Orang tua tak boleh mesra?

Saat libur lebaran kemarin salah satu kegiatan yang sering saya lakukan bersama istri adalah jalan-jalan pagi. Jika di Malang rute favorit adalah ke persawahan yang ada di sebelah barat dusun dengan latar pemandangan Gunung Arjuna dan Kawi-Panderman. Saat di Tulangan, Sidoarjo rute favorit kami adalah sepanjang saluran irigasi yang melintas di belakang rumah kakak ipar sampai ke Pasar Tulangan.

Sawah dengan latar Gunug Arjuna di pagi hari

Sawah dengan latar Gunug Arjuna di pagi hari

Sudah menjadi kebiasaan kami saat berjalan-jalan selalu bergandengan tangan. Begitu juga saat dia angkutan umum seperti bus atau kereta api, saat anak-anak lebih memilih duduk sendiri supaya bebas melihat-lihat pemandangan kami memanfaatkan kesempatan itu untuk saling mengenggam. Secara bergantian biasanya kami saling memijit ruas-ruas jari. Terasanya nyaman dan dekat.

Pagi itu seperti pagi lainnya saat anak-anak masih terlelap kami menikmati udara pagi yang masih segar dengan berjalan-jalan ke arah pasar Tulangan menyusuri tepian sungai. Tentu sambil bergandengan tangan. Kami membayangkan sedang menikmati tepian sungai Seine di kota Paris. Romantis kan?

Setelah puas berputar-putar di dalam pasar menyaksikan aktivitas pedagang-pembeli yang ramai semarak, kami pulang dengan menyusuri jalan raya. Dua ratus meter dari pasar kami berpapasan dengan anak-anak usia SMP yang sedang jogging. Beberapa meter di depan kami mereka tampak berbisik-bisik dan tersenyum-senyum sambil sesekali melihat ke arah kami. Saat posisinya sejajar dengan kami saya sempatkan memperhatikan mereka dan rupanya mereka masih melihat ke arah kami.

Mungkin pemandangan orang tua yang berjalan-jalan sambil bergandengan tangan kurang lazim bagi mereka. Mungin mereka berpikir “ini orang tua kok mesra banget, masih seperti anak-anak muda yang lagi pacaran” (saya termasuk yang tidak setuju dengan konsep pacaran kecuali pacaran setelah pernikahan🙂 ).

Mesra dengan pasangan mestinya tidak dibatasi dengan usia. Bahkan saat sudah menjadi kakek-nenek pun kemesraan harus tetap ada.

Kemesraan suami isteri ini juga dicontohkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Jika kita simak tulisan dibalik pranala di atas ternyata apa yang saya lakukan bersama istri juga dicontohkan oleh Rasulullah saw.

 

Sampul buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

Sampul buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan

2 responses to “Orang tua tak boleh mesra?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s