Urgensi pengembangan industri manufaktur Indonesia

Kita tidak bisa selamanya mengandalkan ekspor (obral) bahan mentah/dasar sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Bahan dasar/mentah tersebut ada yang bisa diperbarui, misalnya produk-produk pertanian, perkebunan dan kehutanan, dan ada yang tidak bisa diperbarui seperti batubara, minyak, gas dan mineral.

Ekspor bahan mentah/dasar hanya memberi sedikit nilai ekonomis, menyerap lebih sedikit tenaga kerja, dan membutuhkan industri pendukung yang lebih sedikit. Jika ditelaah lebih jauh, kelemahan atau ketiadaan industri hilir dari bahan mentah/dasar mengurangi kedaulatan eknomi suatu negara.

Kita ambil contoh industri CPO. Seandainya CPO tersebut diolah lebih lanjut menjadi minyak goreng, margarin, bahan dasar kosmetik, biofuel dll bukankah akan memberikan efek ekonomis yang lebih besar? Akan ada permintaan tenaga kerja untuk industri pengolahannya, akan ada permintaan mesin-mesin pengolahan dan peralatan pendukung, akan ada permintaan kemasan dan juga bahan-bahan pendukung dalam pengolahannya.

Dari sekelumit contoh di atas nyata sekali bahwa kita sangat membutuhkan hilirisasi industri. Termasuk hilirisasi pada industri tambang mineral setelah sekian puluh tahun kita hanya melakukan ekspor bijih mineral. Pelarangan ekspor bijih dan pembangunan industri smelting beberapa waktu lalu adalah dalam rangka semangat tersebut.

Lebih jauh lagi kita harus memperkuat industri manufaktur karena industri inilah yang memberikan nilai ekonomis atau nilai tambah tertinggi bagi bahan mentah/dasar. Negara-negara maju yang memimpin pertumbuhan dan pergerakan ekonomi dunia adalah mereka yang kuat industri manufakturnya.

Produk dan nilai tambah

Produk dan nilai tambah*

Contoh gampangnya, 1 kilogram besi baja hanya bernilai beberapa ribu rupiah ketika dalam bentuk lembaran atau batangan akan tetapi nilainya akan menjadi berlipat-lipat setelah menjadi sebuah mobil. Contoh lain, 1 meter kubik kayu jati yang sudah terpotong rapi nilainya hanya beberapa juta saja akan tetapi ketika ia menjadi sebuah kursi atau meja nilainya akan menjadi beberapa kali lipat apalagi jika ia berlabel IKEA.

Penguatan dan pengembangan industri manufaktur produk jadi adalah keniscayaan dan kebutuhan yang sangat mendesak bagi bangsa ini. Apakah kita akan selamanya menjadi pengekspor bahan mentah sementara nilai pertambahan ekonomis dari bahan-bahan tersebut selalu dinikmati negara lain?

Setelah bahan-bahan mineral tidak ada lagi yang bisa dikeruk dari perut bumi Indonesia sementara kita belum bisa membuat apa-apa (belum memiliki industri manufaktur yang kuat) apakah kita akan menjadi pengemis?

*Sumber: Susanto, Ir. MSc., Pengantar Desain Produk (Modul A01), Magister Teknik Mesin, Fakulstas Teknik Universitas Pancasila, Jakarta