Gagal interview karena bahasa Inggris – Pentingnya bahasa Inggris bagi freshgraduate

Freshgraduate minim bahasa Inggris

Screenshot di atas adalah aktual. Curhat dari seorang freshgraduate yang gagal interview karena interview memakai bahasa Inggris sedangkan ia menawar agar dilakukan dengan bahasa Indonesia.

Jika kasus tersebut terjadi di tahun 90-an atau awal tahun 2000-an masih bisa dimaklumi. Akan tetapi jika lulusan tahun S1 tahun 2017 lalu tidak percaya diri saat diinterview dengan bahasa Inggris tentu ada yang salah. Bahkan seandainya para lulusan S1 itu bekerja di perusahaan lokal pun kemampuan berbahasa Inggris tetap dibutuhkan.

Perusahaan-perusahaan lokal kini banyak berhubungan dengan pelanggan di luar negeri. Rantai pemasok banyak melibatkan supplier dari luar negeri. Mesin-mesin canggih kebanyakan masih disuplai dariluar negeri dimana manual dan panduannya memakai bahasa Inggris. Bahkan beberapa perusahaan lokal merekrut tenaga ahli dari luar negeri. Tanpa kemampuan berbahasa Inggris mustahil kita akan survive di lingkungan seperti itu.

Di era ponsel cerdas, belajar bahasa Inggris bukan hal mewah ada beribu ragam aplikasi yang menawarkan pelajaran bahasa Inggris dengan gratis tis..tis..!! Bahkan aplikasi tersebut di dalamnya memakai bahasa Indonesia saat menjelaskan konsep pelajarannya, misalnya Hello English. Begitu juga Youtube, laman web tempat berbagi video menyediakan fasilitas subtitle sehingga ketika kita mendengar dialog dalam bahasa Inggris kita bisa tahu cara penulisannya. Meskipun tidak 100% persen akurat tetapi sangat membantu bagi kita-kita yang belum canggih pendengaran bahasa Inggrisnya, termasuk saya.

Cara lain adalah dengan membaca majalah dan buku berbahasa Inggris. Ini adalah cara yang saya lakukan mulai dari awal kuliah sampai saat ini untuk menambah kosakata bahasa Inggris. Apakah waktu kuliah saya masuk golongan mahasiswa kaya sehingga bisa membeli buku-buku dan majalah-majalah berbahasa Inggris? Tidak. Saya mahasiswa pas-pasan yang menabung uang untuk membeli buku-buku dan majalah-majalah bekas berbahasa Inggris.

Dulu di kota Malang ada “Blok M” lapak-lapak penjual buku-buku dan majalah-majalah bekas yang berlokasi di Jalan Majapahit. Di tempat itulah saya biasa membeli majalah Readers Digest berbahasa Inggris. Sebenarnya itu adalah majalah masih baru yang tidak laku terjual kemudian dijadikan majalah bekas dengan cara dipotong pojoknya atau disobek sampulnya. Bodo amat! Yang penting isinya 🙂

Cara lain mendapatkan bahan bacaan berbahasa Inggris adalah dengan rajin mendatangi bookfair atau pekan buku. Biasanya di situ ada booth Periplus yang menjual buku-buku berbahasa Inggris dengan diskon besar-besaran bahkan banyak buku hanya seharga sebungkus Nasi Padang. Bayangkan pengetahuan dan ilmu yang berharga hanya dihargai sebungkus Nasi Padang.

Saya bukanlah termasuk kategori mahasiswa yang canggih dan bagus secara akademik. Saya merasa keberhasilan saya bekerja di perusahaan multinasional salah satunya karena kemampuan bahasa Inggris saya. Saya melalui wawancara dengan percaya diri karena yakin dengan kemampuan bahasa Inggris yang saya miliki. Apakah bahasa Inggris saya nyerocos cas cis cus? Tidak juga. Akan tetapi saya memiliki kosakata setidaknya untuk menjawab pertanyaan interviewer dan kosakata untuk mengemukakan gagasan atau pendapat saya.

Di perusahaan saat ini (dari Amerika Serikat), sebenarnya posisi yang saya lamar adalah Sales Engineer. Saya gagal mendapatkan posisi tersebut karena tidak memiliki sales background. But the interviewer told me that he liked my English and he offered me another position as technical service engineer. Karena si interviewer senang dengan bahasa Inggris saya (I made a good impression) dia menawarkan posisi lain di perusahaan. Alhamdulillah saya mendapatkannya.

Buku-buku murah berbahasa Inggris di Toko Buku Periplus

Advertisements

Buku murah di Toko Buku Periplus Bandara Internasional Juanda Surabaya

“Ketika harga buku hanya seharga sebungkus nasi maka tidak ada alasan untuk tidak membelinya”

Bayangkan ada sebuah buku yang harga awalnya 306.000 kemudian turun menjadi 114.000 dan masih didiskon 30% sehingga harga akhirnya adalah 79.800. Artinya harga akhir hanya 26% saja.

Itulah yang terjadi di Toko Buku Periplus Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Buku-buku yang masuk kategori bisnis dan self-help diberi diskon besar-besaran. Bahkan beberapa buku harga akhirnya hanya 51.000 rupiah saja.

Bahkan beberapa waktu lalu saya bisa mendapatkan buku Global Tilt dari Ram Charan hanya seharga 30.000 rupiah. Tiga puluh ribu rupiah adalah harga sebungkus nasi padang dengan lauk komplit.

Bayangkan hanya dengan 30.000 rupiah, kita mendapatkan buah pikiran, kebijaksanaan, pengetahuan terbaik dari para pakar yang berasal dari pusat ilmu pengetahuan (berbahasa Inggris).

Buku murah di Toko Buku Periplus Bandara Juanda

Jadi ketika anda sedang di bandara jangan lupa untuk mampir ke Toko Buku Periplus. Siapa tahu kita akan mendapatkan harta karun (buku-buku murah) di situ.

Perpustakaan Keliling Bunda

Ketika melihat buku-buku bocah semakin banyak terpikir untuk berbagi dengan anak-anak di sekitar rumah. Kebetulan di sore hari Bunda mengantar Kamilah dan Emil mengaji. Nahh buku-buku tersebut bisa dibawa lalu saat anak-anak istirahat dari mengaji mereka bisa membacanya di emperan masjid.

Dipilihlah beberapa buku yang tidak terlalu tebal dan banyak gambar. Alasannya supaya anak- anak bisa segera menyelesaikan bacaannya dan buku-buku bergambar lebih menarik.

Ternyata buku-buku yang dibawa Bunda laris dan disukai anak-anak. Beberapa anak yang belum menyelesaikan bacaannya berpesan agar besok dibawa lagi.

Sebagian koleksi perpustakaan keliling Bunda

Membaca buku saat istirahat mengaji

Buku murah | Makers dan Global Tilt

Bookfair selalu menyediakan kejutan bagi penggemar buku. Kadang-kadang di antara tumpukan novel, roman, komik, buku-buku kadaluarsa, teenlit & chicklit yang diobral oleh Periplus terselip buku-buku “berbobot” dengan harga yang tidak masuk akal (sangat murah).

Seperti saat Indonesia International Bookfair 2014 kemarin saya menemukan dua buah buku Makers – The New Industrial Revolution dan Global Tilt – Leading Your Business Through the Great Economic Power Shift. Buku pertama terbitan tahun 2012 dari harga $26 didiskon menjadi 25.000 rupiah. Buku kedua terbitan tahun 2013 dari harga $28 didiskon menjadi 30.000 rupiah. Artinya kedua buku tersebut didiskon lebih dari 80%.

Buku murah | Maker dan Global Tilt

Buku murah | Makers dan Global Tilt

Di antara kedua buku tersebut, Maker lebih cocok dengan saya karena berkaitan dengan bidang industri di mana masih bersentuhan dengan mechanical engineering. Sementara Global Tilt murni buku ekonomi. Akan tetapi dengan harga yang semurah itu plus buku dengan kondisi yang bagus, bersampul keras (hardcover) dan memakai kertas buku (book paper, bukan HVS), mendorong saya untuk membelinya.

Bagi anda yang gemar membaca tentu merasakan bahwa buku-buku yang dicetak dengan book paper lebih nyaman dibaca. Warnanya yang agak kecoklatan membuatnya tidak menyilaukan mata dan bobotnya biasanya lebih ringan.

 

Buku murah – buku mahal

Buku tebal seharga ratusan ribu belum tentu lebih mahal jika kita lihat jumlah halaman, isi dan pengarangnya dibanding buku yang harganya lebih murah.

Saat membeli sebuah buku, seringkali pertanyaan yang timbul adalah,

“Seberapa besar mafaatnya? Bernilai atau tidak?”

“Apakah pengarangnya kompeten menulis tema sesuai judulnya?”

Overpriced ataukah wajar harganya?”

Beberapa waktu yang lalu saya membeli sebuah buku seharga 37000 untuk 126 halaman. Meski saya kurang menyukai komik akan tetapi isi dari buku ini sangatlah menarik sehingga saya memutuskan untuk membelinya.

Selang beberapa waktu kemudian saya tertarik dengan sebuah buku akan tetapi harganya cukup mahal, 13000. Sempat ragu beberapa saat sampai kemudian teringat bahwa beberapa minggu yang lalu pernah membeli buku dengan harga 37000. Lalu iseng-iseng saya coba membandingkan, 37000/126 halaman = 294 rupiah per halaman. Kemudian saya hitung buku yang hendak saya beli, 130000/603 halaman = 216 halaman. Artinya buku kedua ini jauh lebih murah harga per halamannya dibanding buku pertama meski total harganya lebih mahal.

Tabel di bawah ini menunjukkan contoh perbandingan harga per halaman dari beberapa buku yang ada di rak buku saya.

Perbandingan harga buku

Perbandingan harga buku

Cara di atas adalah cara termudah untuk memilih buku berdasarkan harga per halamannya. Kesimpulannya, yang berharga ratusan ribu belum tentu lebih mahal jika dibanding buku yang berharga puluhan ribu.

Cara kedua adalah dengan melihat jumlah kontennya. Cara ini sangat cocok untuk membandingkan buku yang berisi bunga rampai atau kumpulan tulisan pendek yang masing-masing judulnya merupakan topik yang berdiri sendiri.

Untuk lebih jelasnya kita akan membandingkan dua buku. Yang pertama “33 Pesan Nabi Sholallohu alaihi wasalam” yang berharga 37000. Yang kedua “Materi Pengajian Setahun” seharga 130000. Buku pertama harga per pesan adalah 37000/33 = 1121 rupiah. Buku kedua harga per topik adalah 130000/365 = 356 per topik. Sekali  lagi ini menunjukkan bahwa buku yang berharga ratusan ribu belum tentu lebih mahal dibanding buku yang berharga puluhan ribu.

Tren baru|Membeli buku sambil beramal

Dalam kurun waktu dua minggu ini, secara kebetulan ketika bermain ke Toko Buku Salemba Lippo Cikarang saya selalu menemukan buku-buku yang oleh penulisnya royaltinya disumbangkan. Bagi penggemar buku tentu saja hal ini semakin menambah alasan untuk membeli sebuah buku apalagi jika isi maupun topiknya sesuai dengan minat.

Royalti buku The Jongos Way disumbangkan bagi Bulan Sabit Merah Indonesia

Royalti buku The Jongos Way disumbangkan untuk Bulan Sabit Merah Indonesia

Pada kesempatan pertama saya menemukan buku motivasi dan pengembangan diri berjudul The Jongos Way karya Muhsin Budiono. Pada kesempatan kedua saya menemukan buku sastra perjalanan berjudul Perjalanan ke Atap Dunia karya Daniel Mahendra. Royalti buku The Jongos Way oleh penulisnya disumbangkan bagi lembaga kemanusiaan Bulan Sabit Merah Indonesia. Sementara buku Perjalanan ke Atap Dunia oleh penulisnya disumbangkan bagi Rumah Dunia, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dibidang literasi yang berada di Serang Banten yang dikelola oleh Gol A Gong.

Semoga keberkahan selalu dilimpahkan bagi mereka yang menyumbangkan royalti bukunya karena sesungguhnya mereka telah melakukan dua kebaikan sekaligus. Dengan menyusun buku mereka menginspirasi dan mencerdaskan orang lain. Royalti buku sebagai imbalan materi atas jerih payahnya justru mereka sumbangkan bagi kemanusiaan maupun pendidikan. It’s very hard not to buy those kind of books.

Royalti buku Perjalanan ke Atap Dunia disumbangkan untuk Rumah Dunia

Royalti buku Perjalanan ke Atap Dunia disumbangkan untuk Rumah Dunia

 

Boardbook yang lebih murah daripada sebungkus rokok

Buku-buku ini saya temukan ketika iseng berjalan-jalan di area pasar buku murah Blok M Square (saya tidak menyebut pasar buku bekas karena buku-buku baru pun banyak dijual di sini) .

Boardbook ini berisi gambar-gambar sederhana dengan warna yang cerah dan semarak sehingga memikat anak-anak. Selain bermaksud mengenalkan beragam tema mulai dari pengenalan abjad, pengenalan profesi dan lingkungan sekitar, buku ini juga bertujuan untuk menumbuhkan ketertarikan dan kecintaan anak-anak kepada buku.

Harga normal sesuai label 20.000 per buku. Tetapi di pasar buku murah Blok M Square anda hanya membayar separuh harga, 10.000 per buku. Dan jika anda membeli 5 buku maka harga per buku hanya 9.000 rupiah. Lebih murah dari harga sebungkus rokok. Ini tentu sangat memotivasi bagi siapa saja yang ingin memberikan pengenalan dan penumbuhan minat anak-anak kepada buku.

Boardbook

Boardbook

A board book is a type of book printed on thick paperboard. The paperboard is printed and used for both the cover and the interior pages. Each page panel is a minimum of two plies of paperboard thickness. Unlike a typical paper book that is bound with saddle stitching (staples) or perfect binding, a board book’s pages are specially folded and bound together. Board books are very durable and consequently intended for small children, who often tend to be less gentle with books. (wikipedia)