Facebook sebagai tempat sampah

Saya sering tersenyum dan kadang mengernyitkan dahi membaca berbagai komentar teman-teman di Facebook menyikapi beberapa peristiwa politik akhir-akhir ini. Banyak yang asal copas (mungkin itu disiapkan oleh patron/afiliasi politik mereka) akan tetapi banyak juga yang orisinal. Banyak yang serius, banyak yang lucu, aneh, bahkan sarkastis.

Pagi ini akhirnya saya mendapat pencerahan kenapa orang bisa begitu sarkastis di media sosial. Kenapa orang bisa tergoda dan terjebak dalam komentar atau kicauan sarkastis alih-alih komentar cerdas.

Penjelasannya seperti ini:

“Many people are like garbage trucks. They run around full of garbage, full of frustration, full of anger, and full of disappointment. As their garbage piles up, they look for a place to dump it. And if you let them, they’ll dump it on you.
 
So when someone wants to dump on you, don’t take it personally. Just smile, wave, wish them well, and move on. Believe me. You’ll be happier.” (*)

Banyak orang laksana truk sampah. Mereka berjalan di sekeliling kita dengan muatan sampah yang menggunung, penuh dengan rasa frustasi, dan kekecewaan. Seiring dengan semakin menumpuknya muatan sampah mereka, mereka mencari tempat untuk menumpahkannya. Jika kita mengijinkannya, maka mereka akan menumpahkan sampahnya ke kita.

Jika mereka menumpahkan sampahnya ke kita, jangan diambil hati. Tersenyum saja, lambaikan tangan, doakan kebaikan bagi  mereka, dan lanjutkan hidup seperti biasa. Yakinlah. Itu akan membuat kita lebih bahagia.

garbage trucks

Meminjam konsep di atas, Facebook adalah sarana yang oleh sebagian orang dianggap adalah tempat paling tepat untuk menumpahkan sampah mereka. Sifatnya yan virtual akan tetap mampu menjangkau banyak orang dipandang sebagai tempat sampah ideal.

Mereka berharap sampah tersebut sampai kepada orang-orang yang dianggap layak menerimanya meski tidak secara fisik. Dan karena ini adalah sampah virtual maka mereka merasa lebih mudah untuk menumpahkannya dan melupakannya (mungkin).

Meminjam konsep proaktivitas dari Stephen R Covey, kita bisa memilih untuk tidak membiarkan sampah menghampiri dan menumpuk dalam diri kita. Kita bisa memilih untuk tidak menjadi truk sampah berjalan yang muatan sampahnya sewaktu-waktu bisa tumpah di tempat yang tidak semestinya. Kita tidak perlu menjadi truk sampah yang berkeliling di sekitar sahabat-sahabat kita sambil mengeluarkan bau tidak sedap.

* The Law of Garbage Truck, David J. Pollay (http://davidjpollay.typepad.com/david_j_pollay/lawofthegarbagetruck.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s