Lapangan Terbang di sekitar Jakarta

Mereka yang terbiasa bepergian dengan pesawat udara tentu tidak asing dengan Bandara Sukarno-Hatta dan Halim Perdanakusumah, dua bandara yang menjadi urat nadi transportasi Jakarta dan area di sekitarnya. Selain kedua bandara tersebut, terdapat sejumlah Lapangan Terbang (airstrip) yang keberadaanya kurang populer, bahkan banyak orang yang tidak mengetahuinya.

Lapangan Terbang Pondok Cabe

Lapangan Terbang Pondok Cabe adalah lapangan terbang milik Pelita Air, anak perusahaan Pertamina. Secara administratif terletak di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

Selain melayani operasional Pelita Air, Lapangan Terbang Poncok Cabe juga digunakan untuk perawatan pesawat milik Pelita Air, pangakalan Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) dan pangkalan Polisi Air dan Udara (Polairud).

Lapangan Terbang Pondok Cabe

Lapangan Terbang Budiarto

Lapangan Terbang Budiarto adalah lapangan terbang milik Kementerian Perhubungan RI. Terletak di Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Bandara ini merupakan sarana pendidikan dan latihan bagi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia.

Lapangan Terbang Budiarto

Lapangan Terbang Rumpin

Lapangan Terbang Rumpin adalah lapangan terbang milik TNI Angkatan Udara. Lapangan terbang ini merupakan peninggalan dari masa pendudukan Jepang pada masa Perang Dunia II. Lapangan terbang ini bisa dipastikan yang paling tidak dikenal dari dua lapangan terbang yang tidak terkenal di atas karena selain lokasinya paling dan jauh dari lalu lintas utama, lapangan terbang ini lama terbengkalai sebelum direvitalisasi.

Sejak tahun 2012 lapangan terbang ini kembali beroperasional sebagai lapangan terbang darurat, pelatihan dan markas Detasemen Bravo Paskhas.

Lapangan Terbang Rumpin

 

Lokasi Lapangan Terbang (Airstrip) di sekitar Jakarta

Snack dan makanan ringan halal di Ho Chi Minh City (Saigon)

Malam itu setelah belanja di Ben Thanh Market kami coba mampir ke Family Mart untuk melihat-lihat snack dan makanan ringan ala Vietnam. Kami menemukan Indomie Goreng seharga 6000 dong. Penasaran kami coba untuk melihat-lihat mie jenis lain. Ternyata ada juga mie buatan Vietnam yang berlabel halal.

Label Halal pada Mie Ngon Ngon

Ngon Ngon – Halal noodles

Setelah itu kami menemukan beberapa snack lain, salah satunya Green Peas alias kacang polong hijau dengan Label Halal. Pada Label Halal tertulis “Islamic Community of HCMC VN”.

Halal Green Peas – Vietnam

Kopi “O” khas Batam

Saya sudah berkunjung ke Batam tiga kali. Di tiap kunjungan tersebut saat makan siang atau malam, tak lupa selalu memesan Kopi “O”. Salah satu alasan karena di Bekasi atau Jakarta kopi murah didominasi oleh kopi sachet. 

Nahh di Batam kopi non-sachet tersebut dijual dengan harga yang masuk akal. Kisarannya 6-10 ribu per cangkir. Dan hampir semua warung makan menyediakan kopi tersebut. Sementara di Bekasi atau Jakarta kopi non-sachet biasanya hanya ada di kafe. Tahu sendiri kan harga makanan dan minuman di kafe kurang ramah bagi kantong.

Rasa kopinya kental dibanding kopi hitam sachetan merek terkenal. Gulanya tidak terlalu banyak dan selalu dibiarkan dalam kondisi belum teraduk alias masih mengendap di bagian bawah cangkir/gelas. Jika kita suka kopi pahit sebaiknya tidak usah diaduk.

Bekerja ditemani kopi O

Kopi O dan Mie Tarempa

Terobosan Jepang untuk menarik wisatawan Muslim – Heartfelt hospitality for Muslim travellers

Kekhawatiran yang banyak menghinggapi para wisatawan, pelajar ataupun pebisnis ketika mengunjungi negara-negara Asia Timur (terutama Jepang dan Korea Selatan) adalah cara mendapatkan makanan yang halal. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan dibanding ketika melakukan perjalanan ke RRC di mana di negara tersebut banyak terdapat komunitas muslim Hui dan mereka relatif banyak menyebar ke penjuru RRC. Dengan menyebarnya mereka maka ikut menyebar pula berbagai restoran atau rumah makan yang menyediakan makanan halal.

Sementara itu di Jepang dan Korea Selatan hal serupa tidak terjadi. Komunitas muslim di kedua negara tersebut sangat sedikit dan hanya berada di kota-kota besar. Meski demikian kini di Jepang komunitas muslim mulai bertambah banyak. Selain itu pemerintah Jepang juga mulai memberikan perhatian kepada kekhawatiran yang menghinggapi para pelancong/musafir muslim.

Meski awalnya lebih banyak didorong oleh faktor binis pariwisata, dalam rangka menarik lebih banyak wisatawan dari negara-negara yang banyak berpenduduk muslim, perhatian pemerintah Jepang kepada pariwisata yang ramah terhadap muslim memberikan banyak efek positif bagi para pebisnis, pelajar, dan muslim lainnya yang memiliki urusan di Jepang.

Tipikal orang Jepang, ketika mengadopsi hal baru maka mereka akan melakukannya dengan serius. Demikian juga halnya dengan turisme halal ini. Jepang bergerak aktif dan proaktif dalam mengadopsi konsep makanan halal. Kini mereka mulai mendorong semua pihak terkait dalam dunia pariwisata untuk menyediakan makanan halal ataupun memiliki sertifikasi halal.

Upaya Jepang untuk menarik wisatawan muslim pun dilakukan dengan gencar. Selain mensuplai media-media di negara-negara muslim dengan perkembangan turisme halal, mereka juga aktif berkampanye di dunia maya. Salah satunya melalui Youtube. Jangan heran jika akhir-akhir ini di Youtube anda mendapatkan iklan seperti ini:

Heartfelt hospitality for muslim travellers

Heartfelt hospitality for muslim travellers

Jika kita klik iklan tersebut maka akan mengarah kepada situs berikut:

JNTO

JNTO

Bagi muslim hal ini tentu perkembangan yang menggembirakan. Selain mempermudah perjalanan ataupun wisata mereka ke Jepang, kita berharap hal ini bisa menjadi sarana dakwah di Jepang. Turisme halal bisa menjadi awal bagi masyarakat Jepang untuk mengenal kemuliaan ajaran Islam.

Masyarakat Jepang yang terkenal sangat rasional semoga segera menyadari bahwa dibalik penekanan makanan halal terdapat manfaat kesehatan luar biasa. Bahwa daging dari hewan yang disembelih secara Islami jauh lebih sehat dibanding daging dari hewan disetrum atau ditusuk, karena berbagai zat berbahaya yang terkandung di dalam darah hewan sudah dikeluarkan sebelum dikonsumsi.

Dalam rangka menarik wisatawan muslim, Selandia Baru kini juga mulai melakukan usaha-usaha serupa.

Orang tua tak boleh mesra?

Saat libur lebaran kemarin salah satu kegiatan yang sering saya lakukan bersama istri adalah jalan-jalan pagi. Jika di Malang rute favorit adalah ke persawahan yang ada di sebelah barat dusun dengan latar pemandangan Gunung Arjuna dan Kawi-Panderman. Saat di Tulangan, Sidoarjo rute favorit kami adalah sepanjang saluran irigasi yang melintas di belakang rumah kakak ipar sampai ke Pasar Tulangan.

Sawah dengan latar Gunug Arjuna di pagi hari

Sawah dengan latar Gunug Arjuna di pagi hari

Sudah menjadi kebiasaan kami saat berjalan-jalan selalu bergandengan tangan. Begitu juga saat dia angkutan umum seperti bus atau kereta api, saat anak-anak lebih memilih duduk sendiri supaya bebas melihat-lihat pemandangan kami memanfaatkan kesempatan itu untuk saling mengenggam. Secara bergantian biasanya kami saling memijit ruas-ruas jari. Terasanya nyaman dan dekat.

Pagi itu seperti pagi lainnya saat anak-anak masih terlelap kami menikmati udara pagi yang masih segar dengan berjalan-jalan ke arah pasar Tulangan menyusuri tepian sungai. Tentu sambil bergandengan tangan. Kami membayangkan sedang menikmati tepian sungai Seine di kota Paris. Romantis kan?

Setelah puas berputar-putar di dalam pasar menyaksikan aktivitas pedagang-pembeli yang ramai semarak, kami pulang dengan menyusuri jalan raya. Dua ratus meter dari pasar kami berpapasan dengan anak-anak usia SMP yang sedang jogging. Beberapa meter di depan kami mereka tampak berbisik-bisik dan tersenyum-senyum sambil sesekali melihat ke arah kami. Saat posisinya sejajar dengan kami saya sempatkan memperhatikan mereka dan rupanya mereka masih melihat ke arah kami.

Mungkin pemandangan orang tua yang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan kurang lazim bagi mereka. Mungin mereka berpikir “ini orang tua kok mesra banget, masih seperti anak-anak muda yang lagi pacaran” (saya termasuk yang tidak setuju dengan konsep pacaran kecuali pacaran setelah pernikahan 🙂 ).

Mesra dengan pasangan mestinya tidak dibatasi dengan usia. Bahkan saat sudah menjadi kakek-nenek pun kemesraan harus tetap ada.

Kemesraan suami isteri ini juga dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Jika kita simak tulisan dibalik pranala di atas ternyata apa yang saya lakukan bersama istri juga dicontohkan oleh Rasulullah saw.

 

Sampul buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Sampul buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Naik kereta api, tuut… tuut… tuut!

Lagu “Kereta Api” adalah salah satu lagu yang sangat disukai anak-anak, termasuk Emil dan Rafa. Ditambah lagi dengan film animasi tentang kereta api uap bernama Thomas, obsesi anak-anak untuk naik kereta api semakin menggebu. Di Sulawesi belum ada kereta api. Maka jauh-jauh hari sebelum Lebaran mereka sudah mengingatkan agar diajak naik kereta api saat berlibur ke Malang.

Ruang tunggu Stasiun Singosari

Ruang tunggu Stasiun Kereta Api Singosari

Setelah gagal naik kereta api selama 2x Lebaran akhirnya Lebaran 1435 Emil dan Rafa mendapat kesempatan naik kereta api ekonomi Penataran jurusan Malang-Surabaya. Jenis transportasi masal di atas rel ini rupanya sangat digemari oleh masyarakat apalagi di masa lebaran seperti ini. Kami kesulitan untuk mendapatkan tiket yang berurutan sehingga satu kursi harus terpisah dari tiga kursi lainnya.

Tiket Kereta Api Penataran, Malang-Surabaya

Tiket Kereta Api Penataran, Malang-Surabaya

Dengan harga tiket perorang 5.500 rupiah sangat murah jika dibandingkan dengan harga tiket bus Malang-Surabaya yang harganya 13.000 rupiah. Di tiket tertera jadwal keberangkatan dari Stasiun Singosari 12:26 tetapi kereta api mengalami keterlambatan hingga jam 13:30.

Kereta apiku datang

Kereta apiku datang

Begitu kereta api berjalan anak-anak antusias berdiri di jendela sambil melihat-lihat pemandangan di luar. Seperti biasa si Emil yang terobsesi dengan peta mulai memainkan aplikasi Maps di ponsel ayah. Di peta ia melihat-lihat jalur kereta api dan nama-nama stasiun yang akan dilewati.

Setelah bosan bermain dengan peta si Emil meminta jalan-jalan di lorong kereta. Di salah satu pintu keluar yang berada di sambungan kereta si Emil menemukan PW (posisi wenak) untuk melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan. Akhirnya sepanjang segmen Lawang-Bangil si Emil hanya sesekali duduk di bangku. Sebagian besar waktu ia habiskan untuk berdiri di pintu sambil melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan.

Melihat pemandangan melalui jendela pintu keluar kereta api

Melihat pemandangan melalui jendela pintu keluar kereta api

Si Rafa yang hanya ditemani bunda akhirnya ngambek karena merasa ditinggal dan berkurang teman perjalanannya. Akhirnya menjelang Stasiun Bangil, si nona cantik Rafa Kamilah ikut-ikutan berdiri di pintu keluar.

Ono rego ono rupo. Dengan harga tiket hanya 5.500 dan menyandang status kereta api ekonomi maka kereta ini sering berhenti di stasiun untuk memberikan jalan bagi kereta api kelas bisnis. Perhentian terlama berada di Stasiun Lawang dan Bangil. Keterlambatan satu jam ditambah dengan perhentian beberapa kali membuat jarak Singosari Sidoarja ditempuh selama tiga jam.

Selain waktu tempuh yang lama, kekurangan dari kereta api ekonomi ini adalah AC-nya kurang dingin dan penumpang yang suka menyampah sehingga kereta menjadi kumuh. Begitu disapu petugas kebersihan maka sampah pun menggunung dari kolong-kolong kursi. Kebersihan memang belum menjadi budaya sebagian besar orang Indonesia.

Sampah penumpang kereta api

Sampah penumpang kereta api

Peta rute penerbangan Sriwijaya Air salah menggambarkan wilayah Indonesia

Membuka-buka inflight magazine sambil melihat rute-rute penerbangan yang dilayani suatu maskapai penerbangan adalah salah satu kegemaran saya. Dengan cara ini saya mendapatkan info atau gambaran tentang interkoneksi antar kota di Indonesia.

Yang mengejutkan, peta rute penerbangan Sriwijaya air menggambarkan wilayah Natuna dengan warna abu-abu yang berarti Natuna bukan wilayah Indonesia. Pada peta rute penerbangan Sriwijaya Air, wilayah Indonesia digambarkan berawarna biru. Sementara wilayah di luar Indonesia digambarkan berwarna abu-abu.

Mungkin banyak orang (termasuk Sriwijaya Air) menganggap kesalahan ini sebagai kesalahan kecil. Tetapi dalam konteks kedaulatan wilayah maka ini adalah kesalahan besar. Sebagai salah satu maskapai yang menjadi etalase atau cerminan bangsa Indonesia, Sriwijaya Air seharusnya tidak melakukan kesalahan fatal seperti ini.

Peta-peta yang dipakai hendaknya merujuk kepada peta resmi yang dikeluarkan Bakosurtanal ataupun Depdagri. Ini untuk menghindari kerancuan, kesalahan informasi sekaligus mempertegas kedaulatan wilayah Indonesia. Semua peta Indonesia yang dipakai oleh siapapun harus konsisten menunjukkan wilayah-wilayah yang menjadi kedaulatan Indonesia.

Peta Indonesia versi Sriwijaya Air (Natuna bukan wilayah Indonesia)

Peta Indonesia versi Sriwijaya Air (Natuna bukan wilayah Indonesia)

Saya menantang anda untuk menemukan lokasi Natuna pada peta di atas. 🙂

=============================================================

Saya menindaklanjuti temuan kesalahan peta tersebut ke redaksi Sriwijaya pada tanggal 28 Oktober 2014 seperti gambar di bawah ini.

email sriwijayaPada tanggal 7 Januari 2015 saya kembali naik penerbangan Sriwijaya Air SJ-581 dari Makassar ke Jakarta. Kesalahan tersebut sudah diperbaiki oleh mereka. Kepulauan Natuna dan Sangihe Talaud sudah digambar berwarna biru. Hasilnya bisa dilihat pada gambar berikut ini.

Ralat peta penerbangan Sriwijaya Air

Ralat peta penerbangan Sriwijaya Air