Review film Jason Bourne

30 Juli 2016, di Cinemaxx Orange County Lippo Cikarang

Setelah menunggu sekian lama akhirnya tetralogi Bourne menjadi kenyataan. Komentar saya: resep lama, alur yang hampir serupa, lokasi yang tidak jauh berbeda.

Di Jason Bourne kita disuguhi cyber-intelligence dan cyber-army yang semakin canggih. Bagian ini sudah ada sejak Bourne Identity. Melalui bagian ini kita bisa melihat perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan jaringan mulai jaman monitor tabung sampai ke monitor sentuh.

Setting lokasi juga masih berkisar di Langley Virginia, Berlin, London dan tambahan lokasi baru di Athena, Reykjavik, Israel dan sedikit di perbatasan Albania-Yunani.

Komentar terakhir. Film ini cukup mengobati kerinduan penggemar Bourne tetapi tidak ada kejutan baru yang berarti. Bourne Legacy justru memberi warna baru terutama pada segmen di Alaska ketika berjibaku melawan drone.

Oh ya, tokoh favorit saya Heather Lee alias Alicia Vikander. She looks smart and innocent meski bagian akhir film ini justru menunjukkan betapa berbahayanya ia .

Selamat menonton!

 

Prioritas pemasangan Passive Fire Protection pada Gedung Perkantoran dan Hotel

Bisa dipastikan bahwa sebagian besar bangunan pabrik, gedung dan hotel di Indonesia termasuk dalam Kelas Konstruksi 1. Menurut SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21/SEOJK.05/2015, Kelas Konstruksi 1 didefinisikan, “Bangunan dikatakan berkonstruksi kelas 1 (satu) apabila dinding, lantai, dan semua komponen penunjang strukturalnya serta penutup atap terbuat seluruhnya dan sepenuhnya dari bahan yang tidak mudah terbakar. Jendela dan/atau pintu beserta kerangkanya, dinding partisi, dan penutup lantai boleh diabaikan.

Tarif premi asuransi kebakaran Hotel

Tarif premi asuransi kebakaran Hotel

Selain alasan keselamatan, membangun gedung yang memenuhi kategori Kelas Konstruksi Kelas 1 juga akan menghemat premi asuransi. Perbedaan premi asuransi kebakaran antara bangunan Konstruksi Kelas 1 dengan bangunan Konstruksi Kelas 2 cukup besar. Misalkan sebuah hotel berbintang 3 nilai propertinya 50 milyar rupiah, jika ia termasuk kategori Kelas Konstruksi 1 nilai preminya adalah 0.483% X 50 milyar =  120.750.00, jika ia masuk kategori Konstruksi Kelas 2 nilai preminya adalah 0.725% X 25 milyar = 181.250.000. Ada perbedaan premi sebesar 60.500.000 per tahun.

Idealnya sebuah bangunan yang termasuk dalam Kelas Konstruksi 1 ketika terjadi kebakaran tidak akan menimbulkan kerugian harta-benda dalam jumlah besar apalagi sampai menimbulkan korban jiwa. Selain terbuat dari bahan-bahan yang tidak mudah terbakar,  Undang-undang maupun Peraturan Pemerintah mewajibkan setiap bangunan selain rumah tinggal harus memiliki sistem perlindungan kebakaran aktif dan pasif. Pertanyaannya seberapa banyak bangunan yang memiliki sistem perlindungan kebakaran pasif?

Dari pengamatan beberapa kali ke gedung perkantoran, apartemen dan hotel, masih banyak yang belum memasang sistem perlindungan kebakaran pasif. Ada beberapa gedung sudah memasang sistem perlindungan kebakaran pasif tetapi kualitasnya sangat meragukan dan terlihat asal-asalan.

Di bagian mana seharusnya sistem perlindungan kebakaran pasif ini harus dipasang?

Sistem perlindungan kebakaran pasif atau passive fire protection ini harus dipasang pada setiap bukaan antar ruangan dan antar lantai. Bagian yang paling kritis dan diprioritaskan adalah mechanical & electrical shaft. Kenapa demikian? Karena M&E Shaft berupa kolom untuk mengakomodasi berbagai jalur mechanical seperti hydrant dan HVAC  dan electrical seperti power & communication lines yang membentang dari lantai dasar sampai puncak gedung. Tanpa adanya penyekatan antar lantai dengan sistem passive fire protection, M&E Shaft dan cabang-cabangnya bisa menjadi jalur penyebaran api, asap dan gas beracun saat terjadi kebakaran.

Penyebab timbulnya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran

Penyebab timbulnya korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ( sumber: John R. Hall, Jr., Fire Analysis and Research Division, National Fire Protection Association, March 2011)

Menurut NFPA, penyebab utama terjadinya korban jiwa dalam setiap kebakaran bukan api tetapi karena menghirup asap dan gas beracun. Dalam banyak kasus kebakaran, korban jiwa juga terjadi pada ruangan dan lantai yang berbeda dengan lokasi terjadinya kebakaran, terutama pada lantai dan ruangan di atas lokasi kebakaran (Evaluaton of Fire Safety, p.178, D. Rashbash, et.al). Ini terjadi karena asap dan gas beracun dari lokasi kebakaran di suatu lantai menyebar ke lantai berikutnya mengikuti M&E Shaft.

Penyekatan bukaan antar lantai dan ruangan ini biasanya dikenal dengan istilah kompartemenisasi.

Contoh kompartemenisasi ruangan (http://akribiz.com/safety)

Contoh kompartemenisasi ruangan (sumber: http://akribiz.com/safety)

Teknologi baru yang menyelamatkan lingkungan (hutan)

Sore itu ada sales call dari potential customer di daerah Mustika Jaya, Bekasi. Siapa sangka dibalik pagar tinggi yang menutupi penampakan separo bangunan terdapat worshop dengan berbagai macam mesin perkakas presisi (CNC). Ia adalah perusahaan yang bergerak di bidang machinery dengan konsep made by order. Salah satu spesialisasinya adalah membuat mesin roll forming untuk berbagai macam profil baja ringan.

Menurut penuturan engineer-nya, akhir-akhir ini pesanan mesin roll forming seperti tiada habisnya. Bahkan ada salah satu perusahaan yang sudah memesan total 30 mesin sampai saat ini. Customernya tersebar di area Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar.

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Foordeck Roll Forming Machine (sumber: http://persadhata.co.id)

Jika kita amati berbagai macam brosur, banner ataupun iklan rumah terbaru salah satu spesfikasinya adalah “rangka atap baja ringan”. Bisa dipastikan rumah-rumah yang dibangun saat ini semakin jarang yang memakai rangka kayu. Kini harga kayu semakin mahal, kualitasnya sulit dikontrol dan rawan terhadap serangan rayap maupun serangga penggerek.

Peralihan dari rangka kayu ke rangka baja ringan tentu sangat menggembirakan karena mengurangi laju penebangan hutan. Andai teknologi dan produk baja ringan ini sudah populer dan ekonomis sejak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu bisa kita bayangkan berapa juta batang pohon yang bisa diselamatkan?

Kalau kita concern dan prihatin dengan semaki berkurangnya luas hutan huan tropis kita tentu kita sudah memetakan sejak awal berbagai macam kemungkinan yang bisa mengurangi konsumsi kayu. Salah satunya adalah subtitusi kayu sebagai bahan bangunan ke bahan lain yang lebih tahan lama, murah dan mudah aplikasinya. Sayangnya pemetaan semacam itu jarang kita lakukan ataupun jika ada tidak terpublikasi dan terealisasi menjadi kebijakan ataupun aksi nyata.

Karena itu tidak heran jika negara-negara maju selalu meng-endorse dan memberi insentif bagi teknologi-teknologi baru yang bisa menjadi solusi bagi permasalah terkini seperti penghematan energi dan sumber daya alam. Mereka memiliki foresight atau future technology outlook yang selalu diupdate menyesuaikan dengan perkembangan teknologi terkini dengan berbagai kemungkinan aplikasi di masa depan.

Usus buntu jangan sampai pecah

Apendiksitis atau infeksi pada usus buntu jika tidak segera ditangani pada akhirnya akan menyebabkan usus buntu pecah. Jika sampai pecah maka infeksinya akan menjalar ke peritonium. Peritonium yag terinfeksi disebut peritonitis Jika sampai terjadi peritonitis maka penangananya adalah operasi besar.

Pada kasus apendiksitis, operasi pemotongan atau pembuangan apendiks dilakukan dengan membuat irisan kecil pada dinding perut, laparoskopi. Tetapi jika sampai terjadi peritonitis maka operasi dilakukan dengan membuat irisan besar pada dinding perut, laparotomi.

Peritonitis

Peritonitis

Anut grubyug ora weruh ing rembug

Ojo gumun. Ojo kagetan.

Banyak orang yang selamat karena skeptis, kritis dan mau melakukan check and recheck.
Banyak orang yang terhindar menjadi pion, tidak bisa digiring karena tidak anut grubyug – tidak ikut-ikutan.
Banyak orang yang terhindar dari jebakan isu karena mengambil jarak untuk mendapatkan bird-view yang mampu memandang semua sisi.

Sebaliknya, banyak orang yang celaka atau tertipu karena anut grubyug ora weruh ing rembug – mengikuti gerak orang banyak tanpa tahu bagaimana asal-mula atau substansinya.

Akal sehat dan akal jernih mutlak dimiliki di jaman yang penuh dengan informasi dan disinformasi. Akal sehat dan akal jernih mutlak dimiliki karena berbagai macam kekuatan berlomba-lomba untuk mendapatkan dan bermain dengan opini publik.

Indeks daya saing industri manufaktur global

Menarik untuk mencermati hasil survei dari Deloitte pada tahun 2013 terhadap 550 CEO dari perusahaan manufaktur global yang tersebar di Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Pada saat dilakukan survei (2013) para CEO menempatkan Indonesia berada pada peringkat 17 dan Vietnam berada pada peringkat 18. Ketika disodorkan pertanyaan daya saing lima tahun ke depan maka Indonesia naik ke posisi 11 sementara Vietnam berada pada posisi 10 (Tabel 1 halaman 2).

Secara sederhana kita dapat mengartikan bahwa para CEO perusahaan manufaktur global melihat bahwa Vietnam lebih menjanjikan bagi industri manufaktur pada tahun 2018 dan seterusnya. Indonesia yang sebelumnya berada di atas Vietnam belum melakukan usaha yang cukup untuk menjaga keunggulan industri manufakturnya sehingga disalip Vietnam.

Faktor apa yang paling penting bagi daya saing industri manufaktur suatu negara? Para CEO melihat bahwa Talent-driven innovation sebagai faktor yang paling penting. Talent-driven innovation diartikan sebagai 1) kualitas dan ketersediaan ilmuwan, periset dan insinyur dan 2) kualitas dan ketersediaan tenaga kerja terlatih.

Talent driven-innovation diukur dari 1) science scores, 2) math scores, 3) jumlah paten per sejuta penduduk, 4) jumlah riset per sejuta penduduk dan 5) indeks inovasi.

Pekerjaan rumah kita adalah memperbaiki kelima faktor di ataskita agar daya saing kita tidak tergeser.

 

Cost reduction – ibarat memeras handuk kering

Squeezing dry towel alias memeras handuk kering untuk mendapatkan setetes air. Perumpamaan itu dipakai oleh salah satu manager saya saat mengibaratkan aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering.

Inti dari aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering adalah menghasilkan produk dengan kualitas yang sama atau lebih bagus tetapi dengan harga yang lebih murah. Aktivitas ini berusaha mendobrak paradigma lama, ada harga ada rupa, ono rego ono rupo. Konsumen akan menikmati barang yang lebih murah dengan kualitas sama, atau barang dengan harga yang sama tetapi memiliki fitur lebih banyak.

Selama ini aktivitas cost reduction, cost innovation atau value engineering selalu berfokus kepada produk. Komponen terbesar dari produk yaitu material atau bahan baku menjadi bulan-bulanan bagi aktivitas ini. Bahan baku produk dikaji ulang, berbagai material pengganti disodorkan lalu diuji kelayakannya dan ketersediaannya dipastikan.

Setelah bahan baku produk dikupas tuntas kini proses produksi/pembuatan produk diamati dengan detail. Bahkan ada perusahaan yang menggunakan atau mengembangkan perangkat lunak khusus yang berguna untuk menganalisa proses kerja dari operator produksi. Proses kerja dari operator kemudian dikategorikan menjadi:

1) bernilai tambah (Value Added),

2) dibutuhkan dalam proses bisnis (Business Value Added), dan

3) tidak memberikan nilai apapun (Non-Value Added).

Value-Added (VA) berarti proses kerja dari operator tersebut memang diperlukan dan memberikan nilai tambah bagi produk. Contoh dari proses ini adalah memasang komponen kemudian mengencangkannya.

Business Value Added  (BVA) proses tambahan yang tidak menghasilkan nilai tambah tetapi diperlukan dalam proses produksi, misalnya menginput data.

Non-Value Added (NVA) berarti proses-proses yang tidak memberikan nilai tambah bagi produk seperti berjalan, mengambil komponen, memutar dll.

Setelah komponen NVA teridentifikasi  maka akan dilakukan rekayasa untuk menguranginya. Tergantung dari penyebabnya, rekasaya tersebut bisa dilakukan pada desain produk ataupun fasilitas produksi.