Polisi tidur alias roadbump|Masochist (senang menyiksa diri) ala orang Indonesia

Kemarin ketika berkunjung ke rumah teman kembali saya menemukan fenomena di mana warga keranjingan membuat polisi tidur alias roadbump di jalan di dalam komplek perumahan mereka. Meskipun demikian  ia tidak seekstrim salah satu blok di perumahan VMC di mana hampir tiap 10 meter ada polisi tidur.

Konon polisi tidur ini untuk membatasi laju mobil dan motor. Dengan adanya polisi tidur ini maka otomatis mobil dan motor akan mengurangi laju kendaraannya jika tidak mau terguncang-guncang atau bahkan terlempar.

Sayang pembuatan polisi tidur ini tidak ada standar baku. Yang sering terjadi adalah terlalu runcing, terlalu tinggi dan terlalu rapat. Kebanyakan polisi tidur ini tidak terlalu lebar dan hanya memiliki satu radius. Konstruksi semacam ini yang sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan berkendara apapun jenis kendaraannya.

Polisi tidur memang efektif mengurangi laju kendaraan tetapi ia juga sangat mengganggu, memperbesar konsumsi BBM karena setelah pengereman kendaraan butuh akselerasi plus menimbulkan polusi suara karena akselerasi membutuhkan bukaan throttle yang lebar. Bahkan anak-anak yang gemar bersepeda juga akan terganggu dengan adanya polisi tidur ini.

 

Buku murah di Toko Buku Periplus Bandara Internasional Juanda Surabaya

“Ketika harga buku hanya seharga sebungkus nasi maka tidak ada alasan untuk tidak membelinya”

Bayangkan ada sebuah buku yang harga awalnya 306.000 kemudian turun menjadi 114.000 dan masih didiskon 30% sehingga harga akhirnya adalah 79.800. Artinya harga akhir hanya 26% saja.

Itulah yang terjadi di Toko Buku Periplus Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Buku-buku yang masuk kategori bisnis dan self-help diberi diskon besar-besaran. Bahkan beberapa buku harga akhirnya hanya 51.000 rupiah saja.

Bayangkan hanya dengan 51.000 rupiah, seharga dua bungkus nasi padang, kita mendapatkan buah pikiran, kebijaksanaan, pengetahuan terbaik dari para pakar yang berasal dari pusat ilmu pengetahuan (berbahasa Inggris).

Harus kita akui bahwa pusat pengetahuan saat ini berada di negara-negara atau para pakar yang berbahasa Inggris. Andai buku-buku murah tersebut berbahasa Indonesia tentu akan menjangkau pembaca yang lebih luas. Bandara kini tidak lagi hanya menerbangkan orang-orang kaya. Sehingga satu-satunya kendala akses kepada buku-buku murah berbobot tersebut hanya bahasa.

Buku murah di Toko Buku Periplus Bandara Juanda

Senang melihat karyawan susah

“Bagaimana, Pak? Lebih mudah dan cepat kan dibanding metode sebelumnya?”

“Iya, Pak. Tapi nanti karyawan saya keenakan dong?” jawab manajer produksi.

Saya sempat kaget mendengar jawaban tersebut. Karena selama sepuluh tahun malang melintang di bagian riset dan pengembangan produk televisi dan kulkas, kami selalu dicekoki dengan konsep design for manufacturability – DFM. DFM bertujuan agar desain kita buat mudah diproduksi. Karyawan dan pekerja di bagian produksi tidak boleh susah dan kesulitan saat memproduksi barang yang kita desain. Haram hukumnya membuat pekerja bagian produksi susah.

Kenapa produksi harus dibuat gampang?

Satu, alasan produktivitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat maka produktivitasnya akan semakin tinggi. Produktivitas tinggi akan menurunkan biaya produk.

Kedua, alasan kualitas. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka peluang kesalahan dan kegagalan akan semakin kecil. Kasarnya dengan mata terpejam atau sebelah tangan pun bisa dilakukan.

Ketiga, alasan tenaga kerja. Semakin mudah sebuah barang dibuat atau sebuah proses dikerjakan maka ketergantungan kepada tenaga kerja terampil semakin kecil. Anak SD pun bisa mengerjakannya.

Ketika industri masih sepi dari pemain, perusahaan tersebut memang masih bisa bertahan dan memegang pangsa pasar cukup besar. Tetapi ketika suatu saat nanti muncul pemain baru dengan produktivitas lebih tinggi, kualitas lebih bagus dan proses yang mudah maka bersiap-siaplah untuk melihat pangsa pasar tergerus oleh pemain baru.

Proses splicing OPP film yang mudah

Ketika bos membandingkan India dan Indonesia

Ketika bersama bos mengunjungi beberapa customer di sekitar Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto ia mengungkapkan kekagumannya bahwa jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus dibanding India. Mulus, tidak ada yang berlubang dan marka jalan sangat jelas. Saat berkunjung ke Tjiwi Kimia kebetulan marka jalan baru dicat, hahaha.

Yang membuatnya lebih kagum adalah saat ia juga melihat jalan-jalan kecil di kampung pun sama bagusnya. Sehari sebelumnya saat dari Pandaan ke Krian kami diajak sopir travel melewati jalan-jalan perkampungan di daerah Ngoro, Tulangan dan Wonoayu.

Indeks korupsi Indonesia vs India

Lalu ia berkata, India dan Indonesia sama-sama berhadapan dengan masalah korupsi. Bahkan ketika (seandainya) sudah dikorup pun jalan-jalan di Indonesia jauh lebih bagus. Terlebih lagi curah hujan di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding curah hujan di India (Mumbai).

Curah hujan Surabaya vs Mumbai

Beruntung bos belum mengunjungi customer di sepanjang Jalan Mercedes Benz, Gunung Putri, Bogor. Saya sampai malu melihat betapa jeleknya kondisi jalan dan betapa jeleknya pelayanan kepada masyarakat dan perusahaan di sepanjang jalan tersebut yang sudah menggerakkan perekonomian.

Tiga Pelajaran dari Taksi Burung Biru

Tiga hari yang lalu saya memesan taksi dengan rute Cikarang – Bandara Sukarno Hatta. Saya menyebutkan bahwa lokasi saya berada di perumahan Taman Cibodas Lippo Cikarang. Si mbak bagian pemesanan bertanya sekali lagi, “Perumahan Cibodas ya, Pak?” Saya jawab, “Ya mbak, Taman Cibodas Lippo Cikarang.”

Esoknya pengemudi taksi yang saya pesan mengkonfirmasi sudah berada di perempatan depan perumahan sedang bertanya ke sekuriti, Lalu ia bertanya,”Blok berapa Pak rumahnya?”

“Lhah, di sini tidak ada blok Pak.”, mulai merasa tidak beres. “Yang ada adalah nama jalan dan gangnya. Dari perempatan Bapak tinggal ambil kanan dan kiri ada plang nama jalan tertulis jelas.”

Si pengemudi taksi menelepon lagi, “Pak, kok tidak ada jalan Ciliwung di perumahannya?”

Lalu saya teringat ada kawasan Cibodas di Tangerang, “Pak, itu Cibodas Tangerang atau Cikarang?”

“Tangerang, Pak.” jawab sopir taksi.

“Yahh.. salah Pak. Saya ini di Taman Cibodas Lippo Cikarang”

Akhirnya saya memesan taksi lagi sambil membatalkan pemesanan berikutnya. Si pengemudi taksi yang baru rupanya belum tahu lokasi Taman Cibodas tetapi ia berkata akan mencarinya via Google Maps. Tak berapa lama si pengemudi taksi yang sebelumnya mangkal di RS Siloam Lippo Cikarang sudah sampai di Taman Cibodas.

Ketika masuk ke dalam taksi saya terkejut karena tepat di depan kursi penumpang sudah disediakan kantong plastik anti mabuk, minyak kayu putih, minyak telon, tissue dan sebotol air minum. Hebat juga pelayanan Taksi Burung Biru pikir saya. Ketika sudah sampai di bandara saya bertanya ke pengemudi taksi, Ahmad Romli, apakah itu standar pelayanan baru dari Taksi Burung Biru, Bang Ahmad Romli menjawab, “Tidak Pak. Karena saya tahu sebagian besar penumpang saya berjarak jauh (taksi bandara), maka saya sediakan sendiri supaya penumpang merasa nyaman dan berjaga-jaga kalau ada yang mabuk atau pusing.” I was very impressed by his answer.

Pelajaran Pertama, saya sudah menekankan beberapa kali ke bagian pemesanan bahwa lokasi saya di Cikarang. Karena kecerobohan sehingga salah menginput alamat yang benar si bagian pemesanan telah merugikan sopir taksinya sendiri dan konsumen.

Pelajaran Kedua, pengemudi yang bernama Ahmad Romli menunjukkan bagaimana ia amat sangat mengerti profil dan kebutuhan pelanggan kemudian dia atas inisiatif sendiri bekerja extra miles dengan biaya yang bahkan ia tanggung sendiri. 

Pelajaran Ketiga, pengemudi taksi kedua Ahmad Romli, mampu memakai teknologi terkini (Google Maps) untuk mencari lokasi pelanggan. Dan saat saya bercerita kejadian bagian pemesanan salah menginput lokasi ia menyarankan agar saya memesan via aplikasi karena otomatis lokasi saya akan terverifikasi berdasarkan Google Maps. He is very tech savvy, isn’t it? Kata kuncinya ia mengerti kebutuhan dan masalah yang dihadapi pelanggan dan ia mampu memberikan solusinya.

Wow! Inilah profil pekerja/profesional/karyawan yang dicari-cari perusahaan. Saya berharap ia mendapatkan karir yang bagus di mana pun ia bekerja. He deserves that.

Agar plastik menempel kuat

Mengapa sebagian besar plastik sulit menempel atau licin? Karena sebagian besar plastik merupakan bahan dengan surface energy rendah (low surface energy material). Contoh lain dari bahan dengan surface enery rendah adalah Wajan Teflon. Sebagian besar plastik gaya tarik molekulernya sangat rendah sehingga ketika ditetesi air, air pun akan tetap menggumpal bukannya membasahi. Bahan-bahan dengan surface energy rendah tidak akan menempel dengan kuat ketika disatukan, diikat atau dilem dengan adhesive.

Tabel surface energy

Misalkan kita punya lem epoxy dimana surface energy-nya sekitar 40mJ/m2 lalu kita pakai untuk menempelkan Polystyrene dimana surface energynya 36mJ/m2 maka hasil penempelan tersebut tidak akan kuat karena surface energy lem di atas surface energy bahan. Dalam konteks daun talas atau wajan teflon tadi, lem epoxy tidak akan membasahi permukaan polystyrene. Atau dengan kata lain molekul-molekul di permukaan bahan polystyrene tidak mampu menarik molekul-molekul  epoxy karena surface energynya lebih rendah.

Agar bahan-bahan dengan surface energy rendah bisa ditempel dengan kuat harus diberikan perlakuan khusus kepada permukaan baik secara mekanik ataupun kimia. Metode perlakuan permukaan secara kimia lebih banyak dipakai karena cepat dan murah tidak membutuhkan perlakuan khusus, yaitu dengan memberikan adhesion promoter (primer) pada permukaan yang akan ditempel atau dilem. Contoh adhesion promoter untuk permukaan plastik yang banyak dipakai adalah 3M Primer 94.

Adhesion promoter (3M Primer 94)

Aplikasinya sangat mudah. Agar primer tidak banyak menguap sebaiknya dipindahkan ke cawan atau kaleng kecil dan kaleng besarnya ditutup. Aplikasi primer bisa memakai busa/foam atau kuas. Permukaan plastik yang akan ditempel cukup dioles tipis dan merata. Setelah primer mengering (2 – 5 menit) maka permukaan plastik siap ditempel dengan adhesive ataupun double tape.

Anamnesa dan kepo ala engineer

Tidak semua pelanggan memberi akses kepada para pemasoknya untuk melihat dan mengamati proses produksinya. Karena itu sering kali dalam usaha memberikan solusi kepada pelanggan hanya berdasarkan wawancara interogatif saja (kadang-kadang gaya wawancara engineer lapangan itu  melebihi interogasi ala polisi :P). Wawancara ini sangat penting untuk mendapatkan semua data yang dibutuhkan untuk mengetahui kebutuhan sebenarnya (exact needs) dari pelanggan sehingga solusi yang diberikan pun tepat sasaran.

Jika dipikir-pikir proses wawancara ini mirip dengan anamnesa yang dilakukan dokter kepada pasiennya. Menurut dr. Razi, anamnesa adalah suatu tehnik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data pasien beserta permasalahan medisnya.

Nahh… sebagai technical service engineer, application engineer, field service engineer atau engineer apapun yang sering keluyuran dan jalan-jalan  ke pelanggan, kami juga melakukan hal serupa. Kami pasti cerewet dan kepo saat bertemu pelanggan.

Contoh ke-kepo-an kami saat bertemu pelanggan seperti ini (tentunya setelah melalui serangkaian basa yang tidak basi):

  1. Proses pre-treatment-nya terdiri dari apa saja, Pak?
  2. Masing-masing dilakukan di suhu berapa?
  3. Dip coating dilakukan di suhu berapa?
  4. Pengeringan memakai oven? Pada suhu berapa? Berapa lama?
  5. Kenapa proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment?

Dari proses anamnesa tersebut akhirnya saya dapatkan data pre-treatment terdiri dari proses pencelupan Basa (70C) – Asam (suhu ruang) – Basa (50C). Dip coating (kondisi basa) dilakukan pada suhu ruang. Pengeringan memakai oven pada suhu 100C selama 10 menit. Proses masking tidak dilakukan setelah pre-treatment karena memakai lini produksi kontinyu yang tidak bisa diinterupsi.

Artinya, produk masking yang  ditawarkan akan disiksa pada kondisi basa-asam-basa-basa lalu dipanggang pada suhu 100C.  Dengan kondisi ekstrim seperti itu maka tidak banyak masking tape yang bisa bertahan. Senangnya ketika bertemu aplikasi ekstrim adalah tidak banyak pemainnya 🙂

Dip coating

Kepo ala engineer ini sekarang diganti dengan bahasa yang lebih keren, voice of customerVoice of the Customer is a market research technique that produces a detailed set of customer wants and needs.