Profesi bernama Application Engineer, Technical Service Engineer dan Technical Support Engineer

Sebagian dari kita pasti akrab dengan istilah Customer Journey Mapping. Ini adalah istilah yang menggambarkan lika-liku perjalanan customer saat memilih, membeli dan memakai sebuah produk. Secara garis besar, customer journey mapping dibagi dalam tiga tahap yaitu Pre-purchase, Purchase dan Post-purchase.

Customer journey mapping

Pada tahap Pre-purchase,  customer  menemukan kebutuhan akan sebuah solusi kemudian ia melakukan riset untuk mencari solusi tersebut. Setelah itu ia akan melakukan evaluasi dan seleksi terhadap beberapa solusi yang ia dapatkan.

Pada tahap Purchase, customer melakukan pembelian dan menerima pengiriman produk/solusi.

Pada tahap Post-purchase, customer mulai memakai produk/solusi, ia menerima dukungan dari si penyedia produk/solusi dari distributornya atau pihak ketiga yang ditunjuk. Jika ia puas maka ia akan melakukan reorder.

Dari pemahaman tentang customer journey mapping ini kemudian keluarlah profesi yang bernama Application Engineer (AE), Technical Service Engineer (TSE) dan Technical Support Engineer. Application Engineer bekerja pada tahap Pre-Purchase. Ia membantu customer memahani exact needs-nya, memberikan alternatif solusi dan membantu melakukan serangkaian pengujian atau trial untuk membuktikan efektivitas sebuah solusi. Sementara itu Technical Service Engineer dan Technical Support Engineer bekerja pada tahap Post-purchase. Ia memberikan dukungan pada customer berupa trouble-shooting, pelatihan pemakaian produk, perbaikan proses dan investigasi terhadap suatu masalah yang terkait dengan pemakaian produk.

Pada sebagian perusahaan, peran AE dan TSE ini disatukan dan biasa disebut Application Engineer saja dengan tambahan peran sebagai Technical Service Engineer.

Advertisements

Cara menguji daya rekat (kekuatan kupas/peel strength) double tape

Desain sambungan atau rakitan yang akan menahan beban tarik(tensile), geser (shear) dan tekan (compression) pasti lebih kuat dibanding beban belah (cleavage) atau kupas (peel). Contoh beban belah adalah gaya yang kita berikan ketika kita membelah bambu. Contoh beban kupas adalah saat kita mencoba mengupas sticker yang tertempel pada suatu permukaan. Gambar di bawah melukiskan konsep kelima beban atau gaya tersebut dimana beban tekan (compression) adalah kebalikan dari beban tarik (tensile).

Gambar beban tarik, geser, belah dan kupas (sumber: 3M Structural Adhesives Design Guide 2017)

Diantara kelima beban tersebut kekuatan terendah adalah saat sambungan atau rakitan terkena beban kupas karena yang menahan adalah berupa garis, sedangkan keempat lainnya berupa luasan sambungan atau rakitan. Dengan konsep tersebut maka pengujian daya rekat adhesive memakai peel strength berdasarkan standar ASTM D3330. Artinya, ketika sebuah double tape memiliki peel strength yang tinggi maka kekuatan tarik tekan dan geser-nya pasti lebih tinggi lagi.

Di bawah ini adalah contoh pengujian peel strength dari dua jenis double ke permukaan ABS hasil dari proses injection molding. Gambar paling kiri menunjukkan adhesion failure yang artinya double tape tidak menempel kuat ke permukaan ABS. Gambar di sebelah kanan menunjukkan cohesion failure yang artinya double tape sangat kuat menempel ke permukaan ABS sehingga ketika dikupas/di-peel sampai robek pada bagian backing/carrier dari double tape yang berupa foam.

Adhesion & cohesion failure pada pengujian kekuatan kupas (peel strength test) ASTM D3330.

Hasil dari uji kekuatan kupas (peel strength test) biasanya dinyatakan dalam satuan gaya dibagi lebar double tape, misalnya N/cm atau N/100cm. Agar hasil pengujian bisa direplikasi maka kondisi pengujian harus dicatat, misalnya uji kekuatan kupas dilakukan berapa menit setelah penempelan, dilakukan pada suhu dan kelembapan berapa. Paling penting adalah catatan mengenai selang waktu setelah penempelan karena adanya proses dwelling atau wet-out dimana adhesive akan semakin kuat menempel setelah selang waktu yang lama dari penempelan.

Hasil uji kekuatan kupas (peel strength test result)

Kunjungan dosen teknik mesin ke industri

Kemarin PT 3M Indonesia menerima kunjungan dari dosen-dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang (Unnes). Mereka ingin mengenal teknologi terbaru di bidang adhesives & tapes, automotives dan advance materials.

Dari 3M Indonesia kami menawarkan topik sebagai berikut: # Replacing mechanical fasteners by adhesives & tapes, #Noise vibration and harshness (NVH) solutions for automotives dan #Advance materials for lightweighting and processing.

Dari hasil presentasi dan diskusi kami mendapati banyak produk-produk/teknologi industri yang bisa dipakai untuk proyek penelitian. Ambil contoh proyek penelitian/kontes mobil hemat energi. Selama ini karena belum mengenal teknologi adhesive dan double tape mereka masih memakai traditional mechanical fasteners alias dilas, disekrup dan dibaut. Untuk tampilan eksterior dan juga beberapa komponen jelas solusi tersebut tidak efektif. Secara struktur lemah, secara estetika jelek dan menambah berat.

Padahal solusi dengan adhesive dan tape tersebut selama ini sudah diadopsi oleh beberapa perguruan tinggi di Jakarta dan Surabaya. Mereka pun berkomentar, “pantas saja mobil-mobil mereka sangat hemat”. Salah satunya karena mereka mengadopsi teknologi-teknologi terkini.

Kemudian ada lagi ide untuk memakai aditif ceramic glass atau glass bubbles untuk meningkatkan processability pengecoran logam aluminium. Pemakaian aditif tadi bertujuan agar aluminium cair lebih mudah mengisi celah-selah atau rongga cetak. Apakah efektif? Ini yang harus dicari jawabannya pada penelitian berikutnya.

Kesimpulannya, perguruan tinggi dan industri memang harus sering-sering berinteraksi. Kampus membutuhkan informasi teknologi terkini, industri membutuhkan mitra untuk meneliti beberapa aplikasi yang  seringkali terkendala terbatasnya sumber daya manusia. Sementara kampus bisa mengambil peluang ini untuk menjadikan penelitian aplikasi dari industri (minimal) sebagai topik skripsi/disertasi bagi mahasiswanya.

Kunjungan dosen Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang ke PT 3M Indonesia

Dari orang pabrikan (mechanical design engineer) menjadi orang lapangan (technical service engineer)

Dalam dunia kerja posisi paling enak adalah sebagai customer. Ingat dengan motto “pembeli adalah raja”.  Dalam interaksi kerja/bisnis customer seringkali berada di atas angin. Beban psikologisnya lebih ringan dibanding penjual/supplier. Dalam beberapa hal ia adalah pengambil keputusan untuk menentukan berlanjut tidaknya transaksi bisnis artinya ia memegang kendali.

Bayangkan jika sudah terbiasa di posisi customer selama belasan atau bahkan puluhan tahun kemudian harus berganti posisi menjadi supplier dalam waktu yang singkat. Artinya kesempatan kita untuk beradaptasi terbatas sekali.

Itulah pengalaman yang saya alami ketika beralih profesi dari seorang mechanical design engineer di dalam pabrik yang biasa menentukan OK atau NG-nya produk dari supplier kemudian harus beralih menjadi supplier (technical service engineer) yang OK dan NG-nya ditentukan oleh orang lain. Technical service engineer ini adalah seorang engineer yang membantu sales dalam penjualan dari sisi engineering atau teknis.

Sempat gagap dan canggung karena cukup lama dididik dengan mental customer. Bahkan ada rasa was-was saat terjun ke lapangan apakah akan lancar-lancar saja , apakah akan berhasil, bagaimana cara menghadapi customer, bagaimana menghadapi penolakan, dan sebagainya.

Kunci mengatasi hal tersebut ada tiga. Pertama, cari mentor seorang sales. Sales akan membimbing kita mengenali medan, menghadapi customer dan seluk beluk lapangan. Kedua, perkuat product knowledge. Dalam konteks sebagai technical service engineer, poin ini menjadi sangat penting karena customer membeli suatu produk biasanya berdasarkan pertimbangan safety, originality, money, pride, ease dan friendliness – SOMPEF. Sementara sales menonjol dan menguasai dari aspek friendliness (pendekatan personal, basa-basi) dengan customer dan aspek money (karena menguasai pricing) kita bisa mengisi mengisi pada aspek safety dan ease. Ketiga, perbanyak jam terbang. Semakin sering kita berhadapan dengan customer, semakin luas area penjelajahan kita di lapangan secara otomatis akan menambah wawasan, pengalaman dan pembelajaran yang akan meningkatkan rasa percaya diri. Bahkan di kemudian hari kita akan terbiasa menghadapi customer seorang diri tanpa kehadiran sales.

Jadi, jangan takut menjadi orang lapangan!

Akibat nekat melamar posisi sales

Dua kali berpindah pekerjaan (keluar dari perusahaan) memberikan pengalaman bahwa mencari pekerjaan baru tidak selalu mudah. Dari perusahaan pertama sempat off tiga bulan sebelum mendapatkan pekerjaan baru. Dari perusahaan kedua masa off lebih lama lagi, lima bulan sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan sekarang.

Di perusahaan kedua, posisi yang saya dapatkan masih berhubungan bahkan masih sebidang dengan jenis pekerjaan sebelumnya. Setelah keluar dari perusahaan kedua ini, karena setelah melamar sana sini belum juga berhasil akhirnya memakai jurus sapu jagat. Posisi apapun dilamar. Termasuk retail, purchasing, warehousing, maintenance dan profesi yang paling saya hindari “sales”.

Justru dari posisi yang paling saya hindari dan paling jauh hubungan dengan bidang pekerjaan sebelumnya, yaitu sales, saya memperoleh kesempatan untuk membuktikan diri. Entah apa pertimbangan mereka saya yang tidak punya pengalaman sales tetapi dipilih menjadi kandidat untuk posisi tersebut.

Saya pun diinterview untuk posisi sales berbekal pengalaman di industri electronics & appliances. Si interviewer menilai saya tidak cocok untuk posisi sales karena background saya di dunia sales nol besar. Akan tetapi ia memberi kesempatan untuk mencoba posisi technical service engineer karena melihat pengalaman saya di bidang R&D untuk televisi dan kulkas. Setelah melalui proses seleksi yang cukup lama akhirnya saya pun mendapatkan posisi sebagai technical service engineer di perusahaan multinasional dari Amerika Serikat, 3M.

Yang ingin saya garis bawahi dan sampaikan kepada para pencari kerja adalah tetap semangat, perluas area pencarian bidang pekerjaan, jangan terpaku dengan bidang pekerjaan sebelumnya. Ibaratnya semakin banyak pintu yang kita ketuk semakin besar peluang kita untuk menemukan pintu yang dibukakan. Bahkan seandainya kita tidak berhasil masuk ke pintu tersebut bisa jadi ia akan merekomendasikan kita ke pintu lainnya karena ia melihat potensi kita.

Beberapa perusahaan tidak semata-mata melihat skill dari calon karyawannya tetapi juga karakternya. Karena itu jika kita yakin bahwa kita memiliki karakter bagus akan tetapi merasa skill masih kurang jangan ragu untuk melamar posisi apapun. Tunjukkan bahwa kita adalah pembelajar yang cepat dan siap belajar apapun. Perusahaan yang menyeimbangkan karakter dan skill memiliki motto, we hire character we develop skill. Artinya kita akan diberi kesempatan dan fasilitas untuk mengejar kekurangan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan kita.

Keep searching and applying!

Persaingan bebas menguntungkan konsumen – Fenomena Opang vs Ojek online

Kartel  bukan hanya monopoli pemodal besar. Layanan seperti ojek pun bisa melakukan praktik kartel. Sekarang mari kita simak definisi kartel. Kartel adalah kelompok produsen independen yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi. Bukankah sebelum ada fenomena ojek online sebagian besar layanan ojek pangkalan melakukan praktik ini.

Ojek pangkalan membatasi kesempatan konsumen untuk mendapatkan harga yang kompetitif. Jika kita tidak jeli dengan menanyakan tarif di awal dan tidak gigih menawar maka bisa-bisa kita ditodong dengan tarif yang mahal atau bahkan tidak masuk akal.

Contoh paling nyata dari praktik ini adalah ojek di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Untuk keluar dari Bandara ke jalan poros biasanya tukang ojek memasang harga 40.000 rupiah. Jika kita menawar maka kita bisa mendapatkan harga 30.000 rupiah.

Jarak dari Bandara Sultan Hasanuddin ke jalan poros Maros – Makassar

Berapakah jarak dari Bandara Sultan Hasanuddin ke jalan poros? Melalui pengukuran jarak memakai aplikasi Google Maps jaraknya hanya 3 kilometer. Artinya harga per kilometer adalah 10.000 rupiah. Bandingkan dengan tarif taksi di Jakarta yang per kilometernya hanya 3.600 rupiah. Bisa jadi ini adalah tarif ojek (perkotaan) termahal di dunia.

Jelas konsumen sangat dirugikan karena mereka dikenai tarif super mahal. Kenapa bisa semahal itu? Karena ojek di sana mempraktikkan kartel. Mereka sengaja membatasi persaingan dan mengatur harga seenaknya.

Masking pada proses manufaktur

Pada sebagian besar industri yang memiliki proses blasting, etching, coating, spraying, plating, plasma spray dan paint stripping pasti dibutuhkan masking tape. Masking tape dibutuhkan untuk menutup area tertentu yang tidak boleh terkena salah satu proses di atas. Tujuannya bermacam-macam, untuk mencegah kerusakan pada proses blasting dan etching, untuk mencegah overspray atau pengecatan dengan beberapa warna berbeda pada proses pengecatan, untuk menghemat material pada proses plating.

Pada proses blasting, etching, coating, spraying, plating dan paint stripping, kondisi lingkungan (fisik, kimia dan temperatur) dan daya abrasinya berbeda-beda karena itu dibutuhkan berbagai jenis masking tape berbeda untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sebagai contoh pada proses pain stripping (pengupasan cat) pada pesawat terbang memakai bahan kimia yang sangat keras sehingga beberapa komponen/bagian pesawat tidak boleh kena, misalnya jendela, lubang pitot tube, saluran masuk udara pada mesin turbofan, dll . Sedemikian kerasnya bahan kimia tersebut sehingga tidak ada masking tape dari bahan kertas ataupun plastik yang bisa bertahan sehingga dipakailah lembaran aluminium sebagai bahan masking tape.

Pengupasan cat pada pesawat terbang (sumber: http://www.crestchemicals.com/paint-removers-acidic.php)

Begitu juga pada proses powder coating dibutuhkan oven suhu tinggi untuk pengeringan. Pada suhu tersebut tidak ada masking tape dari bahan kertas yang bisa bertahan maka dipakailah masking tape dari bahan polyester.

Sementara itu pada  proses pengecatan basah di pabrik-pabrik biasanya proses pengeringan dilakukan pada suhu 100 derajad Celsius sehingga masking tape dari bahan kertas bisa dipakai.

Masking pada proses powder coating