Jaket “suwek” Biru-Abang

Episode I

Jam 6:30 setelah sholat maghrib aku keluar dari pabrik Sharp di kawasan industri KIIC. Motor kugeber ke arah San Diego Hills. Menjelang San Diego Hills tiba-tiba sebuah motor memepet motorku. Aku sempat kaget dan mengambil ancang-ancang jika sesuatu yang buruk akan terjadi.

Pengendara tersebut yang memakai helem fullface berbicara kepadaku setelah membuka kaca helemnya. Aku pun membuka kaca helemku. Mungkin ia hendak bertanya arah.

“Mas, xxxxhhkkk ya?”, suaranya kurang jelas.

“Apaa?’, balasku.

“Mas, kuliah di Mesin Brawijaya, ya?”, ia mengulangi pertanyaannya.

“Iya”, jawabku.

“Saya lihat dari jaketnya. Angkatan berapa, Mas?”

“Angkatan 96.”

“Saya angkatan 2006. Sudah berapa lama tinggal di sini?”

“Baru empat bulan. Sebelumnya bekerja di MM2100, Cikarang Barat.”

Setelah itu ia berbicara beberapa patah kata tetapi segera kusudahi karena aku harus segera berbelok ke arah San Diego Hills sementara ia mengarah ke Karawang Barat.

Mungkin setelah tahu bahwa aku angkatan 96 ia akan sedikit heran. Bagaimana bisa angkatan setua itu masih punya jaket Mesin. Rahasianya karena dulu aku kuliah memakai sepeda maka jaketku tidak pernah kupakai sehingga awet dan bertahan sampai kini. Terbukti jaket dobel berkerah tinggi dari bahan katun ini sangat nyaman dipakai bermotor.

Konon, di kota Malang terutama area Dinoyo dan sekitarnya jaket ini sangat terkenal. Biru-Abang Nisem Warbinu.

Biru Abang - Jaket mahasiswa Teknik Mesin UB

Biru Abang – Jaket mahasiswa Teknik Mesin UB

Episode II

Ciiiittt…!!! Sreetttt…!!! Brakkk!!!!

Badanku terguling ke kanan lalu terlentang di tengah jalan. Aku tidak segera bangun tetapi mengecek dulu bagian-bagian tubuhku yang terasa sakit. Terasa linu dan perih di lutut kanan. Perih terasa di tangan kanan dan kiri. Aku tidak bisa bangun sendiri. Lalu dua orang bergegas menolongku membopong ke pinggir jalan. Aku berjalan pincang sambil dibopong kedua penolongku.

Seorag pengendara mobil yang melintas di belakang motorku memberiku sebotol air minum. Kedua penolongku berusaha meminggirkan motorku. Aku membersihkan luka2ku dengan air dan tissue. Beberapa butir pasir menancap ke kulit lututku. Penolongku kini menemaniku sambil memberikan obat luka Betad***.

“Lho Mas, alumni Mesin Brawijaya, ya?”, rupanya ia melihat jaketku.

“Iya, saya angkatan 96.”, jawabku.

“Saya angkatan 98, Candra.”, ia memperkenalkan diri.

“Kenal dengan Si Ini, Si Itu?”, tanyaku.

Ternyata dunia ini begitu sempit. Dalam selang waktu yang tidak terlalu lama aku bertemu dengan dua alumni Teknik Mesin Brawijaya karena jaket.

Episode III

Sore itu aku menggeber motorku di sepanjang Jl Inspeksi Kalimalang, Tegaldanas dari arah KIIC.

“Diin! Diin!”, suara klakson dari motor di sebelah kananku. Sepertinya mau menyalip.

Aku pun memberinya ruang untuk menyalip dengan menepi ke kiri. Meski demikian ia masih juga menempel motorku. What the hell are you doing. Sudah dikasih jalan masih juga tidak mau menyalip. Di ruas jalan yang lurus dan tidak terlalu ramai terlalu ia membuka kaca helemnya.

“Mesin Brawijaya?”. ia langsung menodongku dengan pertanyaan.

“Iya. Angkatan 96”, jawabku.

“Saya juga. Saya angkatan 2006.”, alamakk beda satu dekade.

“Saya tinggal di Lippo Cikarang”, aku menimpali

“Saya tinggal di Citra Indah. Sebelumnya bekerja di EJIP sekarang KIIC.”, ia menjelaskan. Waoow! Jauh juga tempat tinggalnya dari KIIC. Dengan posisi tersebut setidaknya ia membutuhkan 1,5 jam untuk sekali perjalanan

Inilah Cikarang, Kabupaten Bekasi, di mana terdapat beberapa kawasan industri berskala besar. Konon 45% ekspor manufaktur nasional dihasilkan dari kawasan ini. Tidak heran jika di kawasan ini banyak alumni dari berbagai perguruan tinggi yang bekerja di sini.

Advertisements

Kue Pia (mooncake) dan Hari Sabtu

Ketika kemarin aku mendapatkan kue pia (flaky mooncake) di Indomaret maka aku pun teringat dengan masa-masa kecil. Pada masa itu, hari Sabtu adalah hari yang sangat kutunggu-tunggu. Bagi pekerja di bidang konstruksi bangunan, hari Sabtu adalah hari gajian. Bapak yang bekerja di bidang tersebut biasanya akan membelikan kue-kue ataupun biskuit yang tidak setiap hari bisa kami dapatkan. Yang menjadi favorit kami adalah roti sisir, marie wijen dan kue pia.

Kue pia (flaky mooncake)

Kue pia (flaky mooncake)

Kue pia (mooncake) ini bagian tengahnya terbuat dari kacang hijau yang dikupas kulit arinya sehingga berwarna kekuningan. Ini adalah versi mooncake yang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pasar-pasar maupun toko tradisional. Salah satu versi mooncake tradisional terenak dan termurah yang pernah kudapatkan di jual di tempat wisata Curug Ciherang Sukamakmur, Kabupaten Bogor. Harganya jika tidak salah hanya 6000 rupiah.

Kue yang berasal dari Tiongkok ini konon memiliki ratusan variasi dan bentuk. Dari bentuk bulat hingga kotak. Dari motif polos hingga motif aksara Cina pada bagian atasnya. Dari tekstur tepung yang crispy hingga jelly.