Mercedes Benz, Gunung Putri, Bogor. Saya sampai malu melihat betapa jeleknya kondisi jalan dan betapa jeleknya pelayanan kepada masyarakat dan perusahaan di sepanjang jalan tersebut yang sudah menggerakkan perekonomian.

Tiga Pelajaran dari Taksi Burung Biru

Tiga hari yang lalu saya memesan taksi dengan rute Cikarang – Bandara Sukarno Hatta. Saya menyebutkan bahwa lokasi saya berada di perumahan Taman Cibodas Lippo Cikarang. Si mbak bagian pemesanan bertanya sekali lagi, “Perumahan Cibodas ya, Pak?” Saya jawab, “Ya mbak, Taman Cibodas Lippo Cikarang.”

Esoknya pengemudi taksi yang saya pesan mengkonfirmasi sudah berada di perempatan depan perumahan sedang bertanya ke sekuriti, Lalu ia bertanya,”Blok berapa Pak rumahnya?”

“Lhah, di sini tidak ada blok Pak.”, mulai merasa tidak beres. “Yang ada adalah nama jalan dan gangnya. Dari perempatan Bapak tinggal ambil kanan dan kiri ada plang nama jalan tertulis jelas.”

Si pengemudi taksi menelepon lagi, “Pak, kok tidak ada jalan Ciliwung di perumahannya?”

Lalu saya teringat ada kawasan Cibodas di Tangerang, “Pak, itu Cibodas Tangerang atau Cikarang?”

“Tangerang, Pak.” jawab sopir taksi.

“Yahh.. salah Pak. Saya ini di Taman Cibodas Lippo Cikarang”

Akhirnya saya memesan taksi lagi sambil membatalkan pemesanan berikutnya. Si pengemudi taksi yang baru rupanya belum tahu lokasi Taman Cibodas tetapi ia berkata akan mencarinya via Google Maps. Tak berapa lama si pengemudi taksi yang sebelumnya mangkal di RS Siloam Lippo Cikarang sudah sampai di Taman Cibodas.

Ketika masuk ke dalam taksi saya terkejut karena tepat di depan kursi penumpang sudah disediakan kantong plastik anti mabuk, minyak kayu putih, minyak telon, tissue dan sebotol air minum. Hebat juga pelayanan Taksi Burung Biru pikir saya. Ketika sudah sampai di bandara saya bertanya ke pengemudi taksi, Ahmad Romli, apakah itu standar pelayanan baru dari Taksi Burung Biru, Bang Ahmad Romli menjawab, “Tidak Pak. Karena saya tahu sebagian besar penumpang saya berjarak jauh (taksi bandara), maka saya sediakan sendiri supaya penumpang merasa nyaman dan berjaga-jaga kalau ada yang mabuk atau pusing.” I was very impressed by his answer.

Pelajaran Pertama, saya sudah menekankan beberapa kali ke bagian pemesanan bahwa lokasi saya di Cikarang. Karena kecerobohan sehingga salah menginput alamat yang benar si bagian pemesanan telah merugikan sopir taksinya sendiri dan konsumen.

Pelajaran Kedua, pengemudi yang bernama Ahmad Romli menunjukkan bagaimana ia amat sangat mengerti profil dan kebutuhan pelanggan kemudian dia atas inisiatif sendiri bekerja extra miles dengan biaya yang bahkan ia tanggung sendiri. 

Pelajaran Ketiga, pengemudi taksi kedua Ahmad Romli, mampu memakai teknologi terkini (Google Maps) untuk mencari lokasi pelanggan. Dan saat saya bercerita kejadian bagian pemesanan salah menginput lokasi ia menyarankan agar saya memesan via aplikasi karena otomatis lokasi saya akan terverifikasi berdasarkan Google Maps. He is very tech savvy, isn’t it? Kata kuncinya ia mengerti kebutuhan dan masalah yang dihadapi pelanggan dan ia mampu memberikan solusinya.

Wow! Inilah profil pekerja/profesional/karyawan yang dicari-cari perusahaan. Saya berharap ia mendapatkan karir yang bagus di mana pun ia bekerja. He deserves that.

Produk berteknologi tinggi dan industri dalam negeri

Ketika sebuah produk manufaktur dibuat, bias dipastikan sebagian besar bahan baku dan bahan penunjang proses produksinya memakai bahan-bahan yang tersedia di dekat fasilitas produksi. Dengan kata lain memakai bahan-bahan domestik karena lebih dekat dan biasanya lebih murah. Pada saat pengembangan produk, lebih mudah untuk bekerja sama dengan produsen bahan-bahan baku dan penunjang domestik daripada produsen dari negara lain (impor). Kecuali bahan-bahan tersebut tidak tersedia di daam negeri.

Efeknya adalah ketika produk manufaktur tersebut selesai dibuat, service manual dari produk tersebut biasanya mencantumkan bahan-bahan domestik yang telah dipakai dalam proses pengembangan maupun produksinya.

Bagaimana jika produk manufaktur tersebut adalah sebuah pesawat terbang yang terdiri dari ribuan komponen berteknologi tinggi yang proses perawatannya harus mengikuti service manual tanpa ada toleransi sedikitpun?

Maka ketika pesawat terbang tersebut telah terbang ke negara lain selama ia dipakai maka akan tetap memberikan pasar bagi industri di negara asalnya karena proses perawatannya “harus” memakai bahan-bahan dari negara asal. Mungkin saja bahan-bahan untuk perawatan pesawat tersebut memiliki padanan dari negara lain akan tetapi selama ia tidak direkomendasikan dalam service manual maka kecil kemungkinannya akan dipakai .

Teknologi baru yang menyelamatkan lingkungan (hutan)

Sore itu ada sales call dari potential customer di daerah Mustika Jaya, Bekasi. Siapa sangka dibalik pagar tinggi yang menutupi penampakan separo bangunan terdapat worshop dengan berbagai macam mesin perkakas presisi (CNC). Ia adalah perusahaan yang bergerak di bidang machinery dengan konsep made by order. Salah satu spesialisasinya adalah membuat mesin roll forming untuk berbagai macam profil baja ringan.

Menurut penuturan engineer-nya, akhir-akhir ini pesanan mesin roll forming seperti tiada habisnya. Bahkan ada salah satu perusahaan yang sudah memesan total 30 mesin sampai saat ini. Customernya tersebar di area Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar.

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Jika kita amati berbagai macam brosur, banner ataupun iklan rumah terbaru salah satu spesfikasinya adalah “rangka atap baja ringan”. Bisa dipastikan rumah-rumah yang dibangun saat ini semakin jarang yang memakai rangka kayu. Kini harga kayu semakin mahal, kualitasnya sulit dikontrol dan rawan terhadap serangan rayap maupun serangga penggerek.

Peralihan dari rangka kayu ke rangka baja ringan tentu sangat menggembirakan karena mengurangi laju penebangan hutan. Andai teknologi dan produk baja ringan ini sudah populer dan ekonomis sejak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu bisa kita bayangkan berapa juta batang pohon yang bisa diselamatkan?

Kalau kita concern dan prihatin dengan semaki berkurangnya luas hutan huan tropis kita tentu kita sudah memetakan sejak awal berbagai macam kemungkinan yang bisa mengurangi konsumsi kayu. Salah satunya adalah subtitusi kayu sebagai bahan bangunan ke bahan lain yang lebih tahan lama, murah dan mudah aplikasinya. Sayangnya pemetaan semacam itu jarang kita lakukan ataupun jika ada tidak terpublikasi dan terealisasi menjadi kebijakan ataupun aksi nyata.

Karena itu tidak heran jika negara-negara maju selalu meng-endorse dan memberi insentif bagi teknologi-teknologi baru yang bisa menjadi solusi bagi permasalah terkini seperti penghematan energi dan sumber daya alam. Mereka memiliki foresight atau future technology outlook yang selalu diupdate menyesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini dengan berbagai kemungkinan aplikasi di masa depan.

Anut grubyug ora weruh ing rembug

Ojo gumun. Ojo kagetan.

Banyak orang yang selamat karena skeptis, kritis dan mau melakukan check and recheck.
Banyak orang yang terhindar menjadi pion, tidak bisa digiring karena tidak anut grubyug – tidak ikut-ikutan.
Banyak orang yang terhindar dari jebakan isu karena mengambil jarak untuk mendapatkan bird-view yang mampu memandang semua sisi.

Sebaliknya, banyak orang yang celaka atau tertipu karena anut grubyug ora weruh ing rembug – mengikuti gerak orang banyak tanpa tahu bagaimana asal-mula atau substansinya.

Akal sehat dan akal jernih mutlak dimiliki di jaman yang penuh dengan informasi dan disinformasi. Akal sehat dan akal jernih mutlak dimiliki karena berbagai macam kekuatan berlomba-lomba untuk mendapatkan dan bermain dengan opini publik.