Berpindah-pindah pekerjaan – Banyak keuntungannya

Kemarin sempat mengobrol dengan teman seorang HR di perusahaan Jepang. Dia bercerita betapa sulitnya mencari seorang cost estimator. Refleks, otak ini langsung bekerja memilah-milah profil dari beberapa teman yang  cocok untuk posisi ini. Nihil. Tidak ada satupun. Selain teman HR tadi, sebelumnya ada dua teman lain yang masing-masing sedang membutuhkan production engineer dan sales.

Sore ini bertemu dengan teman lama, dulu sering gowes bersama. Bahkan kami pernah menggowes rute-rute yang cukup ekstrim dari segi jarak dan beratnya medan. Salah satunya bahkan digowes hanya berdua saja. Dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam!

Teman gowes ini bercerita tentang pekerjaannya setelah keluar dari perusahaan tempat kami bekerja dulu. Mulai dari marketing, sales, sampai cost estimating. Setidaknya sudah lima perusahaan ia jelajahi dengan pengalaman meliputi produksi, control vendor, industrial engineering dan marketing tadi.

Dengan melihat luasnya pengalaman teman gowes tadi dan kesesuaiannya dengan profil yang dibutuhkan teman-teman kerja, artinya teman gowes ini memenuhi kriteria dari ketiga lowongan tersebut, production engineer, cost estimator dan sales. Seandainya teman gowes tadi seumur hidupnya hanya di bidang produksi maka pilihanya banyak. Tetapi karena ia pernah memegang dan mengeksekusi berbagai jenis pekerjaan berbeda maka ketika terdapat lowongan jenis-jenis pekerjaan tersebut dia layak untuk menjadi kandidat.

Kutu loncat bukan hal buruk dan negatif. Terutama jika di masing-masing dahan tempat ia hinggap ia berhasil meninggalkan legacy, prestasi ataupun achievments yang terukur dan diakui.

Bagaimana anda akan menilai kehidupan anda?

How Will You Measure Your Life” by Clayton M. Christensen

Kelas saya di Harvard Business School dirancang untuk membantu mahasiswa memahami bagaimana teori manajemen yang bagus dan bagaimana ia dibangun. Saya menambahkan teori-teori dan model-model yang berbeda sehingga membantu mahasiswa berpikir tentang berbagai dimensi tugas seorang manajer umum dalam merangsang pertumbuhan dan inovasi. Pada setiap sesi kami mengamati sebuah perusahaan memakai kacamata teori-teori tersebut untuk menerangkan bagaimana perusahaan mendapatkan situasi tertentu dan menguji bagaimana tindakan-tindakan manajerial akan memberikan hasil yang diinginkan.

Di akhir sebuah perkuliahan, saya meminta mahasiswa saya untuk menerapkan kacamata teori-teori tersebut kepada diri mereka sendiri, untuk menemukan tiga jawaban meyakinkan terhadap tiga pertanyaan: Pertama, bagaimana saya bisa yakin bahwa saya akan bahagia dengan karir saya? Kedua, bagaimana saya bisa yakin bahwa hubungan saya dengan pasangan saya dan keluarga akan berakhir bahagia? Ketiga, bagaimana saya bisa menjauhi penjara? Meskipun pertanyaan ketiga terkesan bercanda, kenyataannya tidak demikian. Dua dari 32 mahasiswanya saya di Rhodes menghabiskan sebagian hidupnya di penjara. Jeff Skilling yang terkenal dengan skandal Enron adalah teman kuliah saya di Harvard Business School. Mereka dulunya adalah orang-orang baik, akan tetapi sesuatu dalam hidup mereka telah mendorong mereka ke arah yang salah.

Saat mahasiswa saya berdiskusi menemukan jawaban terhadap pertanyaan tersebutm saya membuka kehidupan saya sebagai studi kasus singkat, untuk menggambarkan bagaimana mereka bisa menggunakan teori-teori dari kelas bisnis mereka untuk memandu keputusan-keputusan hidup mereka.

Satu dari sekian teori-teori yang memberikan pemahaman pada pertanyaan pertama -bagaimana kita yakin bahwa kita akan bahagia bersama karir kita- berasal dari Frederick Herzberg, yang menyatakan bahwa uang bukanlah motivator paling kuat dalam hidup, melainkan kesempatan untuk belajar, berkembang dalam tanggungjawab, berkontribusi pada orang lain, dan penghargaan terhadap prestasi-prestasi.

“You could see a shift happening at HBS. Money used to be number one in the job search. When you make a ton of money, you want more of it. Ironic thing. You start to forget what the drivers of happiness are and what things are really important. A lot of people on campus see money differently now. They think, ‘What’s the minimum I need to have, and what else drives my life?’ instead of ‘What’s the place where I can get the maximum of both?’”

Patrick Chun, Harvard Business School, Class of 2010

Saya bercerita kepada mahasiswa saya secara singkat tentang visi yang saya miliki ketika saya menjalankan perusahaan yang saya dirikan sebelum menjadi dosen. Berdasarkan pengamatan saya, saya melihat salah satu manajer meninggalkan pekerjaannya di pagi hari dengan merasa dihargai dan percaya diri. Lalu saya membayangkan 10 jam berikutnya ia pulang ke rumahnya dengan perasaan tidak dihargai, tidak berguna dan rendah diri. Saya membayangkan betapa besarnya pengaruh perasaan tidak berharga yerhadap cara ia berinteraksi dengan anak-anaknya. Kemudian gambaran di pikiran saya bergerak cepat ke hari yang lain di mana saat pulang ke rumah ia merasa telah mempelajari banyak hal, dihargai karena mencapai hal-hal bernilai, dan memegang peranan penting terhadap keberhasilan beberapa inisiatif penting. Kemudian saya menggambarkan betapa positifnya pengaruh yang ia berikan kepada pasangan dan anak-anaknya.

Kesimpulan saya: Manajemen adalah profesi yang sangat mulia ketika ia dipraktikkan dengan benar. Tidak ada pekerjaan lain yang menawarkan beragam cara untuk membantu orang lain belajar dan berkembang, mengambil tanggungjawab, dihargai karena berprestasi dan berperan dalam kesuksessan tim. Dari hari ke hari semakin banyak mahasiswa MBA mendatangi kampus dan berpikir bahwa karis dalam bisnis berarti membeli, menjual dan berinvestasi dalam perusahaan. Ini adalah kemalangan.  Melakukan hal-hal tersebut tidak akan menghasilkan penghargaan mendalam seperti yang berasal dari pengembangan manusia.

Saya berharap mahasiswa saya menginggalkan kelas dengan pemahaman tersebut.

Sebuah teori yang membantu menjawab pertanyaan kedua -Bagaimana saya yakin bahwa hubungan saya dengan pasangan dan keluarga akan berakhir bahagia?- perhatikan bagaimana strategi dirumuskan dan diimplementasikan. Pengertian utamanya adalah strategi perusahaan ditentukan oleh tipe-tipe inisiatif dimana manajemen menanamkan modalnya. Jika alokasi sumberdaya perusahaan tidak dikelola dengan ahli, apa yang dihasilkan darinya bisa sangat berbeda dengan apa yang diinginkan manajemen. Karena sistem pengambilan keputusan perusahaan dirancang untuk mengarahkan investasi pada inisiatif-inisiatif yang memberikan hasil terukur dan cepat, perusahaan memberikan sedikit investasi pada inisiatif-inisiatif yang penting bagi strategi jangka panjang mereka.

Selama bertahun-tahun saya menyaksikan nasib dari teman-teman kuliah saya di HBS sejak tahun 1979, semakin banyak yang hadir di acara reuni tidak bahagia, bercerai atau terasing dari anak-anak mereka. Saya menjamin tidak satupun dari mereka lulus dengan strategi yang sengaja mendorong perceraian dan menjadi asing dengan anak-anak mereka. Nyatanya banyak dari mereka sedang menerapkan strategi tersebut. Alasannya? Mereka tidak menempatkan tujuan hidup (yang mulia) sebagai fokus saat mereka menghabiskan waktu, bakat dan energi mereka.

Cukup mengejutkan bahwa sejumlah besar dari 900 mahasiswa Harvard yang berasal dari berbagai belahan dunia  memberikan sedikit pemikiran pada tujuan hidup mereka. Saya memberi tahu mereka bahwa bisa jadi Harvard adalah kesempatan terakhir mereka untuk merefleksikan secara mendalam pertanyaan di atas. Jika mereka berpikir bahwa mereka akan memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk merefleksikannya kemudian, mereka pasti gila, karena hidup akan semakin penuh dengan tuntutan: Anda mengambil berbagai macam kredit sehingga harus bekerja 70 jam seminggu; anda memiliki pasangan dan anak-anak.

Bagi saya, memiliki tujuan hidup yang jelas sangat penting. Tetapi itu adalah hal yang saya pikirkan dengan keras dan dalam jangka waktu yang lama sebelum saya memahaminya. Ketika saya masih berstatus mahasiswa, saya tergila-gila dengan perkuliahan dan belajar, mencoba untuk  menjejalkan studi tambahan di Oxford. Saya memutuskan untuk menghabiskan satu jam setiap malam untuk membaca, berpikir dan berdoa kenapa Tuhan menciptakan saya ke dunia. Itu adalah komitmen yang sangat menantang, karena setiap jam ketika saya melakukan hal tersebut maka saya tidak mempelajari ekonometrik. Terjadi pertentangan apakah saya bisa menghabiskan waktu tersebut selain untuk belajar, tetapi saya melanjutkannya dan akhirnya berhasil menemukan tujuan hidup saya.

Andai saja saya menghabiskan tiap jam tersebut mempelajari teknik-teknik mutakhir untuk memperdalam masalah-masalah korelasi otomatis dalam analisa regresi, pasti saya akan menghabiskan hidup saya dengan buruk. Saya menerapkan perangkat eknometrik hanya beberapa kali dalam setahun tetapi saya menerapkan tujuan hidup saya setiap hari. Ini adalah satu hal yang paling berharga yang pernah saya pelajari. Saya menjamin mahasiswa saya jika mereka menyempatkan diri untuk menemukan tujuan hidup mereka, merek akan melihat di kemudian hari bahwa itu adalah salah satu hal paling penting yang mereka temukan di Harvard. Jika mereka tidak menemukannya, mereka hanya akan berkelanan tanpa arah dan terperangkap dalam samudera kehidupan yang keras. Jelasnya tujuan hidup mereka akan memudahkan pengetahuan tentang pembiayaan berbasis aktivitas, keseimbangan scorecard, kompetensi inti, inovasi penuh terobosan, empat P dan five forces (Michael H Potter).

Tujuan hidup saya berasal dari keyakinan dalam agama saya. Tetapi agama bukan satu-satunya hal yang memberikan arah bagi manusia(**). Sebagai contoh, salah satu dari mantan mahasiswa saya memutuskan bahwa tujuan hidupnya adalah membawa kejujuran dan kemakmuran ekonomi bagi negaranya, membesarkan anak-anak yang berkomitmen dan ingin mengajari orang lain tentang kejujuran dan kemakmuran, seperti hal yang ia lakukan.

Tujuan hidupnya terpusat pada keluarga dan orang-orang, seperti halnya tujuan saya.

Pemilihan dan memburu kesuksesan profesi adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut. Tetapi tanpa adanya tujuan, hidup akan terasa hampa.

Kita diajari di dalam ekonomi dan keuangan bahwa ketika kita mengevaluasi investasi-investasi alternatif, sebaiknya kita mengabaikan sunck cost dan fixed cost dan memutuskan berdasarkan marginal cost dan marginal revenue dari tiap alternatif. Kita mempelajari dalam kuliah kita bahwa doktrin ini telah membiaskan apa yang mereka lakukan/letakkan untuk sukses di masa lalu, bukannya memandu mereka untuk menciptakan kemampuan yang mereka butuhkan di masa depan. Jika kita tahu bahwa masa depan akan sama persis dengan masa lalu maka pendekatan terbuat baik-baik saja. Tetapi jika masa depan berbeda -dan sepertinya akan selalu begitu- maka itu adalah kesalahan jika dilakukan.

Teori ini menerangkan pertanyaan ketiga -bagaimana hidup dengan integritas (menjauhi penjara). Secara tidak sadar, kita sering memnfaatkan doktrin marginal cost dalam kehidupan pribadi kita ketika kita akan memilih anta yang benar dn yang salah. Kata hari kita, “Lihatlah, aturannya seharusnya orang-orang tidak melakukan hal ini. Tetapi dalam kasus  ini agak ringan, hanya kali ini saja, ini OK”. Marginal cost untuk melakukan hal yang salah “hanya kali ini” seolah-olah terlihat tidak seberapa godaannya. Tetapi ia akan menarikkita semkain dalam, dan kita bahkan tidak mampu melihat ke arah mana tujuan akhir kita dan harga total yang harus kita bayar saat memilih melakukan hal tersebut. Pembenaran intuk semua wujud kecerobohan dan ketidakjujuran yang mereka lakukan terletak pada ilmu ekonomi tentang marginal cost “hanya kali ini saja”.

* Diterjemahkan (sebagian) dari: “How Will You Measure Your Life” buah pikiran Clayton M. Christensen. Artikel tersebut merupakan bagian dari “HBR’s 10 Must Reads on Managing Yourself

** Sebagai muslimin/at kita justru meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya jalan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Itulah tujuan hidup yang hakiki.  (pent.)

Kembangkan jati diri dan identitas anda

“Diversify Yourself” by Peter Bregman (*)

Baru-baru ini seorang perempuan yang bekerja di France Telecom mengirim email ke ayahnya. Setelah itu ia melangkah ke jendela di lantai empat gedung ia berkantor, ia membukanya, melewatinya dan melompat untuk bunuh diri.

Emailnya tertulis: “Saya memutuskan untuk bunuh diri malam ini… Saya tidak bisa menerima reorganisasi perusahaan yang baru dilakukan.”

Jika ini hanya terjadi pada seorang perempuan yang depresi dan tidak mampu menghadapi perubahan, kita bisa mengabaikannya. Tetapi sejauh ini 24 orang karyawan France Telecom sudah bunuh diri sejak setahun yang lalu. Jumlah yang melakukan percobaan untuk bunuh diri lebih dari itu. Bahkan ada kasus eorang laki-laki menikam dirinya sendiri pada saat meeting.

Ketika dikonfrontasi dengan angka bunuh diri yang tinggi, manajemen France Telecom mengklaim dengan jumlah karyawan yang demikian besar angka tersebut tidak terlalu mengejutkan. Tetapi ada penyimpangan yang sedang terjadi, dan bukan hanya di France Telecom. Menurut Biro Statistik Buruh Amerika, bunuh diri terkait pekerjaan meningkat 28% antara tahun 2007 – 2008.

Mudah untuk serta-merta menyalahkan perusahaan. Sebuah artikel bagus di The Economist mengulas beragam hal – peningkatan produktivitas, resesi yang mengakibatkan PHK, komunikasi manajemen yang buruk – yang berkontribusi kepada lingkungan kerja yang menekan dan tidak memberikan harapan. Artikel tersebut berkesimpulan bahwa “perusahaan harus melakukan usaha lebih banyak daripada sekedar lip service terhadap sisi kemanusiaan dari manajemen. Tentu semua orang setuju. Memang banyak hal-hal yang bisa dan harus dilakukan pemimpin perusahaan untuk menangani buruhnya dengan perhatian, welas asih dan penghormatan.

Tetapi masalahnya lebih dalam dan rumit daripada sekedar manajemen yang tidak berperasaan yang tidak peduli apapun kecuali laba.

Masalah itu juga terletak pada kita. Bagaimana kita melihat dan mengartikan jati diri kita, identitas kita.

Pertanyaan yang selalu kita sampaikan ketika pertama kali bertemu dengan seseorang adalah “Kerja di mana?” atau “Apa pekerjaan anda?” Kita menjadi pekerjaan kita, profesi kita. Terhubung 24 jam 7 hari dengan smartphone, terobsesi mengecek mailbox dan voice mail, kita tidak menyisakan ruang untuk hal-hal lain bagi diri kita

Jika kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk bekerja, bepergian dalam rangka kerja, selalu memikirkan pekerjaan, selalu berkomunikasi maslah pekerjaan, maka kita akan melihat diri kita hanya sebagai pekerja, tidak lebih dari itu. Selama perkerjaan berjalan dengan lancar dan perusahaan juga sehat, tidak ada masalah dengan itu.

Tetapi ketika kita kehilangan pekerjaan atau pekerjaan kita terancam – hampir semua orang mengalaminya saat ini – maka eksistensi kita yang sebenarnya dalam pertanyaan. Menetapkan identitas kita hanya pada pekerjaan hanya membatasi dan mempersempit jati diri kita, dan membuat kita rentan depresi, merasa kurang berharga, kehilangan tujuan ketika pekerjaan terancam.

Dr. Paul Rosenfield, Assistant Clinical Professor of Psychiatry at Columbia University, memberi tahu saya dalam perbincangan terakhir. Siapakah saya jika anda engambil pekerjaan saya? Itu adalah sebuah pertanyaan yang sebaiknya kita memiliki sebuah jawaban mantap terhadapnya. Untungnya, sekali kita menyadari hal ini kita bisa melakukan sesuatu terhadap pertanyaan tersebut.

Kita bisa mengembangkan diri, memiliki beberapa jati diri.

Sehingga ketika salah satu identitas atau jati diri kita gagal atau hilang, kita masih memiliki identita atau jati diri lainnya, yang hidup. Jika anda kehilangan pekerjaan tetapi anda mengidentifikasi diri anda dengan kuat sebagai seorang ayah atau ibu, anda akan baik-baik saja. Jika anda seorang pemeluk agama yang kuat atau memandang diri anda sebagai seorang seniman, anda akan baik-baik saja. Jika anda melihat diri anda sebagai seorang atlit, atau sekedar seorang sahabat yang baik dan setia, anda akan baik-baik saja.

Menurut Dr. Rosenfield, ini adalah masalah kesehatan mental. “Orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental sering merasa bahwa identitasnya berkurang dan menjadi sakit mental. Salah satu cara penyembuhannya adalah dengan memperoleh kembali bagian-bagian lain dari identitas mereka- menjadi seorang sahabat, relawan, seniman, pecinta binatang, mahasiswa, dll.

Dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi perasaan berkurangnya identitas sebagai akibat dari perawatan dan pengobatan karena terganggunya kesehatan mental. Salah satu dokter berkata, “anda harus menerima kenyataan bahwa kesehatan mental anda memburuk” tanpa berkata “tetapi saya yakin anda lebih baik dari masalah kesehatan anda, dan anda masih memiliki potensi dan harapan untuk melakukan banyak hal di dunia”.

Bagian sulitnya: Tidak cukup hanya dengan membayangkan diri kita menjadi sesuatu tanpa kita berusaha mewujudkannya. Tidak akan membantu kita membayangkan diri kita sebagai seorang ayah tetapi kita jarang meluangkan waktu bersama anak-anak. Atau jika agama merupakan bagian terbesar identitas kita tetapi kita jarang melakukan ibadah.

Salah satu hambatan lainnya adalah Uang. Bagi sebagian besar orang, obsesi terhadap pekerjaan adalah keinginan untuk mendapatkan banyak uang agar bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Bagaimana kita bisa sedikit bekerja dan tetap bertahan.

Boleh jadi, satu-satunya jalan tidak hanya bertahan tetapi berkembang. Seperti yang pernah saya tulis tentang hal itu sebelumnya, mengambil jarak dan jeda terhadap pekerjaan bisa menjadi kunci peningkatan produktivitas kita.

Dan memiliki beragam identitas akan membantu peningkatan performa kita pada masing-masing identitas kita. Jadi semakin banyak kita menginvestasikan diri kita pada identitas beragam, semakin sedikit peluang kita untuk kehilangan salah satunya.

Bahkan seandainya kita kehilangan salah satunya, kita masih memiliki yang lainnya.

Jika anda masih mempercayai bahwa hanya pekerjaan anda yang mampu mendukung gaya hidup kita, maka sebaiknya anda mengurangi gaya hidup anda, sehingga anda tidak membunuh diri anda sendiri untuk mempertahankan gaya hidup tersebut.

Menjauhlah dari email dan makan malam lah bersama keluarga. Tinggalkan pekerjaan lebih cepat dan bermain lah bersama teman-teman. Pilihlah kegiatan keagamaan yang berarti bagi anda dan lakukan dengan tekun (**). Yang terpenting, konsisten, istiqomah – melakukan hal yang sama secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama akan memperkuat identitas kita.

Seorang sahabat saya kehilangan pekerjaannya setahun yang lalu. Saya meneleponnya dan menawarkan bantuan agar ia bisa mendapatkan pekerjaan baru secepatnya. Saya tahu ia keuangannya sedang sulit.

Saya terkejut akhirnya. Dia memberi tahu saya bahwa dia menunda mencari pekerjaan baru untuk beberapa bulan. Dia sedang hamil dan inginberfokus pada kehamilan untuk beberapa waktu. Dia terlalu sibuk membentuk identitasnya sebagai seorang ibu untuk menyamai identitasnya sebagai seorang pekerja.

Akhirnya saya menerima email dari dia membertahaukan bahwa ia telah bekerja lagi. “Saya menyukai pekerjaan ini”, ia memberi tahu saya. “Pekerjaan ini memberikan banyak kesempatan untuk mengasuh anak”.

 

*Diterjemahkan dari: “Diversify Yourself” ditulis Peter Bregman, CEO dari Bregman Partners  (https://hbr.org/2009/10/diversify-yourself&cm_sp=Article-_-Links-_-Top%20of%20Page%20Recirculation)

** Artikel ini mewakili pandangan kebanyakan orang Eropa bahwa agama adalah bagian terpisah dari manusia. Manusia boleh hidup tanpa agama. Sedangkan dalam Islam manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. Secara otomatis muslimin/at (pemeluk Islam) yang taat tidak akan mengalami krisis identitas atau jati diri semacam ini. (pent.)

 

Pekerjaan Hebat Karir Hebat|Great Work Great Career

Saya akan mengutip dari buku Great Work Great Career* tentang pekerjaan dan karir yang luar biasa.

============================================================================

Karier hebat Anda akan dimulai ketika anda berhenti mengajukan pertanyaan, “Bagaimana cara mendapatkan kenaikan gaji/jabatan?” dan mulai bertanya, “Perbedaan apa yang ingin saya buat? Apa warisan yang ingin saya tinggalkan?”

Pernyataan Kontribusi Anda adalah jawaban atas pertanyaan itu. Pernyataan Kontribusi Anda merangkum hal terbaik yang bisa Anda tawarkan terhadap tantangan yang membuat Anda bersemangat. Hal itu menjadi kemudi karir Anda. Dengan Pernyataan Kontribusi, Anda memiliki arah dasar untuk tujuan karir Anda.

Salah satu pernyataan Kontribusi terbaik yang pernah saya lihat adalah puisi yang ditulis oleh seorang guru muda bernama Taylor Mali, yang pernah ditanya oleh seorang teman yang mata duitan tentang apa yang dia hasilkan dalam pekerjaannya sebagai guru:

Kau tahu apa yang ingin kuhasilkan?

Aku membuat anak-anak bekerja lebih keras daripada yang mereka kira bisa lakukan…

Aku membuat orang tua melihat anak-anak mereka sebagaimana siapa diri mereka dan sosok yang bisa mereka capai…

Aku membuat anak-anak bertanya-tanya,

Aku membuat mereka mempertanyakan…

Aku membuat mereka menulis, menulis dan menulis…

Lalu aku membuat mereka membaca…

Perkenankan aku meringkasnya untukmu, agar kau tahu aku mengatakan yang sebenarnya:

Aku membuat perbedaan. Bagaimana dengan engkau?

Pernyataan Kontribusi sebaiknya kita buat untuk setiap posisi ataupun proyek yang kita ambil, serta untuk karir kita secara keseluruhan.

============================================================================

Saya akan memulainya dengan Pernyataan Kontribusi Saya:

Saya menggunakan pendidikan dan pengalaman saya di bidang industri untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan orang lain dengan cara mengajar dan menulis.

Ada empat poin dari Pernyataan Kontribusi Saya di atas:

1. Pendidikan : untuk bisa mengajar maka saya harus memperoleh pendidikan S2. Kini saya sedang berjuang menyelesaikannya. Bukan sekedar memperoleh gelar ataupun memenuhi persyaratan mengajar, tetapi untuk memberikan pondasi keilmuan yang kokoh.

2. Pengalaman industri : Agar apa yang saya sampaikan/ajarkan lebih membumi dan nyata, saya akan menggunakan kasus-kasus dan pengalaman di industri.

3. Mengajar : Akhir-akhir ini saya berpikir mengajar adalah passion saya yang belum secara maksimal saya lakukan dan kerjakan sampai saat ini. I think teaching is nice.

4. Menulis : Hal yang paling ingin saya kerjakan sejak dari bangku sekolah. Alhamdulillah, sejak tahun 2009 akhirnya saya bisa memiliki blog dan rajin menulis. Berikutnya saya ingin menulis buku. Melalui tulisan saya ingin berbagi informasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.

Apakah Anda sudah memiliki Pernyataan Kontribusi??

*) Stephen R. Covey & Jennifer Colosimo. 2013. Great Work Great Career – Cara menciptakan karir hebat dan berkontribusi dengan luar biasa. Jakarta: Dunamis Publishing

Great Work Great Career

Great Work Great Career