Akibat nekat melamar posisi sales

Dua kali berpindah pekerjaan (keluar dari perusahaan) memberikan pengalaman bahwa mencari pekerjaan baru tidak selalu mudah. Dari perusahaan pertama sempat off tiga bulan sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Dari perusahaan kedua masa off lebih lama lagi, lima bulan sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan sekarang.

Di perusahaan kedua, posisi yang saya dapatkan masih berhubungan bahkan masih sebidang dengan jenis pekerjaan sebelumnya. Setelah keluar dari perusahaan kedua ini, karena setelah melamar sana sini belum juga berhasil akhirnya memakai jurus sapu jagat. Posisi apapun dilamar. Termasuk retail, purchasing, warehousing, maintenance dan profesi yang paling saya hindari “sales”.

Justru dari posisi yang paling saya hindari dan paling jauh hubungan dengan bidang pekerjaan sebelumnya, yaitu sales, saya memperoleh kesempatan untuk membuktikan diri. Entah apa pertimbangan mereka saya yang tidak punya pengalaman sales tetapi dipilih menjadi kandidat untuk posisi tersebut.

Saya pun diinterview untuk posisi sales berbekal pengalaman di industri electronics & appliances. Si interviewer menilai saya tidak cocok untuk posisi sales karena background saya di dunia sales nol besar. Akan tetapi ia memberi kesempatan untuk mencoba posisi technical service engineer karena melihat pengalaman saya di bidang R&D untuk televisi dan kulkas. Setelah melalui proses seleksi yang cukup lama akhirnya saya pun mendapatkan posisi sebagai technical service engineer di perusahaan multinasional dari Amerika Serikat, 3M.

Yang ingin saya garis bawahi dan sampaikan kepada para pencari kerja adalah tetap semangat, perluas area pencarian bidang pekerjaan, jangan terpaku dengan bidang pekerjaan sebelumnya. Ibaratnya semakin banyak pintu yang kita ketuk semakin besar peluang kita untuk menemukan pintu yang dibukakan. Bahkan seandainya kita tidak berhasil masuk ke pintu tersebut bisa jadi ia akan merekomendasikan kita ke pintu lainnya karena ia melihat potensi kita.

Beberapa perusahaan tidak semata-mata melihat skill dari calon karyawannya tetapi juga karakternya. Karena itu jika kita yakin bahwa kita memiliki karakter bagus akan tetapi merasa skill masih kurang jangan ragu untuk melamar posisi apapun. Tunjukkan bahwa kita adalah pembelajar yang cepat dan siap belajar apapun. Perusahaan yang menyeimbangkan karakter dan skill memiliki motto, we hire character we develop skill. Artinya kita akan diberi kesempatan dan fasilitas untuk mengejar kekurangan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan kita.

Keep searching and applying!

Advertisements

Persaingan bebas menguntungkan konsumen – Fenomena Opang vs Ojek online

Kartel  bukan hanya monopoli pemodal besar. Layanan seperti ojek pun bisa melakukan praktik kartel. Sekarang mari kita simak definisi kartel. Kartel adalah kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi. Bukankah sebelum ada fenomena ojek online sebagian besar layanan ojek pangkalan melakukan praktik ini.

Ojek pangkalan membatasi kesempatan konsumen untuk mendapatkan harga yang kompetitif. Jika kita tidak jeli dengan menanyakan tarif di awal dan tidak gigih menawar maka bisa-bisa kita ditodong dengan tarif yang mahal atau bahkan tidak masuk akal.

Contoh paling nyata dari praktik ini adalah ojek di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Untuk keluar dari Bandara ke jalan poros biasanya tukang ojek memasang harga 40.000 rupiah. Jika kita menawar maka kita bisa mendapatkan harga 30.000 rupiah.

Jarak dari Bandara Sultan Hasanuddin ke jalan poros Maros – Makassar

Berapakah jarak dari Bandara Sultan Hasanuddin ke jalan poros? Melalui pengukuran jarak memakai aplikasi Google Maps jaraknya hanya 3 kilometer. Artinya harga per kilometer adalah 10.000 rupiah. Bandingkan dengan tarif taksi di Jakarta yang per kilometernya hanya 3.600 rupiah. Bisa jadi ini adalah tarif ojek (perkotaan) termahal di dunia.

Jelas konsumen sangat dirugikan karena mereka dikenai tarif super mahal. Kenapa bisa semahal itu? Karena ojek di sana mempraktikkan kartel. Mereka sengaja membatasi persaingan dan mengatur harga seenaknya.

Lapar mata versus lapar perut

Kemarin, 9 September 2017, saya mengikuti Monash University Doctoral Program Information Day di Hotel Fairmont, Jakarta. Saat lunch break saya memutuskan sholat dahulu karena waktu lunch break hanya 30 menit. Dengan dua lajur antrian dan peserta yang banyak saya pikir akan memakan waktu lama sehingga lebih efektif jika saya sholat dahulu dan mengantri ketika sudah sepi.

Ketika selesai sholat ternyata hidangan makan siang sudah habis. Saya pun mencari-cari menu yang tersisisa. Akhirnya dapat lah beberapa jenis buah dan dessert. Masih beruntung setelah buah dan dessert disantap ada sup asparagus tersisa.

Yang menyedihkan ketika saya berkeliling mencari-cari makanan yang masih tersisa, banyak piring teronggok dengan sisa-sisa makanan yang tidak termakan. Bahkan beberapa diantaranya adalah potongan lauk-pauk yang nilainya lebih berharga dibanding butiran nasi. Padahal sebutir nasi pun tidak boleh kita sia-siakan.

Inilah kebiasaan buruk orang Indonesia. Suka menyia-nyiakan dan tidak menghabiskan makanan yang ia ambil. Matanya selalu lebih lapar dibanding perutnya. Artinya porsi makanan yang diambil selalu lebih banyak daripada daya tampung perutnya karena menuruti mata(nafsu)nya.

monash university doctoral program information day

Selama ini yang selalu saya lihat adalah di jamuan makan pada acara-acara perkawinan dimana tamunya sangat beragam. Nahh ini, yang makan adalah calon-calon doktor dan master, orang-orang terdidik. Ternyata mentalnya sama saja dengan orang-orang awam dan kebanyakan. Boros!

Gagal interview karena bahasa Inggris – Pentingnya bahasa Inggris bagi freshgraduate

Freshgraduate minim bahasa Inggris

Screenshot di atas adalah aktual. Curhat dari seorang freshgraduate yang gagal interview karena interview memakai bahasa Inggris sedangkan ia menawar agar dilakukan dengan bahasa Indonesia.

Jika kasus tersebut terjadi di tahun 90-an atau awal tahun 2000-an masih bisa dimaklumi. Akan tetapi jika lulusan tahun S1 tahun 2017 lalu tidak percaya diri saat diinterview dengan bahasa Inggris tentu ada yang salah. Bahkan seandainya para lulusan S1 itu bekerja di perusahaan lokal pun kemampuan berbahasa Inggris tetap dibutuhkan.

Perusahaan-perusahaan lokal kini banyak berhubungan dengan pelanggan di luar negeri. Rantai pemasok banyak melibatkan supplier dari luar negeri. Mesin-mesin canggih kebanyakan masih disuplai dariluar negeri dimana manual dan panduannya memakai bahasa Inggris. Bahkan beberapa perusahaan lokal merekrut tenaga ahli dari luar negeri. Tanpa kemampuan berbahasa Inggris mustahil kita akan survive di lingkungan seperti itu.

Di era ponsel cerdas, belajar bahasa Inggris bukan hal mewah ada beribu ragam aplikasi yang menawarkan pelajaran bahasa Inggris dengan gratis tis..tis..!! Bahkan aplikasi tersebut di dalamnya memakai bahasa Indonesia saat menjelaskan konsep pelajarannya, misalnya Hello English. Begitu juga Youtube, laman web tempat berbagi video menyediakan fasilitas subtitle sehingga ketika kita mendengar dialog dalam bahasa Inggris kita bisa tahu cara penulisannya. Meskipun tidak 100% persen akurat tetapi sangat membantu bagi kita-kita yang belum canggih pendengaran bahasa Inggrisnya, termasuk saya.

Cara lain adalah dengan membaca majalah dan buku berbahasa Inggris. Ini adalah cara yang saya lakukan mulai dari awal kuliah sampai saat ini untuk menambah kosakata bahasa Inggris. Apakah waktu kuliah saya masuk golongan mahasiswa kaya sehingga bisa membeli buku-buku dan majalah-majalah berbahasa Inggris? Tidak. Saya mahasiswa pas-pasan yang menabung uang untuk membeli buku-buku dan majalah-majalah bekas berbahasa Inggris.

Dulu di kota Malang ada “Blok M” lapak-lapak penjual buku-buku dan majalah-majalah bekas yang berlokasi di Jalan Majapahit. Di tempat itulah saya biasa membeli majalah Readers Digest berbahasa Inggris. Sebenarnya itu adalah majalah masih baru yang tidak laku terjual kemudian dijadikan majalah bekas dengan cara dipotong pojoknya atau disobek sampulnya. Bodo amat! Yang penting isinya 🙂

Cara lain mendapatkan bahan bacaan berbahasa Inggris adalah dengan rajin mendatangi bookfair atau pekan buku. Biasanya di situ ada booth Periplus yang menjual buku-buku berbahasa Inggris dengan diskon besar-besaran bahkan banyak buku hanya seharga sebungkus Nasi Padang. Bayangkan pengetahuan dan ilmu yang berharga hanya dihargai sebungkus Nasi Padang.

Saya bukanlah termasuk kategori mahasiswa yang canggih dan bagus secara akademik. Saya merasa keberhasilan saya bekerja di perusahaan multinasional salah satunya karena kemampuan bahasa Inggris saya. Saya melalui wawancara dengan percaya diri karena yakin dengan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki. Apakah bahasa Inggris saya nyerocos cas cis cus? Tidak juga. Akan tetapi saya memiliki kosakata setidaknya untuk menjawab pertanyaan interviewer dan kosakata untuk mengemukakan gagasan atau pendapat saya.

Di perusahaan saat ini (dari Amerika Serikat), sebenarnya posisi yang saya lamar adalah Sales Engineer. Saya gagal mendapatkan posisi tersebut karena tidak memiliki sales background. But the interviewer told me that he liked my English and he offered me another position as technical service engineer. Karena si interviewer senang dengan bahasa Inggris saya (I made a good impression) dia menawarkan posisi lain di perusahaan. Alhamdulillah saya mendapatkannya.

Buku-buku murah berbahasa Inggris di Toko Buku Periplus

Polisi tidur alias roadbump|Masochist (senang menyiksa diri) ala orang Indonesia

Kemarin ketika berkunjung ke rumah teman kembali saya menemukan fenomena di mana warga keranjingan membuat polisi tidur alias roadbump di jalan di dalam komplek perumahan mereka. Meskipun demikian  ia tidak seekstrim salah satu blok di perumahan VMC di mana hampir tiap 10 meter ada polisi tidur.

Konon polisi tidur ini untuk membatasi laju mobil dan motor. Dengan adanya polisi tidur ini maka otomatis mobil dan motor akan mengurangi laju kendaraannya jika tidak mau terguncang-guncang atau bahkan terlempar.

Sayang pembuatan polisi tidur ini tidak ada standar baku. Yang sering terjadi adalah terlalu runcing, terlalu tinggi dan terlalu rapat. Kebanyakan polisi tidur ini tidak terlalu lebar dan hanya memiliki satu radius. Konstruksi semacam ini yang sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan berkendara apapun jenis kendaraannya.

Polisi tidur memang efektif mengurangi laju kendaraan tetapi ia juga sangat mengganggu, memperbesar konsumsi BBM karena setelah pengereman kendaraan butuh akselerasi plus menimbulkan polusi suara karena akselerasi membutuhkan bukaan throttle yang lebar. Bahkan anak-anak yang gemar bersepeda juga akan terganggu dengan adanya polisi tidur ini.

 

Senang melihat karyawan susah

“Bagaimana, Pak? Lebih mudah dan cepat kan dibanding metode sebelumnya?”

“Iya, Pak. Tapi nanti karyawan saya keenakan dong?” jawab manajer produksi.

Saya sempat kaget mendengar jawaban tersebut. Karena selama sepuluh tahun malang melintang di bagian riset dan pengembangan produk televisi dan kulkas, kami selalu dicekoki dengan konsep design for manufacturability – DFM. DFM bertujuan agar desain kita buat mudah diproduksi. Karyawan dan pekerja di bagian produksi tidak boleh susah dan kesulitan saat memproduksi barang yang kita desain. Haram hukumnya membuat pekerja bagian produksi susah.

Kenapa produksi harus dibuat gampang?

Satu, alasan produktivitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat maka produktivitasnya akan semakin tinggi. Produktivitas tinggi akan menurunkan biaya produk. Pada beberapa industri yang berkecepatan tinggi, produktivitas tidak bisa ditawar. Haram hukumnya terjadi downtime. Sebagai contoh, pabrik kertas yang memproduksi jumbo roll bekerja pada kecepatan 1200m/menit. Jika terjadi gagal sambung kertas maka akan terjadi downtime sekitar 30 menit, 30 x 1200 = 36.000 meter. JIka yang diproduksi adalah kertas 80gsm dam lebar jumbo roll adalah 6 meter maka selama 30 menit tersebut akan kehilangan produk seberat 14,4 ton kertas. Jika diuangkan, nilai kerugiannya 202 juta rupiah!!

Voith Sulzer Paper Mill 1200mpm

Paper Mill dengan kecepatan 1200m/menit (sumber: https://voith.com/corp-de/voith-paper_twogether7_en.pdf)

Kedua, alasan kualitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka peluang kesalahan dan kegagalan akan semakin kecil. Kasarnya dengan mata terpejam atau sebelah tangan pun bisa dilakukan.

Ketiga, alasan tenaga kerja. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka ketergantungan kepada tenaga kerja terampil semakin kecil. Anak SD pun bisa mengerjakannya.

Ketika industri masih sepi dari pemain, perusahaan tersebut memang masih bisa bertahan dan memegang pangsa pasar cukup besar. Tetapi ketika suatu saat nanti muncul pemain baru dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas lebih bagus dan proses yang mudah maka bersiap-siaplah untuk melihat pangsa pasar tergerus oleh pemain baru.

Ketika bos membandingkan India dan Indonesia

Ketika bersama bos mengunjungi beberapa customer di sekitar Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto ia mengungkapkan kekagumannya bahwa jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus dibanding India. Mulus, tidak ada yang berlubang dan marka jalan sangat jelas. Saat berkunjung ke Tjiwi Kimia kebetulan marka jalan baru dicat, hahaha.

Yang membuatnya lebih kagum adalah saat ia juga melihat jalan-jalan kecil di kampung pun sama bagusnya. Sehari sebelumnya saat dari Pandaan ke Krian kami diajak sopir travel melewati jalan-jalan perkampungan di daerah Ngoro, Tulangan dan Wonoayu.

Indeks korupsi Indonesia vs India

Lalu ia berkata, India dan Indonesia sama-sama berhadapan dengan masalah korupsi. Bahkan ketika (seandainya) sudah dikorup pun jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus. Terlebih lagi curah hujan di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding curah hujan di India (Mumbai).

Curah hujan Surabaya vs Mumbai

Beruntung bos belum mengunjungi customer di sepanjang Jalan Mercedes Benz, Gunung Putri, Bogor. Saya sampai malu melihat betapa jeleknya kondisi jalan dan betapa jeleknya pelayanan kepada masyarakat dan perusahaan di sepanjang jalan tersebut yang sudah menggerakkan perekonomian.