Pendekatan Rekayasa Sistem untuk Mengelola Kompleksitas | A Systems Engineering Approach to Managing Complexity

Perancangan dan pengembangan produk saat ini di tengah pasar yang terglobalisasi telah menghadirkan tantangan baru bagi pabrikan dari berbagai jenis industri mulai dari otomotif, alat kesehatan, penerbangan sampai dengan elektronika dan barang-barang berteknologi tinggi. Konsumen menginginkan kisaran dan pilihan produk yang luas, akibatnya bisnis-bisnis harus berinovasi dan memenuhi permintaan pasar dengan cepat. Bisnis yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat akan kehilangan pangsa pasar dan kepopulerannya. Pada saat yang sama, kerumitan produk mengalami ekskalasi karena organisasi-organisasi mengadopsi inovasi berbasis teknologi. Dinamika pasar ini mengarahkan eksekutif rekayasa untuk berpikir ulang bagaimana mereka membangun sebuah tim dan menetapkan proses untuk menghadapi tantangan-tantangan ini.

Memperoleh pelanggan baru dan menjaga kepemimpinan pangsa pasar mensyaratkan peluncuran produk terbaik degan kualitas tertinggi harus lebih cepat dari kompetisi. Untuk memperolehnya, pemimpin-pemimpin rekayasa berkinerja tinggi mengambil pendekatan Rekayasa Sistem, terutama sekali ketika produk atau proses pengembangan itu sendiri mempunyai tingkat kerumitan tinggi. Mereka yang mengabaikan hal itu menghadapi resiko ketertinggalan.

Rekayasa Sistem memungkinkan organisasi-organisasi rekayasa untuk melakukan desain sistem-sistem rumit dan pengaruhnya yang mencakup berbagai disiplin rekayasa: mekanikal, elektronik dan perangkat lunak. Dengan pendekatan ini, kebutuhan pelangan terdefinisikan dengan jelas di awal siklus pengembangan dan terimplementasikan melalui desain dan validasi sistem – dari konsep hingga operasi. Rekayasa Sistem bukan sekedar suatu metode atau pendekatan terhadap pengembangan produk, tetapi  sebuah pertimbangan menyeluruh meliputi seluruh siklus hidup produk, termasuk pendukung produk dan perawatan.

Dengan menjadikan Rekayasa Sisten sebuah disiplin inti, bisnis-bisnis mampu memperbaiki kolaborasi lintas departemen, memperpendek siklus pengembangan dan memperbaiki produktivitas secara keseluruhan.

Kondisi saat ini.

Berbagai perusahaan manufaktur yang terpisah-pisah di dalam industri yang tumbuh dengan cepat tidak memiliki kesempatan untuk secara proaktif mengadopsi pendekatan Rekayasa Sistem bagi pengembangan produk. Akuisisi perusahaan, permintaan konsumen yang semakin cepat dan tekanan kompetitif mengakibatkan adopsi proses pengembangan produk dan peralatan yang tidak terhubung.

Tanpa definisi proses end-to-end dan peralatan yang jelas untuk mendukungnya, bisnis-bisnis tersebut tak akan mampu mengambil peluang dan keuntungan dari kolaborasi bernilai tinggi antar berbagai disiplin rekayasa (mekanikal, elektronika dan perangkat lunak). Peralatan-peralatan desain terkait tidak bisa digunakan antar lini produk sehingga membatasi penggunaan ulang desain dan menghadirkan ketidakkonsistenan dan potensi masalah-masalah kualitas. Kurangnya standarisasi antar arsitektur sistem dan proses mengarahkan kepada kesalahan-kesalahan dan pengulangan-pengulangan, melambungkan biaya-biaya servis, pembuatan dan rekayasa. Selanjutnya, produk berkualitas rendah lebih sulit dan mahal dikelola.

Proses-proses terpisah mengakibatkan secara virtual tidak mungkin untuk menguji dan menganalisa produk dalam konteks  bagaimana ia akan digunakan, sehingga mengarah pada pekerjaan perbaikan yang mahal. Tanpa adanya penyambung aliran antara perkakas-perkakas sistem (misalnya: persyaratan, desain, model, dll) juga berarti kurangnya mampu-telusur, mengakibatkan pembengkakan waktu yang dibutuhkan untuk menganalisa data dan membuat laporan untuk memenuhi  persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan. Keterlambatan ini berakibat pada hilangnya peluang pasar, potensi penjualan yang akan beralih kepada kompetitor.

Elemen-Elemen Kunci pada Pendekatan Rekayasa Sistem

Sebuah pendekatan Rekayasa Sistem menghadapi tantangan-tantangan dengan menerapkan rekayasa sistem meliputi keseluruhan siklus hidup produk. Dengan menerapkan rekayasa sistem, lensa/filter/fokus pada setiap tahap pengembangan produk, persyaratan produk, bisa diverifikasi dan divalidasi, sebuah arsitektur produk yang moduler dan fleksibel mampu dibuat, dan kualitas produk yang tinggi bisa dijamin. Sebagai hasil, produk-produk yang lebih baik hadir ke pasar lebih cepat.

Terdapat tiga elemen kunci yang menjadi pondasi bagi sebuah pendekatan sistem untuk membangung produk yang kompleks. Meskipun terdapat rentang yang luas bagi perkakas, metode dan praktik dalam kotak perlatan rekayasa sistem, elemen-elemen ini adalah syarat mutlak bagi pondasi yang kuat.

  • Menghubungkan persyaratan-persyaratan, desain dan pengujian bagi kolaborasi multi-disiplin

Proses-proses dan aset-aset yang terhubungkan dengan baik memungkinkan ahli-ahli sistem mengelola kebutuhan bagi arsitektur, desain, penerapan dan pengujian secara real-time, kolaborasi iteratif yang mencakup semua disiplin rekayasa. Lingkungan rekayasa konvensional yang terkungkung dan terpisah dihubungkan sedemikian rupa sebagai sistem sehingga insinyur mekanik dan elektronik menghabiskan sedikit waktu untuk berkomunikasi melampaui batasan-batasan organisasi dan geografi. Dengan pendekatan kolaborasi terintegrasi, kesalingtergantungan bisa dikenali dan perubahan-perubahan bisa dievaluasi secara instan, memperbaiki efisiensi dan produktivitas.

  • Lakukan  validasi terhadap siklus hidup aset-aset mulai dari persyaratan-persyaratan hingga pengujian pada saat mereka dibuat dan dirubah

Validasi persyaratan-persyaratan yang baik membutuhkan analisis closed-loop ekstensif, pemodelan dan simulasi. Validasi dimulai dari definisi persyaratan-persyaratan dan berlanjut meliputi siklus hidup  sedemikian sehingga perubahan-perubahan selalu tersetujui, terkelola dan terdokumentasi dengan baik. Akan halnya perubahan-perubahan yang tersetujui, persyaratan-persyaratannya harus divalidasi ulang dengan cara memeriksa perangkat-perangkat yang dipakai dalam proses validasi sebelumnya. Berfokus pada kebutuhan-kebutuhan pelanggan di awal pengembangan dan di keseluruhan siklus hidup produk mengurangi rework  dan menjamin produk akhir memenuhi target dengan sasaran-saran fungsionalitas, biaya, kinerja dan kualitas.

  • Verifikasi produk –sesuai didesain sesuai dibuat- terhadap desain dan persyaratan-persyaratan pada keseluruhan siklus hidup produk

Aktivitas-aktivitas verifikasi dan pengujian harus direncanakan sesegera mungkin setelah persyaratan-persyaratan terdefinisikan dan dimodifikasi secara iteratif karena perubahan persyaratan-persuaratan. Produk yang sesuai didesain sesuai dibuat juga harus diverifikasi terhadap persyaratan-persyaratan, dimulai di awal siklus hidup, berlanjut hingga pengujian dan verifikasi sistem akhir. Dengan memakai analisa yang beraneka ragam, pemodelan, simulasi, verifikasi dan pengujian sepanjang siklus hidup, insinyur mampu dengan mudah menjamin kualitas produk dan pemenuhan persyaratan. Sementara perkakas-perkakas terkait seperti model dan hasil-hasil simulasi secara otomatis terkelola dan terlacak.

Traditional Design vs System Thinking Design

Traditional Design vs System Thinking Design

Penelitian di Boeing pada tahun 1995 menunjukkan penekanan pada desain sistem menghasikan integrasi dan pengujian yang lebih cepat. Lebih lanjut, menghabiskan lebih banyak waktu pada desain sistem akan mengurangi resiko-resiko proyek di awal proses, memperpendek jadual dan  menghemat biaya.

oleh Derek Piette, PTC

sumber:

http://www.ptc.com/solutions/systems-engineering/complexity-challenge/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s